Terjebak di sebuah kedai kopi bersama dua orang asing dan tanpa obrolan sama sekali tidak ada dalam daftar kegiatanku hari ini. Pukul dua siang lebih dua puluh. Langit sudah gelap. Hujan tumpah begitu saja. Kesenyapan merambati udara sejak kedatangan mereka berdua di mejaku. "Maaf agak terlambat, Mbak. Abang sepupu saya memaksa ikut, jadi saya harus menunggunya selesai rapat," gadis berjilbab cokelat muda di depan tersenyum kaku. Barangkali merasa tak enak karena membuatku menunggu hampir seperempat jam. Atau mungkin hanya formalitas untuk mengiringi permintaan maaf. "Don't worry," jawabku sembari menyelipkan rambut ke telinga. Gerakan refleks ketika aku gugup dan kehilangan kepercayaan diri. Di depanku, abang sepupu gadis ini memandangku tajam. Tatapannya membuatku kehilangan kata-kata. * "Nama saya Kelana. Kalau ada waktu, saya ingin mengajak kamu berdiskusi sembari ngopi dan menghabiskan senja di pelataran Jatukrama," seorang lelaki mengulurkan tangannya di hadapanku disertai senyuman manis. Salah satu giginya gingsul. Penampilannya khas mahasiswa aktivis yang sebagian besar waktunya habis di warung kopi atau angkringan —yang tidak memiliki waktu untuk berpakaian rapi kecuali ketika akan memberi sambutan di sebuah acara atau tebar pesona di depan dedek-dedek mahasiswa baru. "Semoga ada waktu yang bisa saya luangkan. Senang berkenalan denganmu Mas Ken. Oh, tidak apa kan kupanggil Mas Ken?" Menggelengkan kepala, ia tersenyum. Senyum entah jenis apa sebab baru pertama kali kulihat. Sore itu kami berkenalan di pelataran Jatukrama. Sebuah perpustakaan merangkap kedai kopi yang dikelola dua orang lelaki yang merupakan mantan aktivis di kampusku. Dan lelaki di depanku ini adalah mahasiswa tua di kampus lain. Sudah lewat dua tahun dari masanya ia lulus. Ya kalau bukan karena alasan organisasi dan pergerakan apalagi? Terlalu sayang lulus tepat waktu baginya. Aku sendiri bukanlah mahasiswa yang suka menghabiskan sepanjang waktuku untuk organisasi dan tetek bengeknya. Aku lebih suka memburu kebahagiaan di toko buku, perpustakaan, atau kedai kopi yang menyediakan buku untuk dipinjam atau dibeli. Seperti Jatukrama. Aku sering menghabiskan waktu di sana sejak dibuka satu tahun yang lalu. Bagiku bertemu banyak buku adalah kebahagiaan paling mewah tapi sederhana. Sejak sore itu, kami menjadi sering bertemu. Entah di Jatukrama, indekos, atau di kampus. Ia sering mengajakku makan bersama. Kuakui, sebagai manusia yang agak asosial, aku senang memiliki teman seperti dia. Bayangkan saja, hampir tiga tahun waktuku di kota ini kuhabiskan sendirian. Aku tidak terlalu akrab dengan teman-temanku. Selain karena aku benci keramaian, aku lebih suka melakukan apapun sendirian. Beberapa waktu kemudian, Mas Ken mengatakan terang-terangan padaku bahwa ia ingin hubungan yang lebih serius. Ya, kau tahu? Lebih dari sekadar teman makan, ngobrol, diskusi, dan jajan buku. Ia ingin aku menjadi kekasihnya. Tetapi ia menawarkan kesepakatan bahwa kami tidak akan memulai tanpa pendekatan. Dan itu kuiyakan. Kami baru beberapa bulan berkenalan. Meski jujur saja, ada perasaan lebih dari nyaman saat aku bersamanya. “Aku seperti melihat Tuhan di mata sendumu itu,” aku tertawa kecil, lalu menggeleng. “Pasti ngutip dari film Bollywood, ya? Apa sih judulnya?” “Rab Ne Bana Di Jodi,” ia terkekeh pelan. “Duh, suka nonton Bollywood, ya?” cibirku. Maka sepanjang hari itu kami membicarakan film yang pernah kami tonton. Pelan tapi pasti, aku mulai jatuh cinta pada lelaki yang terpaut empat tahun dariku itu. Ya, Mas Ken membawaku dalam dunianya yang baru bagiku. Dan tidak alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta padanya. * Waktu terus berjalan, aku dan Mas Ken tetap berjalan di tempat. Maksudku, kami tetap dalam tahap pendekatan. Tidak ada perubahan. Mas Ken tidak pernah menyinggung soal hubungan yang lebih serius dalam obrolan kami. Dan aku tidak berniat untuk menanyakannya. Inilah kesalahanku yang paling fatal. Suatu pagi, Mas Ken berpamitan pergi ke sebuah desa pesisir. Sosialisasi rutin yang kerap ia lakukan sebulan sekali bersama kawan-kawannya. Biasanya ia mengajakku, entah mengapa kali ini tidak. Tetapi, jika diajak pun aku pasti menolak. Datang bulan dan nyeri tak karuan menyerang perutku. Aku hanya berucap ‘sampai jumpa’ padanya. Dan ia berjanji akan menemuiku pukul 9 malam. Seharusnya hari itu kami bertemu tepat pukul 9, atau jika tidak memungkinkan paling tidak pukul 12. Seharusnya. Namun malam itu aku terlelap begitu saja karena menunggu Mas Ken menelepon. Esoknya tidak kutemui pesan atau panggilan darinya. Begitupun esoknya lagi. Dan esoknya lagi. Dan seterusnya. Seharusnya aku sadar, bahwa kami akan berhenti begitu saja. Cepat atau lambat. Bahwa Mas Ken masih berharap pada perempuan berkacamata itu. Perempuan bernama Lembayung. Yang kerap ia sebut dalam puisinya. Cinta pertamanya. Dan satu-satunya. * “Kamu El, bukan?” tanyanya. Kegugupan menyergapku dari segala arah. Kutekan tanganku di bawah meja. Tidak, ia tidak boleh tahu kalau aku gugup. “Mas Ken, kan? Ya, aku El. Elmira.” Jawabku pasti. Sebuah senyum kuumbar. Ya, Mas. Ini aku, El, perempuan yang kautinggal begitu saja tanpa kepastian. “Apa kabar? Jadi sekarang kamu jadi editor, ya?” aku mengangguk kaku. Lelaki ini masih sama seperti enam tahun yang lalu. Senyumnya masih manis. “Kabar baik, Mas. Ngga nyangka deh kalau Indriana itu adiknya Mas Ken.” Bahkan kalau tahu aku akan menolak naskahnya, dan menyerahkan pada editor lain. Biar kita nggak ketemu, Mas. Kenapa setelah enam tahun berlalu kamu datang lagi? Kenapa di saat aku sudah merasa baik-baik saja? Kenapa kedatanganmu membuatku ngilu itu datang lagi, Mas? “Mas Ken jauh lebih baik kayaknya,” sambungku. Ia terkekeh. “Seperti yang kamu lihat, El. Sangat lebih baik daripada dulu. Kamu sudah menikah?” aku menegang. Kemudian tertawa. Tawa yang dibuat-buat. “Sejak seseorang mematahkan hati saya enam tahun yang lalu, saya tidak berani menjalin hubungan dengan siapapun.” Ujarku pelan. Hampir menyerupai gumaman. © intanrahayu | Tirtoasri, 16052017