@KCR

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Moldova
seen from China
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Finland
seen from China

seen from United States
seen from Norway
seen from South Korea
seen from China
seen from United States
seen from Moldova
seen from Belgium

seen from Moldova
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@KCR
Lightning strikes Petronas' GPP distillation tower
Lightning strikes Petronas’ GPP distillation tower
Dateline 2019-07-17, NST:
A distillation tower at Petronas gas processing plant 6 (GPP 6) in Santong caught fire after it was struck by lightning at about 8pm yesterday.
Firemen from the Paka station and Petronas have been battling the fire for nearly eight hours before it was brought under control early today.
The area has been cordoned off by security personnel.
At the moment, there are no…
View On WordPress
#Youth #Santong
#Trip #Santong
#Light #Santong
14. [ACI 2011] Tiu Teja
Pagi menyapa Santong Mulia. Matahari ternyata belum melupakan kami, ia masih setia. Lebih dari itu, ia masih semangat memimpin. Perlahan menyelinap masuk dari sela-sela jendela, menampar muka cetakan bantal ini. Hari sudah pagi. Kehidupan sudah dimulai.
Kami mengawali pagi dengan ritual kopi seperti biasanya. Hari ini ritual kopi ditemani oleh sang sahabat karib. Pisang Goreng. Cukup, tidak ada yang perlu dikomentari lagi darinya. Senang rasanya pagi ini kami ada alasan untuk tidak perlu mandi. Selepas ritual kopi kami akan singgah di salah satu hidden paradise nya Lombok Utara, Air Terjun Tiu Teja. Hasrat untuk tidak mandi pagi juga didukung oleh Bang Opik dan Mbak Sophie. Mereka bercerita konon siapapun yang datang ke Tiu Teja harus mandi disana. Jika tidak, maka akan ada kekuatan lain yang menarik kami untuk kembali kesana untuk kesekian kalinya. Bagus lah. Mandi disana saja kalau begitu.
Kami berlekas kemudian mengarahkan mobil. Patokan menuju Tiu Teja tidak jelas, andalan kami disini hanya teman-teman dari Gabungan Pencinta Alam (GPA) Santong. Mereka tahu betul area ini. Mereka juga yang memperkenalkan Tiu Teja ke publik balik sejak tahun 2000-2001 yang lalu. Satu-satunya petunjuk yang jelas adalah Bendungan Santong. Tiu Teja dapat diakses dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit dari Bendungan Santong terus masuk ke dalam hutan. Sungguh kami tidak menyarankan untuk mencari arahnya sendiri. Teman-teman GPA Santong pasti lebih dari rela mengantarkan. Atau setidaknya tanyakan ke penduduk setempat mengenai arah.
Kami menyusur kurang lebih 3 sampai 4 sungai-sungai kecil, yang pasti merupakan limpahan berkah dari Tiu Teja. Sama dengan air terjun lainnya, ia sering kali menjadi sumber kehidupan bagi siapapun yang dilaluinya. Kami terus memotong jalan-jalan hutan. Cukup banyak longsoran di kiri dan kanan jalur. Pasir menggunung layaknya bukit. Bukan bukit hijau, tapi lebih mirip bekas letusan gunung berapi. Hanya saja ia berada di lembah. Batu dan pasirnya berceceran tak karuan. Menjulang terjal lebih dari 45 derajat ke bibir-bibir tebing. Entah apa penyebabnya. Tapi cukup mengiris hati melihat keasrian hutan ini terkikis. Tersangkaku pasti ulah manusia. Pembangunan bendungan jarang berakibat baik pada sekitarannya, kecuali untuk manusia sendiri.
Setelah kemarin menyapa Sendang Gila, kami berasumsi Tiu Teja mungkin tidak jauh beda. Memang menilai segala sesuatu dari namanya saja adalah suatu kebodohan besar, dan benar saja, hari ini kami salah besar. Tiu Teja patut jika disebut hidden paradise. Lokasinya yang tersembunyi membuat dirinya jauh lebih terawat. Bukan oleh manusia tentunya, sebab yang satu ini lagi-lagi cuma pembawa sampah. Tapi isolasi benar-benar memperbolehkan sang ibu pertiwi untuk terus bersolek. Menutup yang mati dan menggantikannya dengan yang baru. Terus menerus hingga sempurna. Tinggi Tiu Teja kurang lebih sekitar 40 meter vertikal. Dasarnya membentuk kolam. Memanggil kami untuk segera menceburkan diri. Tepiannya berwarna hijau pekat. Penuh dari dasar hingga pucuk tebing. Lumut-lumut tumbuh subur dari percikan uap air Tiu Teja. Kami pun tidak sabar tenggelam dalam Tiu Teja. Sungguh kesegaran tak terkira. Tidak sia-sia memang. Dingin urusan kedua. Kami terus bermain bak anak berang-berang yang baru bisa berenang. Masuk ke dalam air, sebentar saja sudah keluar lagi. Bertengger pada batu kali sebelum sekali lagi lari dalam air. Naik ke permukaan hanya setelah diumpan dengan kudapan. Awal yang luar biasa untuk memulai hari!
