Maheswari (3)
Jadi pengangguran benar-benar di level stress yang berbeda. Stress merasa gak berguna, stress beban orang tua, stress jadi bahan omongan orang, stress gak punya pemasukan, stress kalau ketemu sama teman-teman. Bodohnya ngapain aja selama dua tahun ini, menghabiskan waktu tidak melakukan apa-apa. Terlena dengan segala kenyamanan rumah, alasan klasik.
Anehnya kenapa Ayah dan Ibu santai banget melihat kondisi anaknya. Ya Allah aku bingung dan tak mengerti dengan diri sendiri.
Lalu kenapa aku setidak peduli itu dengan hidupku sendiri.
Mau sampai kapan aku hidup tidak memiliki arah dan tujuan seperti ini?
Butuh waktu beberapa malam merenungkan hal-hal yang sudah terjadi beberapa tahun kebelakang sambil merencanakan kembali tujuan hidupnya. Selama ini Mahes anak yang patuh, selalu mengikuti kemauaan orang tuanya. Kali ini dia akan meminta sesuatu.
...
Di meja makan keluarga
"Ayah, Ibu ada yang ingin Mahes diskusikan.
Setelah dua tahun pandemi dan Mahes dirumah alhamdulillah nyaman sekali bisa berkumpul menyaksikan dan mendampingi Ayah dan Ibu. Setelah pikir panjang Mahes perlu refreshing sejenak, melihat dunia bekerja hari ini, melakukan perjalanan bertemu banyak orang baru ataupun orang lama, sambil memikirkan kembali mimpi dan tujuan hidup Mahes."
Ayahnya terkejut mendengar permintaan Mahes
"Sudahlah ngapain begituan nak, gak perlulah itu di rumah saja temani kami." jawab Ayahnya tegas
Jawaban yang sudah diperkirakannya
Suasana meja makan hening dan menjadi tidak nyaman
Masalah hidupnya makin hari kian bertambah
Kenapa harus dia yang bertanggung jawab menjaga Ayah dan Ibunya di desa ini, sedangkan kakak dan adiknya bisa pergi kemana saja. Sungguh tidak adil.
Bersambung....












