IDEALISME
ini adalah ceritaku sebagai mahasiswa FPIK IPB.....
Pemuda adalah sebuah fase dalam kehidupan manusia yang dapat membuat yang sulit menjadi mudah dan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bukan melihat usia, tapi semangatnya. Sebagai mahasiswa tentu saja seharusnya kita menjunjung tinggi sebuah prinsip yaitu idealisme. Saat-saat inilah pemuda dituntut untuk kuat dan semangat. Segala hal yang diperbuat harus berdasarkan kebenaran, segalanya adalah tentang kebaikan bersama.
Hal yang juga harus mulai dipikirkan saat menjadi mahasiswa adalah bagaimana masa depannya, keluarganya, bangsanya, agamanya, dan juga seluruh makhluk hidup di dalam dunia. Itulah idealisme, semuanya harus ideal. Saya meyakini bahwa tidak ada hal baik yang akan terjadi jika cara yang dilakukan untuk mencapainya adalah sebuah kekeliruan. Bagaimana cara tahu apakah hal tersebut benar atau salah? Coba pikirkan dan rasakan hal tersebut, jika hatimu bimbang dan ragu serta merasa malu saat melakukannya, itu adalah hal yang salah.
Baiklah, cukup basa-basinya, sekarang masuk dalam intinya. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang melaksanakan tugas-tugas eksekutif seperti melaksanakan kegiatan, program kerja, dll. Tentu saja sebagai sebuah organisasi yang semacam itu, setiap yang dilakukan harus penuh pertimbangan karena dampaknya akan mengenai banyak pihak. Dari BEM akan banyak dilahirkan pemimpin-pemimpin masa depan. Apabila organisasi ini melegalkan hal yang salah kepada anggotanya, itu akan menjadi bibit kesalahan menakutkan di masa depan. Kita ambil contoh saja jika BEM mengajarkan kita untuk membuat proposal kegiatan dengan anggaran yang dibuat-buat untuk mendapat dana lebih. Hal tersebut juga melatih pelakunya untuk melakukan hal serupa saat di pemerintahan, perusahaan, ataupun masyarakatnya, yaitu KORUPSI. Sejak di SMA kelas 10 saya sudah memikirkan hal tersebut yang saat itu terjadi di OSIS saya.
Selanjutnya adalah tentang bagaimana itu nepotisme. BEM lagi-lagi menjadi ladang pemuda untuk melatih keburukan itu. Oke, tidak hanya BEM, yang saya tahu, organisasi maupun kepanitiaan di IPB banyak menerapkan kebobrokan itu. Nepotisme di kampus rakyat ini banyak disebut dengan nama Close Reqruitment (CR). Banyak mahasiswa yang akan masuk organisasi atau kepanitiaan hanya dengan menunggu dan ditunjuk, tanpa perlu melakukan berbagai macam persyaratan yang sulit. Tentu ini merupakan sebuah praktik nepotisme. Sangat tidak adil! Pernah saya mendengar sebuah kisah dimana saat itu ada seorang mahasiswa dengan kemampuan mumpuni yang melakukan seleksi untuk masuk organisasi. Namun, mahasiswa itu digantikan oleh mahasiswa yang bahkan tidak lebih baik darinya. Hal tersebut hanya karena sang ketua mengenal orang tersebut. Sangat tidak adil, bukan? Sekarang bayangkan di negeri ini, bagaimana mungkin dengan 250 juta manusia, pemerintahan masih se-tidak ideal ini. Ya hal tersebut memang diajarkan kepada pemudanya dengan dalih “kita butuh orang nih” , “dia bagus kok, gua kenal dia” , dan lain sebagainya. Sehingga, beginilah nasib bangsa ini, banyak potensi bagus yang justru tidak mendapatkan posisi strategis karena ‘tidak dikenal bosnya’. Begitulah terus sampai pemuda potensial yang melimpah ini memutuskan pergi dari negeri ini dengan meninggalkan masyarakat lemah yang tidak tahu-menahu tentang apa yang harus dilakukan dengan pemerintah GILAnya itu. Ingat! BEM turut bertanggung jawab atas terbentuknya karakter pemimpin yang begitu jika tidak segera dibenahi.
Masalah integritas, BEM yang berintegritas harus berisikan mahasiswa dengan komposisi lebih banyak mahasiswa berintegritasnya juga. Integritas adalah ketika dia berbicara akan melakukan sesuatu, dia benar-benar melakukannya. Apa yang diucapkannya adalah kebenaran sehingga dapat dipercaya. Tentu saja pemimpin menjadi sebuah peran yang paling penting dalam menjaga integritas BEM. Pemimpin yang berintegritas tentu tidak akan ‘menghilang’ atau melepas kewajibannya, bahkan konfirmasi pun tidak. Pemimpin adalah yang harus sangat terjaga integritasnya, dia harus dapat memprioritaskan organisasinya. Dia akan berhati-hati dalam membuat keputusan, janji, bahkan ucapan biasa. Karena tiap kata yang manusia keluarkan adalah janji. Tentu saja karakter ini perlu ditanamkan dengan serius kepada anggotanya. Sehingga pemimpin harus kuat dan berprinsip teguh dengan mempertahankan idealismenya yang sebenar-benarnya ideal. Pemimpinnya harus merangkul anggotanya untuk menjaga komunikasi dan perilaku anggotanya. Integritas BEM tentu sangat ditentukan oleh siapa Ketuanya.
Mahasiswa terkenal dengan sikap kritisnya terhadap segala yang terjadi. Hal yang melemahkan itu adalah kesibukannya sendiri. Semakin mahasiswa itu sibuk, semakin banyak mahasiswa itu memikirkan hal kesibukannya. Saat mahasiswa memikirkan bahwa dia sibuk, maka otomatis dia akan berpikir dan hanya berpikir tapa peduli sekitarnya. Ini adalah hal kunci yang juga ingin saya tekankan kepada mahasiswa FPIK. Ketika kita berpikir kita sibuk, kita pikir kita lebih sibuk dari fakultas lain. Sudahkan kita tabayyun? Sudahkah kita kroscek kebenarannya? Apa kalian pernah merasakan kesibukan di fakultas lain? Atau semua keyakinan itu hanyalah sebuah paradigma yang sukses dibentuk oleh senior kita? Saya merasa bahwa hal tersebut hanyalah sebuah paradigma. Karena masih ada, meskipun tidak banyak mahasiswa yang dapat melejit di FPIK, tidak seperti mahasiswa yang berpikir dia sibuk lainnya, dia lebih membayangkan bagaimana kesibukan orang-orang yang sudah bekerja di luar sana. Pasti jauh lebih menyita waktu daripada hanya sekedar mengerjakan laporan dan turun lapang (fieldtrip). Kenapa kalian berpikir kalian paling sibuk melebihi fakultas lain? Tidakkah kalian ingin maju seperti mereka yang sering muncul di berita kampus karena prestasinya? Hentikan membatasi potensi diri kalian sendiri dengan memikirkan kesibukan yang tiada hentinya. Inovasi kita dibutuhkan oleh para nelayan, partisipasi kita dibutuhkan warga sekitar kost kita, dan mimpi kita dibutuhkan oleh bangsa ini!














