12. [ACI 2011] Bayan Beleq
Setiap tangga yang kami turuni harus dipanjat kembali. Itu sudah menjadi hukum alam. Begitu juga bagi kami selepas menikmati Air Terjun Sendang Gila. Melawan gravitasi memang tidak pernah enak jenderal! Ini seakan diminta bertinju dengan patung. Letih hanya bagi mereka yang terus bergerak. Tapi kami ada tujuan lain. Bayan Beleq tidak bisa menunggu lama. Hari sudah menunjukkan hampir pukul setengah tiga sore. Setibanya kembali di atas, kami berlekas memacu kendaraan ke arah Mesjid Kuno Bayan dekat Desa Adat Bayan Beleq.
Jarak tempuh kali ini tidak terlalu jauh. Lima belas menit, kami sudah berdiri diatas kedua kaki lagi. Sama sekali belum sempat memejamkan mata. Turun dari kendaraan entah bagaimana kami terpandu oleh beberapa anak-anak kampung sana. Anak-anak ini belum lagi berusia dua belas tahun. Kami juga belum lagi meminta apapun dari mereka selain bertanya dimana letak Mesjid Kuno Bayan. Anak-anak memaksa mengantar. Mungkin takut kami tersasar atau sekedar penasaran.
Mesjid Kuno Bayan jauh dari bayangan masjid yang kami ketahui pada umumnya. Anak-anak menunjuk pada satu bangunan berangka bambu. Atapnya berlapis ijuk. Tapi fondasinya terlihat luar biasa kokoh dalam tumpukan batu-batu besar. Posisinya berundak dan pada titik tertinggi dalam lingkungan kampung tersebut. Mesjid ini berbentuk persegi dengan panjang dan lebar kurang lebih 8 meter di setiap sisi. Dindingnya pendek baru setinggi anak-anak yang menemani kami. Pintu berada di sisi depan dengan anak tangga kecil yang mengarah langsung pada pintu masuk. Persis didepan pintu masuk tergantung satu gentong berukuran sedang. Ia disebutnya dahulu digunakan untuk wudhu para jemaah. Saat ini Mesjid Kuno tinggal lah sebuah rupa fisik. Ia tidak lagi digunakan tapi perannya masih besar sebagai penanda jaman.
Sekitar 200 meter dari lokasi Mesjid adalah Desa Adat Bayan Beleq. Inilah pusatnya desa Bayan. Memasuki desa adat tidak selalu menenangkan. Ia sering kali membawa kesan tegang dan kaku, takut-takut melakukan kesalahan adat yang tidak dipahami sebelumnya. Malu atau terkadang nyawa taruhannya. Dengan satu pengecualian yaitu hingga mendapat ajakan minum tuak. Kami menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para tetua desa. Bertanya kesana kemari tidak jelas arah. Awalnya canggung. Namun tidak lama kemudian tuak pun keluar. Belum berhenti ternyata sate ikan juga kembali muncul. Suasana mencair, senyum mengambang. Dari sekian banyak kombinasi yang bisa dipadukan, tidak ada, sekali lagi, tidak ada yang lebih baik daripada kombinasi tuak dan sate ikan di atas bruga Desa Adat Bayan Beleq. Ini lah nikmat.








