Setelah Ibu melontarkan pertanyaan menohok padaku seputar jodoh dan uang, aku diam-diam mencoba berusaha lebih keras lagi. Berbagai pelatihan untuk mengasah kemampuan bahasa lainnya dan public speaking selalu ku ikuti, pun secara daring. Aku yang hanya tamatan sarjana pendidikan bahasa Indonesia merasa tak punya nilai lebih bila dibandingkan dengan guru mata pelajaran lain. Semakin hari aku semakin giat dan berusaha mencari uang tambahan kesana kemari. Kegagalanku dalam tes CPNS sebagai guru berkali-kali hingga 5 kali, membuatku akhirnya pasrah untuk mengabdikan diri di sebuah sekolah swasta dekat rumah. Gajinya tak seberapa, bahkan hanya setengah dari upah minimum daerah.
Selepas mengajar hingga pukul 2 siang, aku langsung menghampiri rumah salah satu murid kelasku, Devan. Orang tua Devan sengaja menawariku untuk membantu Devan memahami materi dan membantunya dalam mengerjakan tugas sekolah. Upah yang didapat lumayan untuk menambah uang jajan dan tabungan. Perlahan namun pasti, aku merasa pundi-pundi uang tabunganku bertambah.
Tak hanya mengajar, aku pun ikut kursus menjahit baju agar mampu menjahit baju sendiri dan membuka usaha sampingan. Uang tabunganku selama ini sampai kugadaikan untuk mengikuti kursus ini. Sayangnya uangku tak cukup untuk membeli mesin jahit bekas. Jari-jemariku masih kaku dan payah dalam menjahit. Rutinitas yang cukup padat setiap hari tenyata benar-benar membuat tubuhku lelah. Suatu hari saat aku pulang dari mengajar di sekolah, kepalaku terasa pusing dan mataku berkunang-kunang.
“Assalamu’alaikum …”, ucapku sembari membuka pintu
“Wa’alaikumussalam, cepet istirahat sana, kamu ketok pucet”, ujar ibuku
“Iya buk, lagi pusing banget”, timpalku sembari menaiki tangga menuju kamar.
Sore itu aku merebahkan diriku di kasur sprei biru kesukaanku. Ternyata hari itu juga awal mula sakitku. Paginya, kepalaku pusing hebat disertai demam. Paling masuk angina tau daya imunku menurun, pikirku saat itu. Akhirnya aku tak masuk kerja dengan izin sakit. Tapi nyatanya hampir dua pekan kondisinya tak kunjung membaik juga. Entah bagaimana tanggapan pihak manajemen sekolah terkait libur sakitku yang cukup panjang.
“Ya Allah, kenapa disaat aku berjuang keras untuk hidup lebih baik lagi justru aku jatuh sakit”, rintihku lirih sambal sedikit meneteskan air mata
“Ampuni hamba Ya Allah, semoga sakit ini menjadi penggugur dosa”, ucapku lagi
Uang tabunganku habis untuk kursus pelatihan jahit. Sementara uang gaji bulananku belum waktunya cair. Sedihnya, ibuku hanya makan ala kadarnya. Aku pun berobat gratis menggunakan kartu jaminan kesehatan dari pemerintah. Dokter mengatakan mungkin aku tak boleh terlalu stress dan banyak pikiran.
“Kepada siapa saya bisa membagi beban ini”, lirihku dalam hati.
Aku teringat Rose dan Kak Dian. Dengan lemas, ku tekan tombol panggil pada nomer Rose , namun tak ada jawabnya. Usahaku berlanjut dengan menghubungi Kak Dian, dan tak ada respon. Nihil. Maka dengan hati dan fisik yang sakit, usaha terakhirku dengan memberikan pesan kepada keduanya tentang kondisiku sekarang. Berharap pada manusia memang lelah, tapi apa aku salah mencoba membagi pesan dan beban.
Disaat usahaku mencoba meminta bantuan pada teman dekat, ibu datang. Ibu datang membawa parcel buah dan sembako. Aku terheran karena rasanya kami tak punya uang. Semenjak ayah tiada dan ibu sudah tak sanggup bekerja, aku anak semata wayang sekaligus menjadi pencari nafkah. Maka wajar saat aku tak bekerja tambahan, uang gaji sebagai guru saja tak cukup menopang hidup kami berdua.
“Bu, dapat darimana?”, tanyaku penasaran
“Emmm dari Pak Dani, ibu tadi ke sana nduk dan Ibuk coba minta bantuan uang kesana”, ucap ibuku dengan wajah tak berdosanya
“Ibu minta-minta?” aku terkejut sekaligus kesal dan sedih. Campur aduk rasanya
“Kamu sakit dan kita tidak punya apa-apa dirumah. Lagian Pak Dani masih saudara jauh kita, justru ini ladang amal bagi beliau. Rakpopo to nduk njaluk-njaluk ning ojo kerep”, tangkis ibuku
Tangisku pun pecah mendengar jawaban ibu… Aku kembali merasa frustasi dan kecewa pada kenyataan ini. Aku tak ingin ibu dan diriku terlihat lemah dan perlu dikasihani. Aku ingin menjadi Laila yang mandiri dan berdikari walau masih sendiri. Tapi kenyataan ini sungguh pahit. Aku yang sedang sakit ini ingin rasanya bangkit kembali walau jiwa dan fisikku sedang rapuh. Aku butuh penguat. Siapakah gerangan yang sudi menjadi penguatku…