BANYAK MAU
Aku mencari jawaban akan segala pertanyaan yang muncul tiba tiba saja di dalam benakku. Ketika liur mulai menyatu dengan asap fatamorgana kelu. Mengucap romannya yang pucat pasi tidak dapat dihindari oleh kelabunya debu rindu. Ada duka duka yang mendupa, ada lini lini yang selalu ingin kutenggelami dasarnya, ada pula lencana yang gagal di benakkan sejalan dengan kadaluarsanya renca rencana. Hidup ini memang layaknya rembulan yang hadirnya menyinari kegelapan lalu ia akan memudar sendirinya dikalahkan oleh angin pagi, dikalahkan oleh embun. Bagaimana bisa rindu dapat melabuh sejauh itu tetapi kau biarkan tenggelam?.
Aku bersusah payah membiarkan luka luka ini tetap kusematkan harap akan kesembuhan. Kusematkan doa yang lagi lagi atas namamu. Hingga busuknya kau sama sekali tidak menemuinya untuk mengucap salam dan mengecup rindu. Aku mencoba bertahan terus berjalan dengan luka yang kugenggan, sembunyi tangan. Tetapi kali ini bolehkan aku menyerah?. Aku melihatmu tidak menginginkan hal yang sama lagi seperti pertama kali aku melihat teduh kedalam matamu. Mungkin aku akan kehilanganmu selamanya. Membiarkanmu berhenti di muara yang lain. Tetapi sebenarnya kau yang kehilangan. Kamu kehilangan aku yang tabah, selalu mencintaimu disaat saat tertawa dan tercacarmu. Tidak akan pernah kau dapatkan lagi. Cinta yang pernah kupersembahkan, sebagai upeti air garam yang tidak pernah terkecap dalam jiwamu yang semu dan banyak mau.










