@bunnyblair
Yang bikin kamu benar-benar patah hati saat lagi patah hati adalah melihat sebagaimana besar ia mencintai orang barunya. Andrew tidak biasa mengumbar percakapan banyak di sosial media, kecuali tentang cerita petualangannya yang keren, seperti mengunjungi suku kecil di pedalaman hutan Sabah atau menaklukkan Gunung Kinabalu. Jarang sekali ia memamerkan hubungan pribadi di sosial media, kecuali kalau hubungan itu memang sesuatu yang ia banggakan.
Aku menemukan korespondensinya dengan Sheryl, pacar barunya, di dalam instagram Sheryl yang bernama @bunnyblair ternyata ia adalah penggemar gossip girl dan menganggap dirinya sebagai reinkarnasi dari seekor kelinci. Ya, Sheryl adalah perempuan yang manis dengan pipi bundar merah mereka seperti apel, tapi ia tidak punya tulang pipi yang menonjol seperti yang aku punya di wajah tembamku. Setidaknya aku, tampak lebih dewasa dan kekanak-kanakan.
Setiap kali aku melihat foto-fotonya di instagram, aku tidak henti-hentinya membandingkan diriku dengan Sheryl. Ada rasa panas di dada dalam setiap kali klik, membuka gambar satu ke gambar lainnya. Terlihat Sheryl dengan rambut yang diikat kebelakang sedang meminum segelas kecil tuak. Dan, di akun Instagram Andrew terlihat juga wajahnya yang memerah dan tatapannya yang ceria saat mengangkat gelas ke udara berisi tuak. Aku harap mereka tidak minum dari tuak yang sama.
Andrew sempat bercerita kepadaku kalau Sheryl adalah sosok yang sedikit berbeda darinya, cukup pemurung dan tidak berbahagia. Aku sendiri tidak tahu apa itu definisi “bahagia” dari Andrew. Ia memang senantiasa nampak bahagia tanpa beban, tanpa ataupun dengan satu linting marijuana. Mungkin memang bocah Rasta--dulu Andrew memelihara rambut pirang gimbal--ia percaya dengan energi positif yang terkandung di rambutnya. Mungkin ia keramas pakai Sunsilk.
Mungkin juga Andrew merasa aku adalah gadis pemurung yang suka bersedih hati, makanya aku tidak begitu cocok dengan orang seperti Andrew. Lantas, apa kabarnya Sheryl Lee ini? Gadis yang baru ia kenal 6 bulan saat berekspedisi ke sekitar Borneo.
Iyon mengatakan bahwa tidak sebaiknya aku melihat akun instagram atau akun sosial media pacar Andrew karena yang ada aku bakal murung. Apa yang Iyon ceritakan memang benar, tapi ia tidak bisa terus-terusan di sampingku dan menutup semua windows atau halaman instagram yang seharusnya tidak perlu aku lihat. Iyon sendiri sedang sangat sibuk. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di departemennya, sudah lima hari kerja kami tidak makan siang bersama. Padahal dulu, sesibuk apa pun Iyon, ia akan menyempatkan makan siang bersama, bahkan setelah atau sebelum bertemu dengan klien. Jadi ini adalah level kesibukan dan drama Iyon yang baru, yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Departemen Iyon adalah departemen yang cukup vital, pemasaran dan strategi. Sementara, aku yang duduk di departemen kreatif dan bekerja sebagai penulis hanyalah sebagian kecil dari semesta bernama Peanuts ini cuma kacung. Meskipun aku adalah bagian dari urat nadi majalah internet moderen begini, seperti perusahaan swasta yang berdiri independen departemenku, kreatif, yang terdiri dari penulis dan illustrator, banyak mengalami turn-over yang cukup besar. Beruntung aku berteman baik dengan Chief of Public Relationnya yang kaya raya dari kecil, jadi Iyon sebisa mungkin memastikan pengalamanku bekerja di Peanuts menjadi sesuatu yang memperkuat portfolioku dan wawasan.
