MusikMp4 - Lirik Lagu Sheila On 7 – Berai http://musikmp4.com/lirik-lagu-sheila-on-7-berai.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=tumblr #mp3 #mp4 #download
seen from Argentina
seen from T1

seen from United States
seen from United States
seen from Finland

seen from Tunisia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Slovakia

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from France
seen from Italy

seen from Türkiye
seen from T1
MusikMp4 - Lirik Lagu Sheila On 7 – Berai http://musikmp4.com/lirik-lagu-sheila-on-7-berai.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=tumblr #mp3 #mp4 #download
MusikMp4.com - Lirik Lagu Sheila On 7 – Berai http://musikmp4.com/lirik-lagu-sheila-on-7-berai.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=tumblr #musikmp4 #CrewZ #mp3 #mp4 #download
kau kemasi kasih sayangmu bergegas ambil langkah sendu yakinlah ini semua, yang harus kita rasa terjaga oleh kelam dan terimbas dengan suram #berai #berjelaga #cakrawala
Ketika haus akan lagu Indonesia.. dan koleksi yang dimiliki hanya lagu-lagu lama..
That's enough for me.. :)
MTVnya jadulbet.
Berai
Masih seperti hari-hari sebelumnya, aku berkawan akrab dengan awan pengucur hujan. Yang darinya, aku mengartikan hujan sebagai bentuk cinta yang bersahut-sahutan. Mendapati langit dan bumi bersisihan, namun saling berbalas harapan.
Lihat saja lautan yang ditenteramkan oleh matahari. Dari sana, uap-uap pembentuk hujan membumbung, lalu berkumpul menghampiri awan. Tak lama, langit menggenapi rindunya dengan rintik air.
Bagimu, hujan merupakan formula alami yang mencanduimu untuk bermelankolia. Sejauh apapun bumi merapatkan dirinya ke inti, ia akan basah bahkan larut dalam hujam tangis langit. Ilalang-ilalang yang berdiri lantang akan menunduk takluk mendengar langit bergemuruh. Tersapu angin yang mendingin.
"Kau tak pernah baca firman Tuhan?”, tanyamu. “Dia sendiri yang memisahkan samudera raya, ini dan itu, hingga jadilah cakrawala!". Kau percaya bahwa langit adalah bentuk abadi dari perpisahan, bahkan sebelum manusia diciptakan. Darinya, hujan ditumpahkan sebagai perayaan kesedihan.
Kau menghela nafas, memandangi muara kecil diseberang kita. Matamu sesekali menyipit, berusaha mengamati burung-burung kecil yang terbang berputar-putar. "Mereka mau kemana, sih?", tanyamu polos. Lucu sekali caramu mengecohkan aku dari sepasang mata yang tertimbun penat. Milikmu.
"Mungkin mereka sedang bingung menentukan arah pulang.", jawabku singkat.
Lalu kita berdebat tentang kisah-kisah lainnya. Tentang masa dimana daun-daun akhirnya memilih untuk menghabisi rindunya dan tergeletak jatuh, bersemayam di kulit bumi. Sesaat sebelum mereka terhempas, semesta akan membisikan langgam perpisahan, berupa desir angin musim dan kepak-kepak rampak milik capung penjaga muara. Beradu debu, bergulat liat. Besama dedaunan itu, tanah menjadi peraduan sendu.
Sekali-kali aku ingin tinggal di sudut matamu. Disana aku bisa mengerahkan seluruh tenaga untuk tak menjadikanmu serupa langit yang mengumpulkan kesedihannya dibalik awan. Aku akan memeluk setiap tetes air yang kau simpan di sudut matamu agar tak jatuh dan kau merapuh. Sehingga, tak perlu kau tersengal-sengal kepayahan melahirkan hujan mu sendiri.
Kali ini, aku membawakanmu sepotong sore. Perlahan, pijar oranye itu menuruni satu persatu anak tangga awan, lalu bersembunyi dibawah tudung dedaunan.
"Langit senja itu pahit", tolakmu. Keras kepala.
Masih seperti hari-hari sebelumnya, aku berkawan akrab dengan sepasang awan dibalik kelopak matamu. Cakrawala ku tidak begitu jauh, ia hanya sehamparan saja. Tapi, belum pernah kudengar ia menyahut rinduku. Mungkin, firman Tuhan memang benar.
Aku berdiri dan membalikan badan. Melangkah gontai menapaki papan-papan kayu jembatan tua. Rayakan saja perpisahan ini. Semaumu.