Indonesia Yang Mencintai Lautnya
Indonesia, sebuah negeri yang terkenal dengan melimpahnya sumber daya alam yang begitu indah. Sebuah negara yang menempati urutan kedua dalam aspek keanekaragaman hayati tertinggi di dunia setelah Brazil. Wajar rasanya jika Indonesia menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat dunia, utamanya dalam hal keindahan alam. Sebut saja Bali, Raja Ampat, Bunaken, Wakatobi, Bromo, Semeru, Jaya Wijaya, hingga Pulau Komodo yang menjadi salah satu keajaiban dunia pada awal tahun 2012. Semua hal tersebut tidak lain adalah berkat luar biasanya alam Indonesia.
Selain indahnya alam, Indonesia juga dinilai menarik karena banyaknya kebudayaan di dalamnya. Berapa contohnya adalah tempat wisata Candi Borobudur di Magelang dan Pulau Dewata Bali. Banyak daerah di Indonesia juga sering didatangi wisatawan asing maupun domestik karena budayanya, yaitu selalu menjadi orang ramah.
Beruntung pula rasanya dengan adanya program pemerintah untuk meningkatkan potensi wisatanya dengan Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia. Pesona Indonesia sendiri dibentuk dalam bentuk komunitas GenPI (Generasi Pesona Indonesia) dan dikukuhkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun 2015 lalu. Hal tersebut benar-benar meningkatkan kekuatan wisata Indonesia di zaman yang serba digital ini.
Laut juga sebagai salah satu potensi besar di Indonesia, turut ambil peran besar dalam perkembangan negara. Tentu saja selain karena laut memiliki proporsi 2/3 luas Indonesia, juga karena laut di daerah tropis seperti Indonesia sangat penuh potensi. Mulai dari keanekaragamannya yang nomor satu dunia, keindahan terumbu karangnya yang terdapat Coral Triangle Initiative di dalamnya, hingga budaya-budaya nelayan seperti di Lamalera dan Halmahera.
Pemerintah saat ini juga turut menyadari pentingnya laut bagi Indonesia. Terlihat dari pidato fenomenal Presiden Republik Indonesia saat ini, Ir. Joko Widodo yang mengatakan Indonesia harus kembali menjadi Jalesveva jayamahe yang maknanya harus jaya di laut. Begitu juga dengan dibentuknya Kementerian Koordinaror Kemaritiman. Hal ini menunjukkan Indonesia sudah mulai serius dalam memanfaatkan lautnya. Kampanye gemar makan ikan jua terus digalakkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Tentu selain gencarnya penenggelaman kapal ‘maling’ di laut Indonesia.
Saya, seorang pemuda yang lahir dan besar di daerah pesisir di Probolinggo, pergi merantau ke Bogor untuk belajar di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, merasa semakin mantap untuk menekuni bidang ini. Diterima kuliah tepat di pilihan pertama saya, menjadikan saya yakin bahwa saya bisa meneruskan perjuangan nenek moyang kita yang ‘seorang pelaut’. Saya siap menjadi seorang yang dapat ‘berdiri di atas laut’.
Namun, ada sebuah kenyataan pahit yang tidak banyak dilihat oleh orang banyak. Ya, Indonesia kita menempati posisi kedua lagi, tapi untuk penyumbang sampah terbesar di dunia, tepat di bawah Cina. Indonesia menyumbang sampah sebesar 187,2 juta ton sampah setiap tahun.
Memang secara kebijakan perikanan dan potensi wisata sudah baik. Namun dalam menjaga kelestarian lingkungannya belum. Semua yang sudah baik tersebut akan rusak jika lautnya rusak karena sampah. Zat racun yang dihasilkan sangat membahayakan biota air. Logam berat, mikro plastik, dll. Banyak juga terlihat dalam beberapa berita yang menunjukkan isi perut ikan, penyu, hingga buntung laut yang di dalam perutnya berisi sampah dan mati karenanya. Banyak kecacatan fisik biota karena sampah.
