“Apa yang kamu baca dari blogku?” Aku tidak bertele-tele saat aku menghampiri Iyon yang belum menyentuh makan siangnya. “Mana makan siangmu?” tanyaku, begitu aku menemukan hanya ada secangkir kopi yang ia peluk dengan jari-jarinya.
Aku duduk di atas kursi tinggi pantry di sebelah Iyon dan membuka tupperwareku yang menyeruakkan harum hangat nasi merah ke ruangan. Makanan favoritku.
“Maaf aku nggak bisa nemenin kamu ke undangan itu.” ucap Iyon pelan. Kemudian matanya yang bundar itu mencari celah masuk ke dalam mataku. Sementara aku mengumbarkan pandangan ke dalam bekal, sambil sibuk mengunyah. Tiba-tiba, badan Iyon ambruk ke sisi tubuhku. Lengan yang kekar mengelilingi lebar tubuhku. Aku menahan nafas malu.
Iyon makin memelukku erat.
“Aku tahu kok sedihnya ditinggal mantan nikah. Apalagi kalo kamu harus datang ke acaranya.”
Aku menghela nafas dalam, kemudian menggunakan tenaga dari hembusan nafas untuk menggeser tendonnya yang besar dan kekar. “Yon, udah deh. Dipta itu cuma pacar sesaat doang jaman aku kuliah. Udah lupa gimana rasanya sama dia.”
Iyon mengernyitkan dahinya. “Udah lupa? Beneran? Tiga kali lebaran tiap kali kita ketemuan yang kamu bicarain itu Dipta, Dipta, Dipta.”
“Ya, itukan dulu, yon.” Ujarku sambil menusuk tahu bacem dengan garpu sedalam-dalam dari yang diperlukan.
“Oh, India. The right man is just around the corner.”
Aku meletakkan garpu kembali ke atas meja. Mungkin kata yang lebih tepat adalah menghempaskan. Karena garpu stainless steel itu terjedut, berputar-putar di meja sebelum akhirnya terkuliai dan berdenting menyentuh permukaan marbel.
“Oh, right he is... sudah berapa lama setelah Dipta? Oh ya. Lima tahun.”
“Ya, karena kamu kerjaannya nunggu dan nggak pernah nyari.” Iyon membalas dengan nada geram di suaranya, jari-jari tangannya membuka ke udara seakan-akan mencengkram sepasang buah dada wanita yang tidak bisa aku lihat.
“You have never put yourself out there. Kamu nggak pernah tebar pesona.”
“Oh, ya. Aku nggak percaya dengan tebar pesona. That’s what you do. Pacaran paling lama aja 3 bulan. Aku ini perempuan, mencari kualitas bukan kuantitas.”
Iyon menganga. “Ouch,” ia menancapkan kepalan tangan di dadanya. “Ouch. buat semua populasi pria. Oh, ya aku ngerti, semua perempuan itu bisanya nunggu dan nggak mau memulai langkah duluan karena gengsinya besar. Karena mereka dididik sebagai princess.”
Sekarang giliran aku yang membelalakan mata dan membuka rahangku. “Hei!” hardikku. “Itu nggak benar.”
“Ya. Aku nggak dididik jadi princess. Aku dididik sebagai anak sulung yang tahan banting. Dari kecil makan ambil sendiri, sekarang juga masak sendiri. Pergi kemana-mana naik transportasi umum. Nggak pernah minta jemput. Please, deh.”
“Oke, kalo gitu... Miss Independent.” Iyon merogoh sesuatu dari sakunya yang nampak begitu dalam. Aku pun terheran-heran dan bertanya-tanya dalam hati, apa yang hendak ia lakukan. Ia menyodokan iPhone-nya ke arahku. “Aku ada teman namanya Reza...”
“Oh, not again.” Aku menguburkan wajahku ke atas meja.
Iyon tersentak. “Loh, kok lesu gitu?”
“Siapa lagi, Yon? Cowok dari populasi urban mana lagi yang mau kamu pasangin sama aku?”
“You have only been into 2 dates with my friends. Kamu itu baru keluar 2 kali sama temenku. Dan dua-dua kencan itu nggak berakhir dengan bahkan ciuman. Dan apa maksud kamu, “populasi urban”?”
“Aku ada masalah dengan populasi urban jaman sekarang.”
Iyon mengernyit. Sepertinya ia ingin bertanya, “Apa?” Hanya saja saking bingungnya berkata-kata, ia tidak sempat bersuara.
“Mereka mungkin adalah alasan kenapa aku nangis di belakang taksi sepulang dari pernikahan Dipta. Mereka itu materialistis... bukan orang yang membumi. Aku sendirian ke pernikahan itu dan bergabung dengan cewek-cewek berbulu mata palsu dan berkontak lens warna-warni yang ditinggal cowoknya di pojokkan sambil menghisap rokok elektrik. Kita nggak banyak ngobrol, tapi malah selfie. Populasi urban seperti itu maksudku. Yang bikin diriku ini aneh dan kecil. Aku sedih, bukan karena aku nggak ikhlas pada akhirnya Dipta menikah dengan perempuan pilihannya. For god’s sake, kita itu pacaran nggak lebih dari enam bulan. Aku udah sepenuhnya ikhlas. Lagipula, seintim-intimnya kita, kita cuma berani pegangan tangan. Ciuman aja nggak pernah...”
