Menata Mimpi
Pernah suatu ketika aku menetapkan banyak mimpi untuk diriku. Aku kewalahan, karena semua hanya sebatas angan tanpa tujuan. Hanya sebatas mimpi tanpa pengesahan tindakan teknis.
Hingga semua bertebaran tidak menentu. Memainkan waktu dengan me-recall memori yang sudah pernah aku simpan di folder tertentu di dalam kepalaku. Aku berharap memang, jika tiba masanya aku bisa mewujudkan semua itu.
Waktu bagi manusia memang sesuatu yang mengejar. Tapi sesungguhnya, bukan itu. Waktu hanyalah sesuatu yang bekerja sebagaimana harusnya mereka bekerja. Tanpa henti menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Ada kalanya aku ingin protes. Mengapa hanya 24 jam waktu yang diberikan kepada manusia? Mengapa tidak lebih dari itu, sehingga aku bisa lebih banyak berbuat.
Ah, kau saja 24 jam masih banyak mengisinya dengan kesia-siaan. Lebih sering melamun daripada merencanakan. Lebih sering berandai daripada berusaha mewujudkan.
Walau yah, suatu ketika, ada saja dimana saat aku ingin lebih banyak waktu yang diberikan kepadaku. Namun, aku berpikir ulang. Jika sesuatu sudah ditetapkan, bukankah tugas manusia hanyalah mengatur segalanya sesuai dengan porsi?
Ah, kemudian aku tersadar. Yang harus dituntut bukanlah penambahan waktu dalam sehari. Namun, waktu tidur yang lebih banyak menyita waktu produktif bekerja.
Ah, ya. Bukankah menata sesuatu membutuhkan waktu yang lebih banyak? Ketimbangkan menjalankan apa-apa yang sudah direncanakan. Kini, aku memahami apa kelemahanku.
Manajemen waktu yang buruk.
Tapi, bagiku, dari dulu. Kelemahan bukanlah batasan. Namun sesuatu yang ketika aku bisa melatihnya, maka aku bisa menciptakan kekuatan baru.
Eh, tidak ada kata terlambat kan? Aku siap menata mimpi itu. Kamu siap? He, siap capek maksudku..
Begitu kiranya...













