Dipaksa Belajar Fisika
“Nis, hari ini aku mulai baca Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh lho. Bukunya Budi Darma sih udah habis setengahnya. Ah, toh cuma kumpulan cerpen. Nggak tamat pun yo ndak papa kan ya? Aku lupa kapan terakhir baca bukunya Dee. Kalau nggak salah ingat, waktu SMK deh. Itu pun nggak benar-benar dibaca. Nah, hari ini aku mau serius baca bukunya dia. Dan, aku ingin menjerit!
Aku amati setiap kata per kata. (Kata lho ya, bukan paragraf apalagi halaman). Saking ingin memahami Dee. Sampai di halaman 5, aku kayak dipaksa belajar fisika dari Einstein! Dan, mendadak jadi ahli bedah bahasa karena setiap baca satu kalimat, ada aja satu kata yang aku ketik di laman KBBI Online. Demi Tuhan, Nis, ini nggak bakalan bisa selesai satu bulan.”
Di komputerku ada beberapa tab yang terbuka. Aku membaca fisika kuantum, teori relativitas, analogi turbulensi, paradigma reduksionisme, dan situs KBBI Online. Selama aku kuliah Hubungan Internasional, memang tidak pernah mendengar istilah-istilah itu. Paradigma yang ada di ilmu HI sedikitnya berbeda dengan apa yang dimaksud Dee dalam bukunya ini.
Buku Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh atau KPBJ ini sejujurnya aku beli pada 27 Februari 2016. Nyaris 2 tahun. Tapi, buku ini lama sekali mengungsi di lemari orang lain (entah mungkin bukan lemari, bisa saja ia menyimpannya di kolong spring bed). Setelah satu tahun setengah kemudian dikembalikan, aku terpikir untuk membacanya selang waktu 3 bulan. Tepat di hari aku menulis ini, aku selesai membacanya hingga halaman kelima.
Kenapa setelah hampir 2 tahun muncul rasa ingin membaca KPBJ? Karena aku merasa ingin baca buku, tapi tidak tahu mau baca apa. Itu sederhananya. Tapi, di sisi lain aku sadari bahwa dalam buku itu ada magis yang sukses menarikku hingga halaman kelimanya. Dan, aku belum mau menyerah meskipun aku harus belajar fisika. Hem.
Nisa kemudian menjawab, “Demi apa kamu baca buku berat begitu. Aku aja soak baca itu mah.”
Kemudian aku melanjutkan ke halaman 6.












