Kita menangisi luka yang disebut takdir, seolah Tuhan terlalu pelit pada bahagia. Padahal ada luka lain yang kita rawat diam-diam: dosa yang enggan kita akui sebagai sebab.
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from France
seen from Portugal

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Sweden

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from France
seen from China
seen from Australia
seen from Spain
seen from China
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Philippines

seen from United States
Kita menangisi luka yang disebut takdir, seolah Tuhan terlalu pelit pada bahagia. Padahal ada luka lain yang kita rawat diam-diam: dosa yang enggan kita akui sebagai sebab.
Gelap
Dulu saat berjalan di kegelapan, selalu ada yang bertanya. Perihal apakah aku baik-baik saja, perihal apakah aku bisa Melewati semua ini. Perihal apakah aku butuh ditemani atau tidak. Dan Perihal apakah aku butuh tissue atau tidak untuk menangis.
Padahal jawabanku selalu tidak, atau "aku baik-baik saja" tapi ia tetap mengikuti langkahku dari belakang, tanpa bertanya kenapa aku berjalan sambil terisak seorang diri. Tapi tidak sekarang
Katanya aku masih panjang langkah hidupnya. Katanya masa depan ku lebih cerah dari miliknya. Katanya aku masih bisa mendapatkan yang lebih segalanya dari dia. Katanya... Dan Katanya lagi. Tanpa dia sadar bahwa dia sumber poros ku. Tanpa dia sadar bahwa dia lah sumber energi ku untuk bertahan Melewati badai.
Kini aku memang berjalan sendiri, benar-benar sendirian. Tak ada lagi kamu yang bertanya bagaimana hari ku. Tak ada lagi kamu yang diam-diam mengikuti ku saat aku berjalan dalam gelap. Dan Tak ada lagi kamu yang mengusap kepala ku saat aku terisak.
Poros ku berantakan. Gelap. Dan aku sadar jika aku ternyata tak sekuat itu...
Pagi adalah jeda antara gelap dan terang, antara diam dan riuh. Ia datang perlahan, seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan hati-hati, tak ingin membangunkan dunia secara tergesa. Udara masih dingin, lembut menyentuh kulit, seakan memberi waktu bagi jiwa untuk kembali utuh setelah perjalanan panjang di malam yang penuh mimpi.
Embun menempel di ujung daun, berkilau kecil-kecil seperti permata yang ditinggalkan bintang. Angin tipis berembus, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi rumput, juga samar-samar bau kopi yang mulai diseduh dari rumah-rumah yang hidup kembali. Pagi memiliki cara unik merangkul manusia: sederhana, tapi selalu menyentuh.
Burung-burung yang sepanjang malam berdiam kini membuka sayapnya, melantunkan nyanyian yang seolah jadi tanda bahwa dunia memang diciptakan untuk terus bergerak. Suara ayam berkokok, langkah-langkah kecil di jalan, bahkan deru kendaraan pertama yang lewat—semuanya adalah nada yang membentuk orkestra pagi.
Di balik semua kesibukan yang mulai merayap, pagi sebenarnya adalah ruang bagi jiwa untuk belajar tentang arti awal. Bahwa tak ada malam yang terlalu kelam hingga cahaya tak bisa menembusnya. Bahwa setiap luka semalam bisa sedikit demi sedikit sembuh dengan hadirnya sinar mentari pertama. Pagi selalu menawarkan kemungkinan baru—entah untuk memperbaiki, entah untuk memulai, atau sekadar untuk menerima apa adanya.
Bagi sebagian orang, pagi adalah awal perjuangan: orang-orang berangkat kerja, anak-anak bersiap ke sekolah, para pedagang membuka lapaknya. Namun bagi yang lain, pagi adalah kesempatan untuk diam sejenak, menatap langit yang perlahan berubah warna, dan merasakan bahwa masih ada hidup yang berjalan di dalam dada.
Dan mungkin, itulah keajaiban pagi: ia tidak pernah sama, tapi selalu membawa janji yang serupa. Janji bahwa dunia akan terus berputar, bahwa manusia masih diberi ruang untuk bermimpi, dan bahwa segala yang runtuh semalam masih bisa berdiri lagi hari ini.
Pagi adalah bisikan lembut kehidupan yang berkata: “Kamu masih punya kesempatan. Mulailah kembali.” 🌅
Gelap
Since his original owner is Reverse, his appearance is also the same like him- very light skin, white hair and red eyes.
