Dua dari empat anak kucing Roro, oleh Fe dikasih nama Geri (putih orange) dan Bleki (abu-abu). Mulai nakal, tidak bisa dikurung di kamar lagi karena sudah berani lompat dari jendela.

seen from Australia
seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Maldives

seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from Pakistan

seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from China
seen from Netherlands

seen from Canada
seen from China
seen from Netherlands
seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from T1
Dua dari empat anak kucing Roro, oleh Fe dikasih nama Geri (putih orange) dan Bleki (abu-abu). Mulai nakal, tidak bisa dikurung di kamar lagi karena sudah berani lompat dari jendela.
Ada dua betina hamil yang rajin nongkrongin depan rumah buat minta makan. Satunya abu-abu, melahirkan 4 anak di atap. Seminggu ini, para anak kucing itu sudah mulai turun sendiri dari atap.
Satu lagi warna telon ini. Entah di mana dia melahirkan, tapi sejak kemarin 3 anaknya dibawa ke teras.
Semoga mereka semua tidak memberi gangguan berarti buat para tetangga.
Aku lihat kucing kecil ini mengeong dan bergerak menuju selokan, tempat adanya "pancuran" pembuangan air. Kasihan sekali, dia haus, tapi adanya selokan membuatnya kesulitan untuk mengambil air. Aku amati air pembuangan itu bukan air kotor, dan kebetulan ada wadah kosong di selokan.
Langsung lahap dia minum.
Nih bocah... digabung sama emaknya langsung ribut... tadi tidur sekarang hyperactiveeeeee... Uni ngantuk, please oh please... #anakhiperaktif #bayikucing #kittens #cats https://www.instagram.com/p/BxhqnSUnOvX/?igshid=zaipi3heb2lj
Bayi kucing warna hitam legam ini mungkin baru 2-3 minggu usianya. Dia kami temukan sedang mengeong-ngeong di dalam mobil tetangga yang sedang parkir, oleh tukang bangunan yang sedang merenovasi rumah itu. Awalnya dia sangat takut dan marah saat hendak ditangkap. Segera aku membawanya ke kavling kosong dekat pos, karena seingatku memang dia tinggal di sana bersama induknya. Seminggu sebelumnya kami sempat melihat induk kucing yang mengangkut anak-anaknya ke kavling kosong itu, tak jauh dari rumahku.
Besok paginya kembali terdengar suara kucing kecil mengeong dan ternyata kucing ini lagi, jalan-jalan sampai di teras rumahku. Ya jaraknya sih cuma sekitar 50 meter. Ya sudah, aku anter lagi ke rumahnya. Bedanya, kali ini dia sudah cukup jinak, tidak kabur saat melihatku dan tidak berontak saat aku memegangnya. Dia juga sudah bisa/mau makan dryfood yang sengaja aku beli untuk mereka (sekeluarga).
Berganti hari lagi, di malam hari yang dingin usai hujan lebat, aku melihat tetanggaku di samping rumahnya sedang mengamati kucing kecil. Tetanggaku itu takut kucing, tapi gak tega melihat kucing kecil basah kuyup di pinggir selokan. Dia sempat minta tolong tukang bangunan untuk mengambil bayi kucing itu. Wah, aku curiga, jangan-jangan ini kucing yang kemarin, kayaknya sih iya. Pas waktu itu aku naik motor habis dari rumah sakit. Langsung saja aku letakkan di atas motor dan aku bawa pulang. Aku keringkan sebentar bulunya dengan handuk bekas dan dia sangat lahap waktu aku berikan makanan wetfood. Meskipun aku sudah sediakan kardus dengan kain hangat, sepertinya dia memilih pulang setelah makan. Soalnya malam harinya dia sudah tidak ada di teras.
Waktu esok harinya aku tengok ke kavling kosong itu, ternyata selain sang induk, ada 4 bayi kucing di situ - 2 yang berwarna hitam, 2 lainnya berwarna abu-abu belang seperti induknya.
Satu lagi anak kucingnya masih takut-takut, jadi gak ikutan kefoto.
Hmm… masih belum ada ide untuk memberi nama. Sementara induknya aku panggil saja Tutik hehehe :D
Dua hari lalu terdengar suara bayi kucing di loteng, persis di atas kamar. Wah, berarti si Silvi, kucing berwarna abu-abu yang tinggal di teras rumah, sudah melahirkan. Siangnya, tetanggaku melaporkan ada anak kucing dan jatuh dan sedang mencoba merangkak di carpotnya. Kasihan, ari-arinya masih belum putus.
Agak bingung karena belum pengalaman, aku ambil saja bayi yang masih basah ini dan aku letakkan di kardus beralas handuk bekas.
Tak lama kemudian sang induk datang untuk minta makanan. Tapi setelah makan dan aku coba dekatkan ke bayi itu, dia enggan untuk mendekat, langsung menghindar. Kasihan.
Atas saran seseorang, aku potong ari-ari bayi kucing itu keesokan harinya, dengan gunting yang aku steril sebentar. Tapi aku masih bingung harus berbuat apa dengan bayi itu. Sesekali aku coba dekatkan induknya ke kardus, tetap dia menolak. Malamnya, aku coba beli pipet dan mencoba memberi minum ke bayi kucing itu dengan susu soya milik anakku. Sedikit saja karena masih akan sulit mengajar bayi itu untuk minum.
Esok harinya, bayi itu masih juga bertahan, meskipun suara meongnya sudah makin lemah. Katanya sih kalau bayi kucing sudah ditolak oleh induknya, gak akan bisa bertahan lama. Apalagi tidak ada tindakan khusus untuknya, selain kami coba sebisa mungkin memberinya susu dengan pipet. Siang hari, setelah lebih dari 48 jam bertahan, akhirnya bayi kucing itu meninggal.
Kedua bayi kucing ini sepertinya saudaranya Candil, yang dulu sempat kami temukan di tempat yang sama dan sempat kami taruh di kardus rumah kosong namun hilang esok harinya. Sebelumnya ada tiga, kali ini cuma terlihat dua. Syukurlah kalau masih ada induk yang merawat mereka, dan mereka tampaknya nyaman di rumah tetangga, gak jauh dari rumahku.
Bayi kucing ini mencoba menyusu ke kucing dewasa yang ada di dekatnya, padahal kucing itu jantan hehehe. Gareng juga diam saja waktu si Candil ndusel-ndusel di perutnya, tidak merasa terganggu atau berniat mengusirnya. Mungkin dia paham rasanya ditinggal induk pada usia muda, sebagai sama-sama kucing yang terlantar :)