Ketenangan itu bernama huznudzon. Dalam kelelahan, pernah aku bertanya pada diri sendiri; “Mengapa hidup terasa begitu berat, padahal aku telah berusaha taat?”
Lalu malam berbisik pelan, “Bukan karena beban hidupmu terlalu besar, melainkan karena hatimu masih menyimpan prasangka kepada Rabbmu”.
Aku kira aku telah berserah, padahal tanpa sadar masih menggenggam kekecewaan. Aku mengira telah ikhlas, namun diam-diam terus mengharapkan takdir yang berbeda.
Padahal, ketenangan tak selalu datang bersama jawaban. Ia hadir ketika hati belajar berprasangka baik kepada Allah, meyakini bahwa Allah tak pernah salah dalam menetapkan apa pun, bahwa setiap luka memiliki tujuan, dan setiap air mata adalah bagian dari proses menguatkan jiwa.
Sejak itu, aku mulai mencari ketenangan bukan pada hasil yang kukejar, melainkan pada keyakinan bahwa apa pun yang Allah berikan hari ini adalah yang terbaik, baik untuk hidup di dunia maupun sebagai bekal menuju akhirat kelak.
Sebab, husnudzan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti iman yang sedang tumbuh dan belajar menjadi dewasa.
Refleksi Diri di Penghujung 5/365.















