Di Antara Kaisar dan Semangkuk Soto Betawi
Semangkuk Soto Betawi mengepul di atas meja yang membelah jarak di antara keduanya. Yang satu hidungnya memerah, sebab habis menangis. Yang satunya lagi, yang laki-laki, hanya tersenyum sambil memandang kagum. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Perempuan itu akan tahu, ini adalah isyarat bahwa ia siap untuk mendengarkan. Di antara senggukannya, Btari mencoba berbicara terbata, “Aku kesal. Kesal banget. Aku--” lalu ia menangis lagi. Uap dari mangkuk soto masih mengarak, seakan membawa pergi air matanya. “Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput,” Kaisar mulai bersuara, mengisi jeda di antara isak tangis Btari dan sayup-sayup suara pengamen di depan kasir. Btari tercenung, lebih ke tidak mengerti akan maksud kalimat itu. Kaisar meneruskan, “Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini.” tangannya mulai menggapai sendok sambal dan menyendoki mangkuk soto itu dengan sambal, dua kali. Ia kemudian mengerling, “Ada yang masih ingin ku pandang. Yang selama ini senantiasa luput.” Tangannya mulai mengaduk kuah soto. Dicicipinya sedikit, lalu mengangguk mantap. Sudah sangat pas. Ia menggeser mangkuk soto lebih dekat ke tangan Btari. Matanya mengisyaratkan Btari untuk mulai makan. “Itu apa?” tanya Btari, masih sambil sesenggukan. “Loh, soto ini.” “Bukan, yang tadi kamu bilang.” Kaisar nyengir, “Itu puisi. Sapardi Djoko Damono. Favorit.” Btari tidak bereaksi. Hanya manggut-manggut. Ia mulai meraih sotonya, mengecapnya pelan-pelan. Dalam hati, ia sempat merasa tersanjung. “Kaisar, kenapa kamu suka nulis?” Pertanyaan itu mendahului niatan Kaisar yang hendak bertanya Kenapa kamu nangis? Tapi ternyata ia diselamatkan. Sebab sepertinya ini bukan waktu yang tepat. “Karena aku hidup di antara kata-kata. Dunia tidak bisa menyembunyikan aku. Tapi tulisanku bisa. Di balik tulisanku, aku menjadi diriku sendiri. Hehe, Bi... Aku tidak takut dengan tulisanku, karena mereka nggak akan menjudge aku karena menjadi diriku sendiri. Dan aku juga ingin dunia membaik lewat tulisanku. Eh, do I speak too much?” “Nope,” Btari menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Sudah mulai lupa dengan air-air yang sebelumnya membanjir di pelupuk mata. “Maksudnya membuat dunia lebih baik?” “Sedari dulu kan kita diajarkan untuk memiliki. Termasuk sejarah. Makanya aku nggak pernah suka sama pelajaran sejarah. Aku merasa, aku diajarkan untuk merebut. Merebut tanah, merebut kerajaan, semua berbicara tentang kemenangan yang belum tentu benar--” “Kaisar, hati-hati loh, yang lagi kamu bicarakan itu adalah pahlawan-pahlawan. Yang mempertaruhkan diri atas nama Indonesia.” Laki-laki itu nyengir, “Tidak suka peperangan kan bukan berarti tidak nasionalis, Bi. Toh aku tetap mencintai Indonesia dengan caraku sendiri. Caraku ya menulis. Aku menangkap pelajaran sejarah sebagai pembelajaran, bahwa peperangan tidak boleh ada lagi. Aku belajar, bahwa merebutkan kekuasaan harus tinggal sebagai cerita saja. Dunia ini Bi, sudah terlalu banyak kompetisi. Cukup mereka saja, aku enggak.” Lagi-lagi, Btari tidak bereaksi. Ia kembali manggut-manggut menanggapi hal-hal yang terlalu rumit. Biasanya, Kaisar ada untuk membantunya menghadapi masalah-masalah