Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang...semoga tulisan saya kali ini mampu merefleksikan kegelisahan saya yang keimanannya masih jauh sekali levelnya dengan para sahabat Rasulullah SAW...
Selalu saja yang teramat sulit saya lakukan adalah tiga hal: mengalah, menahan amarah, dan berpikir positif. Mungkin hal-hal tersebut juga lumrah dirasakan oleh banyak orang, namun itu tak bisa jadi pembenaran disaat nanti diminta pertanggungjawaban di Padang Mahsyar kelak... :(
Untuk sikap mengalah dan menahan amarah, menurut saya masih bisa dilakukan pembiasaan agar tidak berat lagi dilakukan. Namun, untuk berpikir positif, saya rasa harus ada pola pikir tertentu yang membuat kita bisa membelokkan kecurigaan kita menjadi semangat positif di keseharian.
Apa yang mendasari seseorang untuk terbiasa berpikir postif?
Atau yang lebih kita bisa kupas lebih dalam, kenapa seseorang bisa cenderung berpikiran negatif?
Balik lagi ke teori kepribadian yaa (walaupun saya tidak tahu ini teori ciptaan siapa, tapi Insya Allah bermanfaat karena saya sendiri yang meramunya [tanpa tahu ada hak cipta atau tidak haha :D])...
Kecenderungan manusia untuk berperilaku, berpikir, bahkan berniat itu dipengaruhi (sebagian besar) oleh dua hal: genetik dan pengalaman. Untuk genetik, tak usahlah diotak-atik, cukup perhatikan kecenderungan orang tuanya saja yaa jangan sampai digosipkan segala. -,- Dan pengalaman seseorang dipengaruhi langsung oleh lingkungannya, sadar maupun tidak. Jadi, jika seseorang terbiasa dilatih judo sejak kecil, dengan yang dibiasakan untuk berkebun...pribadi yang terbentuk saat dewasa akan berbeda bukan?
Dengan kombinasi genetik dan pengalaman, kita bisa menemukan bermacam kemungkinan pribadi seseorang. Orang yang rutin berlatih judo cenderung lebih pemberani dan suportif (jangan lupa pengaruh genetik yang tak kalah kuat, bisa saja orangnya mau menangnya sendiri dan licik dikarenakan merasa memiliki kekuatan yang lebih), sementara orang yang rutin berkebun akan cenderung penyayang dan pekerja keras (atau ada kemungkinan lain seperti rajin menjaga kebugaran karena terbiasa berkeliling untuk merawat kebun yang luas :DD).
Pada tahap ini, kita bisa menyelipkan teori probabilitas. Mulai nyadar kan betapa banyak sekali kemungkinan dalam pertumbuhan seseorang? :D Dari penyatuan kromosom untuk penentuan kode genetik saja udah pakai teori acak begitu, belum lingkungan dan perilaku orang tua yang mengajarkan seseorang. Wah...kalo tidak ada yang mengatur bisa kacau balau ya!! :D
Subhanallah... Maha Keren Allah yang dengan mudahnya mengatur, menakdirkan, menuliskan kisah hidup semua makhlukNya dari lahir hingga pencabutan nyawa oleh malaikat Izrail! :))
Bisa ditebak kan, yaa kecenderungan berpikir negatif hampir pasti dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya (kecuali Allah berkehendak lain :)). Biasanya trauma masa kecil lebih tertanam kuat karena anak kecil sangat tajam ingatannya, sangat peka perasaannya, dan sedang tahap mempelajari dang beradaptasi dengan lingkungan. Meskipun mereka belum mengerti apa-apa, tapi data pembelajaran itu akan melekat menjadi kerpribadian dan pola pikirnyaa... Gituu... :D
Maaf ya, tulisan saya jadi kayak kuliah pengantar psikologi gini hahaha...
Sementara, orang yang berpikir positif? Pasti masa kecilnya indah dan menyenangkan... :)) Beruntung sekali yaa kalau sejak kecil sudah mampu berpikir positif...hidup menjadi damai, tidak risau dengan kemungkinan gagal karena ada yang mengatur. :)
...eh?
ITU DIA!! Kunci berpikiran positif adalah...
...calm down, Allah always gives you the best. ;)
Get it? :D
Allah Yang Maha Mengatur... Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana... Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang... Ilmu Allah teramat luas meliputi selurut jagat raya ini...
