15. [ACI 2011] Perjalanan Menuju Bumi Sumbawa
Hari ini seharusnya kami sudah menutup agenda Lombok. Ekspedisi kami memang dirancang untuk lebih mengeksplorasi Pulau Sumbawa ketimbang Lombok. Ada Tim 18 dari angkatan ACI2011 yang akan mengudak-udak Lombok lebih dalam daripada kami. Tapi sudah hampir pukul 10:00 kami masih saja di Santong Mulia. Perbekalan belum diatur apalagi persiapan untuk jalan jauh menyeberangi Selat Alas. Kami harus kembali ke Mataram. Sekarang juga.
Tidak membuang waktu kami memutar kendaraan ke arah Mataram. Kali ini tidak lagi melalui jalur Utara sebagaimana kami datang kemarin. Melainkan melalui jalur tengah. Jalur ini terkenal sering longsor. Namun pemandanganya indah. Ia menembus hutan-hutan yang kerap menawarkan keteduhan lebih daripada sejawatnya di Utara. Jalur ini sebenarnya menembus gunung. Dan seperti pada umumnya jalanannya pun berliuk-liuk.
Ditengah jalan kami dihentikan. Bukan oleh polisi apalagi perampok. Hari masih siang, polisi sedang kantuk-kantuknya dan perampok masih tidur sehabis lembur semalam. Walau waktu kami tidak banyak tapi mau tidak mau kali ini kami harus berhenti. Alasannya cukup kuat, Durian dan Tuak. 15 menit tidak akan membuat kami telat. Tapi 15 menit ini bisa membuat kami tersenyum sampai Sumbawa, jadi kenapa tidak? Kami melahap seadanya, membawa tambahan satu botol tuak ke mobil, kemudian melanjutkan perjalanan.
Perjalanan mengejar waktu sejatinya tidak pernah menyenangkan. Namun ini tidak menyurutkan kami untuk menikmatinya. Daripada bersungut bosan di dalam mobil, hari ini kami dedikasikan untuk tiga perut tambun yang serakah saja. Durian dan tuak hanya makanan pembukanya.
Kami tiba di Mataram tepat tengah hari. Sebelum bersiap diri dan mengingat misi rakus kami, kami pastikan untuk mengisi perut di Sate Rembiga. Perjalanan dari Mataram menuju Pelabuhan Kayangan juga tidak boleh berlalu begitu saja. Terhitung kami berhenti dua kali lagi. Yang satu demi mengejar bakso dan yang satunya lagi sekedar gorengan di daerah Aikmel. Nafsu makan yang menggebu membuat kami baru tiba di Pelabuhan Kayangan sekitar pukul 5:30 sore, hampir Maghrib. Kalau tidak salah feri yang menyeberang Selat Atlas sudah tidak beroperasi lagi saat malam. Satu feri siap berangkat, dan besar kemungkinan ini merupakan feri terakhir untuk hari ini. Kami berlekas memarkirkan mobil rapi berjejer sama dengan yang lainnya. Mengunci pintu mobil, dan naik ke atas. Bertiga duduk manis di geladak teratas kapal. Menatap bintang yang baru saja bermunculan. Sayang waktu sudah mustahil memperlihatkan sekeliling. Malam sudah menutup tirainya. Siluet pun sudah pulang. Tinggal lagu dari handphone sempat mengalun sebentar, kemudian hening cukup lama. Tersisa suara deru mesin kapal. Tiga manusia ini duduk melewati 2 jam perjalanan feri yang tak terlupakan.







