Seminggu kemudian.
Secara mengejutkan sore itu mobil kijang panter berwarna merah tua mampir di halaman rumah kami. Siapa ini tanyaku dalam hati.
Ketika mobil terbuka, ada dua bocah kecil keluar berlarian menuju rumah. Ah ternyata ponakanku kak Qirani serta Mas Ar. Mendadak sekali, tumben tidak berkabar.
"Assalamualaikum bulek Mahes" sapa ponakanku
"Terkejut yah kami datang, gak angkat telfon sih dari kamarin" sapa kakak ku sambil memeluk
Mahes masih berusaha mencerna dengan baik kejadian beberapa menit yang lalu. Kedatangan kak Qirani dan keluarganya.
"Ayah, Mahes belum tau kami akan datang?" tanya Qirani
"Mas Ar ada perjalanan dinas untuk bertemu client di Kota Jambi dan Padang, lalu menawarkan kami untuk ikut mudik mengunjungi rumah Ayah dan Ibu. Yah tentu saja kami menyetujuinya mengingat sudah setahun lebih tidak pulang kampung"
.....
Malamnya, kak Qirani menghampiriku, bercerita perjalanan belasan jam untuk sampai ke rumah ini. Dia menanyakan kabar dan kondisiku, aku diam sejenak menimbang apakah perlu menceritakannya.
Kedatangan mereka mungkin menjadi perantara dan rejeki tidak terduga bagiku.
Pelan-pelan aku mulai ceritakan kondisiku, rumah ini, hubunganku dengan Ayah dan Ibu, mimpi-mimpiku, semuanya aku sampaikan dengan hati-hati.
Kak Qirani diam mendengar dengan seksama, sesekali bertanya tanpa menyerang.
"Kita coba pelan-pelan diskusi ke Ayah dan Ibu, selagi aku ada di sini bisa bantuin untuk jadi perantara kamu dek. Bertahap saja, pelan-pelan kita buat obrolan yang santai tapi tetap terarah. Tapi satu hal sebagai pengingat mengharapkan orang tua berubah menjadi yang kita inginkan rasanya tidak mungkin. Jadi mari kita usahakan yang terbaik" Kak Qirani menyampaikan pendapatnya
Kerlap kerlip bintang menemani teduhnya malam ini, tampak bulan sabit yang samar-samar menunjukkan terangnya.
Hatiku terasa lebih tenang malam ini.
Terima kasih diriku yang sudah berjuang dan bertahan sejauh ini.
Terima kasih sudah mau memulai hidup kembali dengan menghidupkan mimpi-mimpi baru.
Aku hanya tidak mau menyesal karena tidak pernah mencoba, tidak pernah jujur, yang kemudian hari menyalahkan orang tua atas apa yang terjadi dalam hidupku.
Selalu ada harapan baik setiap harinya, semoga esok giliranku!