13. [ACI 2011] Batu Mesir - Santong Mulia
Tuak Lombok sudah pasti membuat mabuk. Sedangkan tidur di Bayan Beleq tidak ada dalam pilihan. Mereka juga tidak pernah menawarkan tempat sebenarnya. Ini pelik! Setelah ini kami harus kembali ke dusun Santong Mulia untuk singgah di Batu Mesir mengejar sunset. Beruntung kami sudah punya kambing hitam. Sesuai aklamasi Mang Daung, supir kami, tidak diijinkan menyentuh benda haram ini sama sekali. Sate ikan, silahkan. Tapi silahkan telan sate ikan dengan air mineral. Tidak ada tuak untuknya hari ini.
Kami tiada bermaksud kejam. Tega pun tidak sampai. Tuak seenak ini hanya bisa dirasa nikmat jika dinikmati bersama. Kalau belum ada kesempatan hari ini maka mungkin di lain waktu. Kami kembali ke mobil dengan dua botol tuak ukuran 1500ml. Alibinya untuk nanti sepanjang perjalanan. Mang Daung pun ikhlas dan kami kembali menyusuri jalan-jalan Lombok berkiblatkan Barat.
Santong Mulia. Santong Mulia merupakan sebuah dusun di Lombok Utara yang kebetulan menjadi kampung halaman dari Bang Opik dan Mang Daung. Dusun ini terletak tidak terlalu jauh, sebelah Barat, dari Desa Bayan. Disini mereka ingin mengajak kami ke sebuah tempat yang sering disebut sebagai Batu Mesir. Alkisahnya Batu Mesir merupakan tanah milik seorang haji dari Mesir. Rasanya sempat mereka menyebutkan nama. Tapi siapa juga peduli namanya. Kami kemari bukan untuk itu melainkan untuk sunset. Batu Mesir memang luar biasa cantik sewaktu sunset. Masuk sekitar 100 meter dari jalan raya utama menembus perkampungan warga. Dan memaksa melalui jalan tanah yang sudah sembradul bentuknya, kami pun sampai. Turun ditepi sepetak tanah, mungkin boleh disebut perkebunan. Dibatasi satu selokan berdinding semen dan sisanya terhampar perkebunan dan Laut Jawa. Dari sini tempat peraduan sang surya terkesan sangat magis. Pemicu utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah keberadaan ketiga gili andalan Lombok tersebut. Dari sini mereka bertiga, gili Air, gili Meno, dan gili Trawangan terlihat seperti batu pijakan taman. Laut Jawa menjadi kebunnya yang luas sedangkan matahari menjadi langkah kakinya. Dimana perlahan ia turun diatas gili Meno. Menganak tirikan kedua gili lainnya. Sore ini segumpalan awan sengaja menutup-nutupi permainan cahaya sang surya. Sinar merahnya tetap tidak mau menyerah. Berpendar untuk yang terakhir kali. Sebagian dipantulkan ke cermin biru Laut Jawa dan sisanya ia kirim langsung ke kami di Batu Mesir. Perpaduan keduanya cuma bisa menciptakan keajaiban alam yang tiada banding. Keajaiban yang membuat anak manusia tidak rela beranjak. Perkebunan berubah menjadi siluet. Membekas merah redup di kaki langit.
Pertunjukkan matahari sore usai. Sisa-sisa cahanyanya lambat laun memudar kemudian menghilang. Batu Mesir tinggal menatap kami yang masih juga duduk. Berdecak kagum menolak percaya. Dalam hitungan detik gelap sekonyong-konyong datang menyelimuti perkebunan. Kami harus balik. Melangkah kembali ke dalam mobil dan menuju tempat peristirahatan. Suasana dusun memang sering membuat hati orang menjadi melankolis. Tapi pertunjukkan matahari sore di Batu Mesir memang benar merangsang hati ini. Kami kirimkan kecupan malam untuknya. Berharap untuk berjumpa dengannya lagi di keesokan hari. Jaga kami sampai esok Santong. Selamat malam.
Sisa malam kami habiskan dengan santap malam bersama Bang Opik dan teman-teman. Diatas bruga depan homestay miliknya. Ditemani plecing kangkung, ayam goreng, mangga hutan, pisang, anggur hutan, kerupuk kulit, dan sebakul nasi putih kewajiban setiap warga Indonesia. Penutup hari diisi dengan sedikit obrolan ringan pengantar tidur. Yang pada kenyataannya membawa kucing-kucing disebelah kami tertidur terlebih dahulu. Pulas persis dipangkuan sebelum akhirnya kami undur diri.