Cita-cita
Saya sendiri belum pernah mendaki gunung, apalagi sampai ke Puncak. Sebetulnya cita-cita ini sudah saya pendam sejak lama, tapi mungkin memang belum diberi restu oleh Allah. Secara fisik boleh jadi saya sanggup, tapi saya sadar kalau mental saya masih lemah. Saya belum cukup dewasa dan bijak untuk menjejak kaki di atas langit.
Ada beberapa gunung yang telah memikat hati saya sejak lama, dan menantang saya juga untuk menaklukannya. Merapi adalah salah satunya. Sejak pertama kali saya menjejak kaki di bumi Yogyakarta, saya langsung jatuh cinta dengannya. Gagah. Nampak tenang. Juga bijaksana. Tapi saya bisa melihat kalau amarahnya angkara murka. Baik raga, maupun nama, bagi saya dua-duanya sama-sama indah, sama-sama megah, sama-sama kuat. Bahkan dari jauh saja aura yang terpancar sudah membuat saya kagum, apalagi kalau saya bisa menapak tanah dan bebatuan di puncaknya? Membuat saya merinding.
Tengah malam ini, saya baru saja selesai membaca kisah mengenai evakuasi jenazah korban jatuh ke dalam kawah Merapi tahun 2015 silam yang ditulis sendiri oleh sang evakuator. Saya sendiri setuju dengan kutipan kalimat yang ada di dalam cerita tersebut, terlepas dari benar atau tidaknya kejadian yang dialami oleh sang penulis, terlepas dari masuk atau tidaknya cerita ini dapat diterima oleh akal sehat.
"Merapi kui dudu mung tumpukan watu karo lemah, Merapi kui rogo, rogo ki ono sukmane. Rawaten nak ora pengen ciloko. Sopo cidro bakal ciloko. Sopo sing tresno bakal oleh kamulyan..."
(Merapi itu bukan sekedar tumpukan batu dan tanah, Merapi itu raga, raga itu ada jiwanya. Rawatlah kalau tidak mau celaka. Siapa yang merusak akan celaka, siapa yang menyayangi akan mendapatkan kemuliaan...)
Dari banyak cerita yang sering saya dengar tentang Merapi dan gunung-gunung lainnya, ada banyak kisah yang kalau dipikir-pikir tidak masuk secara logika, tapi bisa jadi benar adanya, seperti kisah yang baru selesai saya baca ini. Kisah-kisah yang akrab dikaitkan dengan hal gaib dan mistis, kepercayaan dan religiusitas. Saya tidak tahu, bukan saya yang mengalaminya.
Meski begitu, tetap saja menurut saya baik dimanapun kita hidup, kita tidak boleh main-main dan bersikap semau kita sendiri. Kita hidup bersama, tidak hanya dengan sesama manusia, tapi juga alam. Oleh karena itu, kita harus saling menjaga toleransi dan rasa menghargai satu sama lain. Tidak hanya di puncak tertinggi di atas gunung, atau juga di dasar laut yang terdalam. Saat ini, di tempat kita berpijak, duduk, ataupun berbaring, sadar atau tidak, kita hidup bersama dengan makhluk lainnya. Bahkan tumbuhan yang kadang sering kita anggap 'mati', juga memiliki nyawa. Buktinya? Mereka bertumbuh, dan menua. Sama halnya seperti manusia.
Entahlah, saya memang bukan ahli dalam hal gunung-pergunungan, atau makhluk-permakhlukan, atau gaib-pergaiban. Saya hanya percaya kalau dalam hidup harus tetap menjaga kedamaian, dan rasa saling menghargai satu sama lain. Itu saja.
Sama seperti selama ini orang selalu menggadang-gadang, kalau cinta itu bukan lagi tidak harus memiliki. Atau, seperti filosofi hujan yang me-mainstream-kan si anti mainstream: "Jangan bilang kamu mencintai hujan, kalau kamu sendiri masih takut untuk menjadi basah karenanya...", kata mereka.
Saya tidak setuju.
Bagi saya, kalau memang kamu mencintanya, kamu tidak akan memaksakan ego-mu, termasuk untuk memilikinya. Kadang cinta juga bisa diungkapkan dengan cara yang paling sederhana tapi juga rumit untuk dilakukan: mengagumi dari jauh. Karena cinta yang sejati itu benar adanya, tidak harus memiliki. Setidaknya itu yang saya percayai. Old soul? Ya, memang, saya penganut aliran non-kekinian. Kaku. Konvensional. Sebutlah semua label itu untuk saya.
Saya hanya menjalani hidup dengan cara saya. Dengan cara yang menurut saya sederhana, tapi memiliki makna terdalam.
Saya kagum dengan Merapi, saya cinta dengan Merapi, tapi kalau kau bertanya dengan sinis apakah aku pernah mendakinya? apakah aku pernah menaklukkan sukmanya? Saya dengan tersenyum mungkin hanya akan menjawab, "Belum." Karena aku 'mencintainya' tanpa harus 'memilikinya'. (caaaeeelaaaaahhhh sa ae lu tam, hahaha :)))))))
Yogyakarta, Jumat, 13 April 2018 diselesaikan pada pukul 01.30 pagi