rumit. Kali ini, Kaisar sendiri yang menawarkan kata-kata rumit. Nanti, ia akan minta untuk dibantu dijelaskan. Tapi tidak sekarang. “Menurutku, Kai, tidak apa-apa memperjuangkan apa yang menurut kita benar. Kan kita hidup tidak untuk melulu mengalah.” “Kan mengalah bukan berarti kalah. Aku ingat kata-kata bagus yang kubaca. Kalau nggak salah milik Gus Mus. Katanya, kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar.” Kaisar memberi jeda sesaat, “Kira-kira suatu hari nanti aku dikutuk nggak ya? Karena terlalu takabur. Hidupku terlalu tidak mau tahu ya? Dan menggampangkan. Tapi gimana dong? Menurutku, nggak ada alasan untuk membuat hidup jadi susah. Asalkan bersyukur.” Kali ini Btari bereaksi, sebuah cekikikan halus. “Kamu lebih bijak dari guru agamaku. Jangan-jangan cita-citamu jadi Ustadz?” “Apa aja, asal membuat dunia lebih baik. Pasti semakin pusing ya? Aku ngomong ngelantur.” “Nggak, aku suka. Bikin pusing, jadi lupa sama masalahku sendiri. Hehehe...” “Bi, aku sangat menyayangkan kalau kamu bersedih-sedih cuma karena laki-laki. Jangan, ya." Pesan itu membuat Btari tersenyum semu, "Bener kata Kunyi. Kamu itu amat kontradiktif. Padahal baru aja kamu bikin aku sedih, Kai. Karena kamu membuat Kunyi sedih. Juga membuat aku sedih." "Karena?" "Karena kamu nggak mau sembuh." "Aku bukan nggak mau sembuh. Aku nggak mau menyulitkan hidup orang lain dengan memikirkan aku, Bi. Apalagi Kunyi yang hobinya merumit-rumitkan hidupnya. Apalagi kamu yang--" Tangis Btari pecah lagi. Tiba-tiba ia tak lagi tertarik pada soto yang tinggal setengah mangkuk. Padahal dagingnya masih banyak. Pengamen masih meneriakkan nadanya. Gitarnya sedikit sumbang, tapi anehnya cukup seirama dengan sahut-sahutan pegawai warung soto. Juga suara laju mobil dan klakson yang bersahutan. Di depannya, Btari kembali mendung. Kaisar teringat celetukan Kunyi dua tahun yang lalu, yang bercerita tentang seorang sahabat baru yang seperti kakak perempuan sendiri. Saat itu Kaisar begitu cemburu karena Kunyi menemukan tempat berpulang yang lain. Saat ini, Kaisar begitu cemburu karena Kunyi mendapatkan perhatian besar Btari. "Oh iya aku belum selesai tadi." "Apanya?" Btari bertanya dengan hidung yang kembali memerah. Bulu matanya menebal karena air mata membuatnya rapat-rapat. "Sesaat adalah abadi. Sebelum kau sapu taman setiap pagi." Kaisar tersenyum setelahnya, "Puisinya. Jangan nangis karena laki-laki. Terutama karena aku." Btari menghela napasnya, sedikit berat. Bermain bersama Kaisar dan Kunyi selalu membuat otaknya bekerja lebih keras untuk dapat berputar cepat bagai gangsing. "Yuk, ah. Aku pusing lama-lama." "Jangan pusing, Bi. Bersyukur selalu. Bersyukur hari ini kita masih makan soto walau cuma dihabiskan setengah." Kaisar nyengir. Mereka berjalan menuju parkiran motor yang memadat. Tukang parkir membiarkan dengan melambaikan tangan, sebab mereka adalah pelanggan tetap. Kali ini minus Kunyi. "Kapan-kapan aku ajak ke Rinjani, ya. Kalau mau." Di saat motor melaju, kata-kata Kaisar begitu senyap disapu angin. Btari tak yakin untuk menjawab, sebab ia terlalu takut kecepatan mengaburkan kata-kata. Tapi ia tersenyum. Ia bersyukur Kaisar masih menemaninya makan soto betawi, meski tersisa setengah mangkuk.





