Kita beda, kau tau itu.
Dari semula tak pernah ada ekspektasi apa apa tentangmu. Tentang bagaimana kita, sampai kapan kita, akan seperti apa kita. Aku membiarkan semua berjalan apa adanya. Aku adalah aku, begitu juga kamu.
Silakan berlaku semaumu, pergi dan kembali sesukamu. Aku adalah aku, yang kau tau begitu berbeda dengan mu.
Segala apa yang terjadi satu demi satu berlalu kita sama sama tau, kau selalu datang padaku dan aku selalu menyambutmu. Semua cerita yang kau bagi denganku, semua tanggapan yang ku tujukan padamu. Di dengar atau hanya sebagai angin lalu, aku tak pernah peduli pada putusan mu. Yang ku tau, saat itu aku hanya berkata apa adanya padamu. Tak ada harapan apa pun. Sebab kita sama sama tau, aku adalah kontradiksi dari sikap urakanmu yang Tuhan kirimkan dalam wujud manusia berkepala batu.
Ya, aku batu. Ku bilang A maka sampai akhir akan tetap A. Ku paparkan alasan, urutan, dan detil perkaranya padamu tanpa perlu ku reka atau ku potong beberapa bagian agar terlihat cantik dan menarik untukmu. Ooo, kau tau pasti aku tidak akan begitu.
Saat pembenaran yang kau inginkan, aku selalu akan memberimu kesalahan kesalah yang luput dari jangkauan. Kau tau bahwa aku tidak akan selalu berada di pihakmu, tapi kau selalu lagi dan lagi membawakanku segudang pembelaan yang pada akhirnya kau tau sendiri apa jawabku. Ketetapan yang sama. Berulang dan kau tidak pernah lelah untuk datang, berbagi, pergi, berlalu, datang, pergi, berlalu.
Hari ini kusadari bahwa ternyata beda di dalam kita adalah kelengkapan yang saling mengisi.
Sama bukan berarti presisi, beda bukan berarti jadi selisih.
Kau karibku, tak akan ku biarkan terlepas, tak akan ku biarkan terhempas. Sampai akhir.












