13. [ACI 2011] Batu Mesir - Santong Mulia
Tuak Lombok sudah pasti membuat mabuk. Sedangkan tidur di Bayan Beleq tidak ada dalam pilihan. Mereka juga tidak pernah menawarkan tempat sebenarnya. Ini pelik! Setelah ini kami harus kembali ke dusun Santong Mulia untuk singgah di Batu Mesir mengejar sunset. Beruntung kami sudah punya kambing hitam. Sesuai aklamasi Mang Daung, supir kami, tidak diijinkan menyentuh benda haram ini sama sekali. Sate ikan, silahkan. Tapi silahkan telan sate ikan dengan air mineral. Tidak ada tuak untuknya hari ini.
Kami tiada bermaksud kejam. Tega pun tidak sampai. Tuak seenak ini hanya bisa dirasa nikmat jika dinikmati bersama. Kalau belum ada kesempatan hari ini maka mungkin di lain waktu. Kami kembali ke mobil dengan dua botol tuak ukuran 1500ml. Alibinya untuk nanti sepanjang perjalanan. Mang Daung pun ikhlas dan kami kembali menyusuri jalan-jalan Lombok berkiblatkan Barat.
Santong Mulia. Santong Mulia merupakan sebuah dusun di Lombok Utara yang kebetulan menjadi kampung halaman dari Bang Opik dan Mang Daung. Dusun ini terletak tidak terlalu jauh, sebelah Barat, dari Desa Bayan. Disini mereka ingin mengajak kami ke sebuah tempat yang sering disebut sebagai Batu Mesir. Alkisahnya Batu Mesir merupakan tanah milik seorang haji dari Mesir. Rasanya sempat mereka menyebutkan nama. Tapi siapa juga peduli namanya. Kami kemari bukan untuk itu melainkan untuk sunset. Batu Mesir memang luar biasa cantik sewaktu sunset. Masuk sekitar 100 meter dari jalan raya utama menembus perkampungan warga. Dan memaksa melalui jalan tanah yang sudah sembradul bentuknya, kami pun sampai. Turun ditepi sepetak tanah, mungkin boleh disebut perkebunan. Dibatasi satu selokan berdinding semen dan sisanya terhampar perkebunan dan Laut Jawa. Dari sini tempat peraduan sang surya terkesan sangat magis. Pemicu utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah keberadaan ketiga gili andalan Lombok tersebut. Dari sini mereka bertiga, gili Air, gili Meno, dan gili Trawangan terlihat seperti batu pijakan taman. Laut Jawa menjadi kebunnya yang luas sedangkan matahari menjadi langkah kakinya. Dimana perlahan ia turun diatas gili Meno. Menganak tirikan kedua gili lainnya. Sore ini segumpalan awan sengaja menutup-nutupi permainan cahaya sang surya. Sinar merahnya tetap tidak mau menyerah. Berpendar untuk yang terakhir kali. Sebagian dipantulkan ke cermin biru Laut Jawa dan sisanya ia kirim langsung ke kami di Batu Mesir. Perpaduan keduanya cuma bisa menciptakan keajaiban alam yang tiada banding. Keajaiban yang membuat anak manusia tidak rela beranjak. Perkebunan berubah menjadi siluet. Membekas merah redup di kaki langit.
Pertunjukkan matahari sore usai. Sisa-sisa cahanyanya lambat laun memudar kemudian menghilang. Batu Mesir tinggal menatap kami yang masih juga duduk. Berdecak kagum menolak percaya. Dalam hitungan detik gelap sekonyong-konyong datang menyelimuti perkebunan. Kami harus balik. Melangkah kembali ke dalam mobil dan menuju tempat peristirahatan. Suasana dusun memang sering membuat hati orang menjadi melankolis. Tapi pertunjukkan matahari sore di Batu Mesir memang benar merangsang hati ini. Kami kirimkan kecupan malam untuknya. Berharap untuk berjumpa dengannya lagi di keesokan hari. Jaga kami sampai esok Santong. Selamat malam.
Sisa malam kami habiskan dengan santap malam bersama Bang Opik dan teman-teman. Diatas bruga depan homestay miliknya. Ditemani plecing kangkung, ayam goreng, mangga hutan, pisang, anggur hutan, kerupuk kulit, dan sebakul nasi putih kewajiban setiap warga Indonesia. Penutup hari diisi dengan sedikit obrolan ringan pengantar tidur. Yang pada kenyataannya membawa kucing-kucing disebelah kami tertidur terlebih dahulu. Pulas persis dipangkuan sebelum akhirnya kami undur diri.














