______ Syair singkat ini saya dapat dari sebuah buku, sepertinya berjilid hitam, sebagian besar jilid sudah habis dimakan rayap. Tergeletak usang diantara kitab-kitab klasik milik Abah, di atas rak buku yang terbuat dari rotan; lentur, reot dan berdebu. . Saya baca sekilas, sangat klasik. Ada nama Majnun terkurung dalam tanda baca, dan ada nama "Laila" terujar di awal desah sajak itu. . Saya tidak tahu judul, penerbit, atau tahun terbitnya buku ini. Hanya ada nomor halaman, h.112. Entah halaman sisanya ada di mana?. . Tertulis kalimat singkat "Sajak Rumi", terlingkari, sekitar 2 CM dibawah sebelah kanan kalimat terakhir. . Saya rasa, ini mungkin sajak Laila untuk Majnun yang kemudian dikutip Jalaluddin Rumi; . "Laila, bayanganmu dalam pandanganku, namamu mengikat lidahku. Kenanganmu dalam hatiku, ke mana harus kukirim kata-kata yang kurangkai ini?" . . Terasa lekat dalam hayalan, bagaimana kemudian kita dapat membayangkan dengan sangat, kecintaan Majnun pada Laila, telah membuatnya terampas dan terkuasai. Sehingga, mungkin, ia tidak membutuhkan mata untuk melihat Laila, tidak pula membutuhkan telinga untuk mendengar suaranya. Karena Majnun tidak pernah merasa Laila adalah raga yang terpisah dari dirinya. . Majnun merasa tak ada anggota badannya yang meminta jatah untuk dirinya sendiri. . Itulah mungkin yang membuatnya berteriak dengan bait syairnya. . Jika boleh 'ku meminjam syair ini, semoga cukuplah ia mewakili syair-syair yang tak pernah indah bisa kutulis untukmu, istriku @popynoviana31 yang selalu mengeluh mengharap sajak cinta dariku. Sama seperti Majnun; kau ada dalam semua sendi tubuhku, untuk apa lagi semua kata-kata itu? . . #berasamuda #smartbiem #biemco #biemdotco #bantenmuda #lailamajnun #jalaluddinrumi (di Basecamp Banten Muda)