He also had enochlophobia and photophobia. He is very shy when he meet new people. He is uncomfortable in bright place. He speak very little, only when necessary. And he tries to avoid large gathering or crowds and sunlight as much as he can.
Despite both Black Hole and Lunar are his 3rd and 2nd tier, he always take the form of his 1st tier- Gelap. Namely, because Gelap's power already powerful enough without even need to evolve to his 2nd tier (Lunar) and especially his 3rd tier (Black Hole).
To unlock his 2nd tier- Lunar- Reverse must be present during a lunar eclipse. Meanwhile, for his 3rd tier- Black Hole- is still mysterious. The only way known to Reverse is that there must be a dying star near him- which is impossible on Earth.
I imagine his interaction with Boboiboy's seven elementals like the one from "Darkness Feelings" fanfiction. Also, I based Gelap's powers from the same fanfiction. (You guys should check it out. It's an amazing fanfiction!)
Also, we all know that Boboiboy's seven elementals are probably hundred years old because their respective original users lived long before Boboiboy was even born. That makes Gelap the youngest because Reverse was only 6 when he gained Gelap.
Although Gelap was not Boboiboy's elemental power, I like to think that the seven elementals treated Gelap as their youngest brother.
terpikat
mungkin aku terpikat saat rasa datang dalam penat. saat hidup terasa terlalu banyak memberi pekerjaan. melelahkan.
mungkin aku terpikat saat rasa datang dalam sesak. saat hidup terasa terlalu banyak memberi tekanan. menghimpit.
mungkin aku terpikat saat rasa datang dalam kelam. saat hidup terasa terlalu banyak memberi kegelapan. menyeramkan.
lalu aku terpikat dan terjerat.
Gelap
Dia bilang takut gelap, tapi saat tidur ia memejamkan mata.
.
.
@nidzomizzuddien
Relung “Mariana”
Laut itu cantik. Dari daratan manusia bisa melihat betapa eloknya gelombang naik turun. Menghantarkan angin sejuh, mengundang beberapa ikan moody untuk berlarian di permukaan. Itupun jika sedang beruntung dapat menyaksikannya. Adapun luas laut tidak pernah mengecewakan meski sering mendapat sapuan sampah dari daratan. Kelapangannya membuat pecinta lautan selalu betah untuk singgah melihat dari dekat. Bahkan banyak di tepian sana yang menikmati keindahan ekosistem yang masih terjaga. Namun, kesan “wah” tersebut mungkin dapat membuat seseorang tidak mengucap hal serupa kala sudah masuk ke bagian dalam. Tersebut “Palung Mariana”.
Manusia tidak bisa tinggal tanpa udara. Teknologi memutarbalikkan ketidaksanggupan menjadi apapun bisa dilaksanakan. Melalui proses yang tidak sebentar, manusia dapat memerintah ciptaan kecil berbasis teknologi pula untuk menjelajah tanpa kenal keluh kesah. Bukti tersebut dapat membuka cakrawala baru kala mengetahui jika laut terdalam pun bukan tempat yang cukup menyenangkan.
Oh, ini bukan pantun, juga bukan puisi. Hanya mau mengingatkan saja. Kalaupun laut yang mengitari bumi ini punya sisi gelap, langit yang biru itu yang juga punya sisi gelap, mereka semua menyimpan keindahan. Menghapus ketidaktahuan menjadi pemahaman adalah anugerah. Lalu, gimana dengan relung yang satu itu? Yang sekarang berdiam di dalammu. Sering muncul ke permukaan wajahmu dengan wajah sendu. Terus? Bagaimana?
Indahnya senja, pasti kan hilang ditelan malam.
Gaungmu, bisa tak lagi bergema walau urat suara meradang dan menghilang.
Dan kau bisa apa?
Tertunduk menangis tersedu-sedan.
Persetan pada yang namanya penyesalan.
Musafir telah pergi jauh.
Mengejar bayangannya di padang pasir.
Sia-sia katamu?
Tidak!
Musafir tidak punya rumah.
Musafir tidak punya tuan.
Musafir tidak punya TUHAN.
Kau, enyahlah!
.
.
.
.
.
.
*abaikan jari sarangheo saya. Karena norak sekali. Bertolak belakang dengan caption/puisi ini.
Kampret memang!
#akukesal
#musafir
#hilang
#meradang
#rumah
#padangpasir
#tuan
#tuhan
#pulang
#marimenulis
#makaryo
#olinnulis