Perlu diketahui juga bahwa dampak negatif tersebut tidak hanya mengena pada biota di laut, tapi juga manusia. Bagaimana dampak manusia yang mengonsumsi makanan yang mengandung logam berat dan zat-zat beracun lainnya. Bagaimana manusia mengahadapi kelangkaan ikan karena kehabisan habitat yang baik untuk hidup, bukan karena overfishing. Tentu dampaknya akan kemana-mana.
Kekurangan tersebut membawa saya untuk andil dalam menanganinya. Selain kegiatan sosial yang saya lakukan, kegiatan mempromosikan ‘laut itu indah’ dan jangan membuang sampah sembarangan juga saya lakukan. Meskipun saat ini skalanya masih kecil. Saya juga mengikuti perlombaan tentang menangani sampah di sungai. In syaa Allahsaya juga akan mengambil penelitian skripsi tentang potensi wisata Hiu Paus dan dampak lingkungan terhadapnya.
Meskipun yang saya lakukan masih dalam skala kecil, tapi saya yakin untuk terus membuat Indonesia mencintai lautnya. Saya hanya mengajarkan anak-anak kecil untuk tidak membuang sampah sembarangan dan kerap mengunggah foto tentang indahnya laut. Saya mengunggah di WA atau Instagram tentang keindahan laut. Berharap semoga siapapun yang melihat akan merasa senang juga kepada laut. Saya juga tengah mengikuti sebuah komunitas baru tentang fotografi di bidang perikanan dan kelautan yang dibentuk akhir 2017 oleh kawan-kawan sejurusan di kampus. Saya yakin, bahwa untuk melangkah sejauh jutaan kilometer harus dimulai dengan satu langkah.
Menghargai sekecil apapun usaha seseorang merupakan sebuah hal yang saya terapkan, meskipun tidak selalu terucap. Begitu pula atas yang saya lakukan, meskipun suatu hal sederhana, jika itu dapat mempengaruhi setidaknya 1 orang, itu sudah luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga akan terus berkembang dan memberi dampak positif yang lebih signifikan. Mengajar selama 3 pekan di salah satu SD di daerah yang cukup ‘tertinggal’ juga memberikan saya pelajaran tentang menghargai satu langkah kecil untuk perubahan besar.
Tempat tinggal saya, Probolinggo, menurut saya masih belum menemukan jati dirinya. Laut dan potensi wisatanya sangat tinggi namun belum dikelola dengan baik. Minimnya gerakan kepemudaan juga terjadi di kota ini. Hanya ada komunitas hobi seperti scatter, parkour, dll. Oleh karena itu, saya juga akan membentuk komunitas Kelas Inspirasi di Probolinggo, setelah saya lulus kuliah, sebelum saya melanjutkan S2. Saya ingin nelayan menjadi salah satu sosok yang menginspirasi anak-anak Probolinggo.
Zaman mendatang, langkah saya akan semakin jauh. Saya akan melanjutkan studi tentang ekosistem laut dan pesisir, terus mengajar anak-anak dan menanamkan nilai-nilai yang baik, dan saya akan menjadi Walikota Probolinggo dengan salah satu tujuannya adalah mengarahkan kota itu menjadi kota yang memaksimalkan lautnya, yang sejahtera karena lautnya, yang menjaga lautnya, yang mencintai lautnya. Berharap Probolinggo menjadi kota yang dewasa, yang telah menemukan jati dirinya.
Sumber gambar : dokumentasi pribadi
http://news.unpad.ac.id/?p=36173
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2011/11/111112_komodo7wondersfinally
https://sosokitu.com/2017/05/10/generasi-pesona-indonesia-atau-genpi/
http://www.coraltriangleinitiative.org/
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/07/setelah-cina-indonesia-tempati-posisi-kedua-penyumbang-sampah-terbesar-di-dunia