Namun, kesibukannya selama ini yang membuat wajahnya berkerut masam setiap kali ia masuk ke dalam kantor. Seakan ia tidak peduli dengan penampilannya yang dandy, seperti biasanya. Iyon yang selama ini terlihat seperti mannequin Massimo Dutti yang hidup dan berjalan, kini terlihat seperti mannequin yang belum didandani sempuran untuk display. Tapi, beruntung Iyon adalah laki-laki yang gagah dan tampan. Jadi mau mengenakan pakaian apa saja, ia terlihat keren. Namun, bagi seseorang yang sudah mengenal laki-laki ini sedari kecil, aku tahu Iyon tidak nampak seperti biasanya. Kaus putih dan celana belel? Iyon biasanya adalah pria yang tahu kapan membedakan waktunya untuk bekerja atau datang ke bar. Dan dari bau parfum Hugo Boss yang disemprot terlalu banyak seperti menutupi bau badannya, sepertinya sudah lebih dari 2 malam ia tidak kembali ke rumah dan menghabiskan waktunya di bar.
Biasanya Iyon yang menghampiri kubikku dan dengan pasif menagih artikel secara hati-hati, namun kali ini giliran aku menuju kubik Iyon yang lebih besar dan terlihat lebih sempurna karena terdapat pintu dan jendela besar. Lebih professional dari kubikku yang hanya sepetak meja dengan whiteboard kecil yang isinya adalah lini masa pekerjaan dan foto-foto acara yang menunjukkan kapasitasku sebagai makhluk sosial yang tidak seberapa ini.
Tanpa menunggu Iyon merespon dua ketuk di pintunya. Punggung Iyon membungkuk dan wajahnya menatap lekat layar datar iMac hanya berjarak beberapa sentimeter. Tidak pernah, aku melihat Iyon nampak begitu serius.
“What is going on with you, brother?” tegurku. “Have you even showered?”
“Eh, emang badanku bau?” Iyon mengangkat ketiaknya yang berbulu lebat terus ia endus-endus. Sumpah, kalau laki-laki lain yang melakukan hal itu, aku sudah kabur. Cuma karena karisma Iyon, yang laki banget, aku yang punya hubungan platonik dengannya merasa prilaku semenjijikan apa itu akan selalu termaafkan dan dimaklumi.
“Aku nggak bisa menjawab hal itu.” lugasku. “Kamu udah makan?”
“Kalau kamu suapin, aku mau.” jawabnya. “Trust me, it is not a pick-up line. Aku benar-benar nggak ada waktu dan niat buat makan, kecuali kalau disuap.”
Aku menatap ke luar ruangan. Dimana para pegawai merunduk, mengintip siapa yang berada di ruangan Iyon dari celah kaca yang buram. “Ya, itu mungkin ide yang buruk untuk memulai gosip kantor. Kita bisa makan keluar.”
“I do not have time, India.”
“Make some time, then. Sudah jam makan siang,” aku menghampiri Iyon yang asik mengetik, di layarnya terbuka e-mail dan berkas korespondensi yang terlalu panjang dan tidak bisa aku baca dalam sekali tatap. Aku mengaitkan tanganku di siku lengan Iyon yang berjejal otot. Saat aku menariknya, aku baru merasakan betapa berat dan berisinya badan Iyon. Kakiku masih menancap di tanah, tidak kuasa mengangkat bobot tubuhnya dengan berat badanku yang setara dengan berat badan laki-laki biasa.
Dengan bersungut-sungut, aku ajak Iyon makan di pinggir jalan. Di warung betawi yang letaknya lima puluh meter dari kantor dan masuk gang pula. Tidak ada yang mengetahui kelezatan sate kambing Pak Mus kecuali kami berdua dari kantor. Sate kambing Pak Mus adalah rahasia yang kami simpan berdua. Dimana lagi bisa makan enak tanpa harus rebutan tempat duduk di saat jam makan siang kantor.
Namun, Iyon menatap sepuluh tusuk sate kambing dengan lemak dan daging yang sempurna dan berlumur saus kecap seperti menatap sandwich perancis kurus yang entah harus mulai dari mana ia makan. Ia nampak murung. Dan aku terus bertanya ada apa, ia tidak menjawab.
Sampai ia mengatakan kepadaku, saat aku hendak menggigit daging tusuk sate yang alot.
“Peanuts bakal direkonstuksi,” ... daging kambing itu terselip di celah gigiku
“Dan, aku bakal direloakasi ke Singapura.” ... oke, sekarang daging kambing itu tersangkut di kerongkonganku.
Aku tidak peduli lagi apa yan aku telan, tapi aku ingin menelan cerita Iyon dengan baik baik. Nampaknya ini adalah sesuatu yang serius.