“What? Kamu nggak pernah ciu--”
Aku membuka telapak tangan di depan wajahnya. Mengisyaratkan aku belum selesai bercerita. “Mungkin ceritaku tentang Dipta secara tiga tahun berturut-turut itu didasari karena pandanganku terhadap cinta yang masih buta dan muda. Dipta itu ibarat Rangga. Hobinya menulis dan berpuisi. Aku pikir dulu soulmate adalah orang yang punya hobi dan kecintaan sama denganku. Ibarat kembaran yang hilang. Makanya aku terus-terusan bicara soal Dipta, karena dia itu ibarat filosofi yang aku percaya. Tapi lama-lama filosofi seperti itu bullshit. Cinta itu nggak cuma datang karena cocok. Jujur saja, aku nggak tahu kapan cinta itu datang, Yon.”
“Kamu nggak pernah ciuman?” Iyon nyaris memekik, terdengar tidak menggubris pernyataanku barusan . Aku melihat ke sekitar seperti waspada. “Yon, nggak harus teriak, ya.”
“Kamu harus telefon Reza. Sini mana hapemu,” Iyon memanjangkan tangan, hendak meraih Samsungku yang tergeletak di bahu meja.
“Nggak, Yon. Nggak. Aku nggak siap untuk kencan sama siapa-siapa.”
“Oh, terus apa? Nonton Spartacus tiap malam minggu, sambil menyentuh badan semalaman?”
“Hei!” Aku mengeplak kepala Iyon. “Aku nggak sekotor itu, lah. Tapi, kayaknya itu rencana weekend yang bagus. Aku bakal cari torrent Spartacus season 1 akhir minggu ini. Tolong jangan kasih kerjaan, ya.”
“In... aku nggak ngerti sama kamu. I do not understand what is the matter with you. Kadang kamu bisa kelihatan mandiri dan independen, badass girl. Tapi, kadang kamu kelihatan begini. You look like a wounded bird with clipped wings. India, aku mau menolong kamu.”
“I do not need to be saved, Yon. I am fine.”
Iyon mengatupkan rahangnya. “Oke, alright. Kamu emang India yang keras kepala. Aku tahu kok kamu lagi sedih. Aku cuma mau cari tahu apa yang bisa bikin kamu ketawa dan bercanda lagi. Karena belakangan ini, aku ngerasa I am losing the sassy you. Sisi sarkasmu berubah jadi sepenuhnya pahit. Kalo kamu baik-baik aja, kamu nggak bakal ngepost tulisan seperti itu kan.”
Aku berdecak. “Yon, ayo lah, tulisan itu se-kontroversi apa sih? It is not like I am killing somebody.”
Iyon mengeja pelan-pelan kepadaku. “You. Were. Crying. Inside. A. Goddamn. Cab. After you left an ex’s wedding... Terdengar seperti tragedi.”
“Yon, I am a drama queen when I write. Kamu harusnya tahu seperti apa aku ini.”
“Ya.” Iyon mengutip daguku. “Dan kamu naif. Kamu sedang kesal. Kamu nggak mau kelihat lemah, makanya kamu tutupi.”
Ku gelengkan kepala dan menjauhkan tangan Iyon dari wajahku. Aku takut orang-orang mendapati kami sambil melirik canggung. Apa mungkin Chief PR yang playboy ini tengah menggoda Head Editor yang kuper? Dan, aku benci karena Iyon selalu benar saat ia membacaku.
“Aku sudah kirim nomor Reza ke whatsapp-mu.” ujar Iyon secepat kilat, karena ia tahu aku bakal menyambar dan melempar ponselku ke wajahnya begitu aku bisa menangkap ucapannya itu.
“Seriously though, India. Jangan kebanyakan merenung. Nggak semua populasi urban itu dangkal seperti yang kamu kira. Aku menghisap Vape. Tapi aku juga doyan mariyuana dan bisa ngomong politik terus-terusan sama kamu dan rombongan teman kamu yang hobi nongkrong di TIM. Jangan stereotip orang, dan...” ia berhenti sejenak, untuk menanamkan kata-kata ini ke dalam hatiku. “Jangan stereotip dirimu juga.”
Aku mencerna kata-katanya sejenak kemudian menyahut lemah, “Oke.” aku kalah debat.
Iyon menyunggingkan senyum. Aku hanya bisa melihat bibir bagian bawahnya yang tebal, bibir bagian atasnya hilang karena begitu tipis. Kemudian ia membahuiku sehabis ia permisi kembali bekerja.
Iyon merasa menang. Aku melihat dari caranya melangkah saat ia kembali ke ruangannya. Agak jingkrak-jingkrakan Tapi, ia tidak tahu, kalau aku sama sekali tidak berniat menelefon Reza.