Bergidik,
Hari ini senin, pagi tadi tanpa sengaja pandanganku melintas pada sosok wanita berseragam yang sama dengan mu, rapih dengan sepatu pantofel mengkilap.
Aku bergidik, mengingat satu hari senin yang tanpa sengaja membawa kenanganmu padaku hingga saat ini.
Satu dari senin senin yang lain. Selain senin di mana ku hanya bisa memandangi punggungmu dari belakang, karena sampai terlambat dan harus berbaris di luar barisan.
Selain senin di mana ku berjinjit kaki, mencuri-curi pandang melihat ke arahmu di barisan depan, silih berganti dengan mata-mata lainnya yang juga melakukan hal sama.
Selain senin di mana dengan atau tanpa kehadiranmu semua terasa biasa saja, dan yang kupikirkan hanya bagaimana caranya untuk cepat pulang dan tertidur hingga lelap.
Sampai kepada satu senin yang datangnya tiba-tiba mengagetkan, hari di mana kita tengah berlomba berjalan cepat untuk lebih dulu sampai di gerbang masuk. Jangan tanya siapa yang kalah, karena aku ingat dengan jelas siapa pemenangnya.
Tapi anehnya biarpun telah menang di hari itu, entah mengapa sampai saat ini rasanya aku selalu kalah dari mu.
Kalah telak, habis di makan rindu yang tidak berujung temu.















