Sianjing
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from Japan
seen from Slovakia

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from China
seen from Slovakia

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Sweden

seen from Germany
Sianjing
Kubaca lagi percakapan itu. Mulanya seru mengalir, dan saling berbalas. Hingga akhirnya, percakapan itu penuh rasa canggung dan keraguan. Bicara sekenanya, secukupnya, tidak ada lagi gelak tawa yang dulu menghiasi bubble demi bubble percakapan.
Ah ... gara-gara aku menyatakan perasaanku ya? Aku terlalu rakus untuk meminta segalanya terlalu cepat.
Namun kurasa, memang sebaiknya demikian. Supaya aku tidak terjatuh lebih dalam. Supaya perasaan itu tak berubah menjadi sakit yang terlalu pilu.
Sampai kapanpun, aku akan mensyukuri "kebodohanku".
Toh, ternyata, tanpa kehadiranmu pun aku masih bisa melanjutkan hidupku dengan baik.
Kamu juga ya, lanjutkan hidupmu dengan baik.
Aizen
April ke Juni
Segala hal berlalu dengan cepat, kecuali Januari.
Ketika Januari berjalan begitu lambatnya, daripada mengutuk hari yang tak kunjung berakhir pada tanggal gajian, aku justru berharap bahwa hari-hari ke depan, waktu akan berputar selambat itu.
Namun lambatnya Januari hanya fatamorgana belaka.
Februari berlalu begitu cepat, terlepas dari jumlahnya harinya di bulan kabisat.
Maret pun seolah tak mau menungguku mencerna satu demi satu informasi yang kuterima dari berbagai sudut.
Dan sekarang aku masih merenungi bulan April, yang padanya langit menumpahkan segenap isinya yang memberatkan. Tiada hari tanpa siang yang panas, disusul hujan yang mengguyur menjelang sore harinya.
Pada malam-malam dingin itu, aku menyusun rencana, yang teriring dengan untaian doa.
Tuhan, jika bersamanya membawa keberkahan maka mudahkanlah jalan ceritaku dalam bersanding dengannya. Namun bila kebersamaan kami hanya untuk saling melukai maka lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya.
Aku tidak pandai membaca pertanda, tetapi aku telah memutuskan bahwa aku siap untuk melepasnya. Tak ada jangkar apapun yang saling menambat di antara kami sehingga apa alasanku untuk tidak membiarkannya berlayar jauh ...
Dua ponsel. Satu SIM card.
Ketika segalanya telah berpindah dan namanya tak akan ada lagi dalam daftar kontakku. Sedamai itu, sayang.
Sedamai itu.
Apakah dia akan mengantarku. Apakah dia akan mengucapkan sampai jumpa lagi. Apakah dia akan menungguku.
Sudah bukan lagi urusanku.
Meski hatiku ingin. Meski hatiku berharap. Meski dalam mimpiku, angan-anganku, kau yang akan menggenggam tanganku, dan mengeluarkanku dari segenap hiruk-pikuk yang ada dalam kepalaku.
Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu diratapi.
Doaku akan selalu sama.
Semoga engkau menemukan ketenangan hati.
Dan gerimis siang ini menghantarkanku pada pengharapan-pengharapan bahwa suatu saat nanti, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.
Juni tinggal menghitung hari. Setelahnya, dia tak akan mendengar kabar tentangku lagi.
He made updates, about the good old days he had, and a sponsor letter for his graduate school he didn't continue to proceed.
I really wanted to hit that reply column and say something to cheer him up. But I knew I have to stop. It wouldn't cheer him up, it would just annoy him.
I mean ... it's his choice, always. And I don't have space, even any rights, to intervene. If he ever wanted me to cheer him up, he would reach out, not making updates.
I wish him all the best, eve though he doesn't need any of my wishes. It's the least I can do.
Say I haven't moved on, even though I said I have moved one so many times, I need to.
But indeed I haven't.
I wrote,
But again, I don't really know him, not even a tiny bit but his name, that makes me create the idea of him inside my own universe. That's why I really want to know him more, from his tiny forgettable habits, into the level deep enough to decode either to proceed or let go.
But he has the right not to let people know him. I just realised that it is kind of hurt if you let someone know you well enough only to cut you off and let you go afterwards. And I didn't mean that. Just ... is it possible to know him behind the screen?
If he wouldn't let me, so I won't. Guess I'd never know him.
Wanita Hebat Bali. Kira-Kira Usia Beliau Berapa? #PerempuanBali #WanitaBali #Bali
#NgurahSuryaKusuma Youtube Channel: Ngurah Surya Kusuma
I wonder what's the simplest thing that reminds you of me. And I ask myself, what's the simplest thing that reminds me of you?
Nothing. There's nothing simple that reminds me of you. It's always the whole picture. The scenery. The laughter. The awkward silence in the air. And of course, the train station. But they're intertwined with other pieces of memories. You just become one in a million, blend into the thickest solution in my brain.
And most importantly, we're nothing but two souls crossing path. Then I'd say goodbye to you too. It's the way I'm letting you go.
Goodbye.