[Movie Review] The Hobbit: The Desolation of Smaug
Bagi gue, butuh perjuangan untuk menulis review ini. Sorry, bukannya lebay, tapi film kali ini benar-benar di luar ekspektasi gue sebagai pembaca buku. For your information, film ini adalah adaptasi dari novel The Hobbit karya J. R. R. Tolkien. Novelnya sendiri cuma satu buku, tapi dibuat menjadi tiga film (ini adalah film kedua). Gue bukan tipe yang mengharapkan kalau film adaptasi itu harus sama persis dengan bukunya. Namanya buku dan film, medianya udah beda, yang satu lewat tulisan dan satu lagi lewat visual. Tapi, jangan juga filmnya menghilangkan esensi cerita bukunya sehingga tidak lagi menjadi karya adaptasi, tapi malah seperti fan fiction. Well, untuk kali ini, gue akan mengulas film sebagai film saja. Titik. Gue berusaha tidak menghubung-hubungkan dengan bukunya alias “melupakan” kalau ini film adaptasi. So, cukup sekian intermesonya.
Film ini merupakan lanjutan dari The Hobbit: An Unexpected Journey (2012). Masih berkisah tentang petualangan seorang Hobbit asal Shire, Bilbo Baggins (Martin Freeman) membantu 13 Dwarf dan Gandalf the Grey (Ian McKellen) untuk merebut harta karun di Lonely Mountain dari sang naga, Smaug. Petualangan mereka kali ini semakin banyak rintangan. Mulai dari dikejar gerombolan Orc, tersesat di hutan Mirkwood, diserang kawanan laba-laba raksasa, ditawan oleh kaum Elf hutan, kabur lewat sungai dengan gentong, membuat keributan di Laketown, sampai bertarung melawan naga di Erebor. Paralel dengan itu semua, sang penyihir Gandalf berusaha melawan kekuatan jahat di Dol Guldur. Dari awal sampai akhir penuh aksi dan ketegangan. Seru!
Sebagai film fantasi yang penuh petualangan dan aksi, film ini sukses banget. Banyak scene pertarungan yang disajikan dengan ciamik sehingga penonton ikut merasa tegang dan menahan napas ketika menyaksikannya. Sabetan pedang, lepasan anak panah, tancapan pisau, dan senjata lainnya mewarnai film ini. Namun, itu semua tidak menjadikan film ini penuh darah karena fokusnya memang ada pada aksi pertarungannya. Salah satu adegan aksi yang epik yaitu saat Bilbo dan para Dwarf yang masih ada dalam gentong di arus sungai harus melawan gerombolan Orc yang mencoba mengadang dari sisi sungai. Dan, tentu saja aksi di aula besar penuh harta karun di Erebor tidak boleh dilewatkan. Scene pertarungan di sana cukup heroik. Terlihat bagaimana Thorin (Richard Armitage), pemimpin para Dwarf serta Bilbo, melawan si naga Smaug dengan segala cara. Penuh api!
Tidak hanya itu, Gandalf yang berpisah dari rombongan Bilbo dan para Dwarf ke Dol Guldur, juga mengalami pertarungan dengan para Orc dan Necromencer. Gue nggak mau spoiler, tapi Necromencer ini ternyata sosok yang penting dalam trilogi The Lord of the Rings. Yang udah nonton trilogi itu mungkin bisa sadar siapa sebenarnya sosok jahat ini. FYI lagi, The Hobbit adalah prekuel dari trilogi epik The Lord of the Rings. Di sini diceritakan bagaimana One Ring muncul dan perannya yang penting dalam tiga film The Lord of the Rings.
Selain itu, penonton juga dimanjakan dengan pemandangan alam Selandia Baru yang indah dan memesona yang dijadikan setting Middle-earth. Tak hanya itu, tingkah dan gimmick Bilbo yang lucu dalam beberapa adegan membuat penonton tertawa. Terus, buat para cewek, pasti dimanjakan oleh banyaknya aktor ganteng yang berseliweran. Sebut saja Legolas (Orlando Bloom), Thranduil (Lee Pace), Kili (Aidan Turner), Fili (Dean O’Gorman), dan Bard (Luke Evans). Buat para cowok, ada Tauriel (Evangeline Lilly), sosok Elf cantik berambut merah yang jago memanah. Tauriel ini tokoh yang diciptakan khusus untuk film dan tidak ada di buku. Kehadiran karakter ini banyak diprotes oleh fans Tolkien.
Semua aktor dan aktris bermain bagus di sini. Mereka semua berhasil membangun atmofer ketegangan dan penuh aksi dari awal sampai akhir. Bahkan untuk Smaug dan Necromencer (Benedict Cumberbatch) yang “berakting” lewat suaranya. Ben sukses menghidupkan tokoh naga Smaug yang bengis dan Necromencer yang menyeramkan lewat suaranya. Keren! Lalu, penonton juga akan disuguhi dialog bahasa Sindarin (bahasa Elf) dan Black Speech (bahasa Orc). Sumpah, awsome banget deh.
Menurut gue, yang agak mengganjal dari film ini adalah scene kisah cinta segitiga antara Legolas-Tauriel-Kili. Entah kenapa porsinya malah cukup dominan dan terlalu cheesy. Untungnya, hal ini terampuni oleh banyak adegan penuh aksi dan tentu saja efek visual yang yahud. Sekali lagi, film ini bagus sebagai film. Harus ditonton karena penonton nggak bakal kecewa dan pasti terhibur. Cuma, kalau gue mengulas dengan menghubungkan dengan bukunya, review ini pasti jadi sangat panjang. Kenapa? Karena seperti yang gue sebut di awal, film ini sebenarnya sangat jauh dari ekspektasi gue, sebagai pembaca yang sudah membaca novel dan komiknya. Sebagai penggemar Tolkien, gue pun mencoba tidak memprotes sang sutradara film ini, Peter Jackson, yang menurut gue kurang bisa mengadaptasi esensi dan aspek-aspek penting di buku ke film. Well, tapi gue yakin ini udah yang terbaik. He is a great director dan gue suka film ini (again, hanya sebagai film semata, bukan adaptasi). So, silakan datang ke bioskop dan mengikuti petualangan Bilbo dan para Dwarf! (gue aja udah ke bioskop dua kali untuk nonton film ini. :D)