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan... :)
Dekatilah Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekatimu dengan berlari. Mintalah Allah akan sesuatu, maka Dia pasti mengembalikannya 2, 3x lipat, bahkan lebih!! :')
Karena Allah sayaaaang banget sama manusia~ Jadi, terus berbaik sangka kepada Allah yak, Insya Allah kita dimudahkan untuk selalu berpikiran positif. :D
Khilafah vs non-Khilafah, ketika manusia merasa dirinya yang paling berkuasa
Bismillahirrahmanirrahim...
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semoga tulisan saya kali ini hanya menyulut perbedaan, bukan pertengkaran. :)
Kalau mau diruntut permasalahan manusia sejak zaman dahulu kala itu...sumbernya hanya satu. Mau tunduk atau mau bebas.
Mau yang mana? Bebas? Bebas apanya? Haha. :p
Kepatuhan dan Kebebasan itu merupakan antonim. Kalo kamu mau patuh ya gak bisa bebas. Kalo kamu mau bebas berarti gak patuh, begitu?
Coba ya saya kupas sedikit-sedikit, pelan-pelan asal dapet maksudnya apa.
Tentu saja jika kita bikin model skala, misal skala 0-10 dengan 0 adalah sepenuhnya bebas dan 10 adalah sepenuhnya patuh, pasti ada skala pertengahan yang menggambarkan kadar tindakan masing-masing orang. Skala 6, berarti cenderung patuh tapi hampir sama dengan ketidakpatuhannya... Skala 2, wow hampir tidak ada patuhnya...
Mulai kebayang tulisan ini mau ke arah mana? Jangan buru-buru membahas versus yang ada di judul dong...pelan-pelan kita memaknai diri dulu...sip? :)
Manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin di dunia ini, berati manusia pasti sudah diberi skill-skill yang dibutuhkan untuk mengurus dunia dong... Kita bisa memilih dan bertindak, mempertimbangkan, bahkan mengurungkan niat serta mengubahnya sesuai keinginan kita...
Jadi sebenernya buat apa ya manusia disuruh memimpin bumi, padahal Allah kan Maha Segalanya, gampang lah kalo bumi doang...
Selain tujuan manusia yang diciptakan untuk beribadah kepadaNya, ternyata Allah juga gak sembarangan memilih manusia untuk memelihara bumi.
Tau gak, eh lebih tepatnya, nyadar gak kalo sebenernya Allah itu sayaaaang banget sama manusia? :DD
Coba pikir ya, makhluk ciptaan Allah banyak, ada malaikat, iblis, jin, hewan, binatang, alam semesta ini, tapi kok cuma manusia yang dijadiin pemimpin di bumi? Udah gitu, segala kebutuhan manusia dipenuhi pula, matahari untuk sumber tenaga dan penerangan, hewan dan tumbuhan sebagai sumber makanan, segala isi perut bumi untuk bahan baku pembuatan barang-barang manusia, malaikat pun diperintahkan untuk menjaga dan mengawasi kita, mengerjakan tugas-tugas untuk kepentingan kita. Dan yang paling unyunya lagi...
...Allah cuma pengen kita untuk menaatinya. Simpel kok, malaikat bisa, hewan dan binatang bisa, alam semesta bisa, bahkan badan kita pun mau diem aja selama kita hidup, padahal kita berbuat buruk dan jahat, karena diperintah oleh Allah. Masa kita yang udah dibekali khusus untuk memimpin seantero bumi gak bisa melakukan hal semudah itu?
Tapi begitulah konsekuensinya, ada hak ada kewajiban. Allah memenuhi hak kita sebagai makhluk ciptaanNya, yaa kita berkewajiban memenuhi hak Allah sebagai pencipta kita.
Simpel kok, tinggal menuruti perintahNya, menjauhi laranganNya. Tinggal turunin ego, rasain segimana Maha Kuasanya Allah atas diri kita, dan lakukan deh. :) Insya Allah, bisa! Lebih simpelnya lagi, Allah nilai bukan dari perbuatan, tapi niat! Percuma kamu rajin solat tapi niatnya buat dibanggain ke manusia lain, bukan buat Allah.
Sekali lagi ya, Allah cuma lihat niat, dan cuma Allah yang tahu niat kamu.
Versusnya mana?? Haha, udah kebahas kok. :)
Kalo kamu meyakini sepenuhnya atas kuasa Allah, yaa lakukan perintah Allah dengan mendirikan Khilafah.
As simple as that.
Maka Allah akan menurunkan banyak karuniaNya bagi orang-orang yang beriman, yang percaya bahwa Allah adalah satu-satuNya Rabb tempat menggantungkan harapan. Bukan ke pemimpin. Bukan ke manusia itu sendiri. :)