MELALUI pendekatan pembelajaran berbasis multisensori terbukti anak tuna rungu ternyata bisa bermusik. Hal ini dibuktikan oleh pengajar Pend
MELALUI pendekatan pembelajaran berbasis multisensori terbukti bisa bermusik. Hal ini dibuktikan oleh pengajar Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Drijastuti Jogjaningrum.
Melalui risetnya, ia membuktikan bahwa anak tunarungu tetap bisa bermusik. Riset itu dilakukan di SLB B YAKUT Purwokerto dengan melibatkan 31 siswa tunarungu berusia 8 hingga 13 tahun.
Hasilnya menunjukkan musikalitas tidak hanya bergantung pada telinga, tetapi juga dapat diakses melalui indera lain seperti penglihatan, sentuhan, dan gerak tubuh.
“Musik bukan hanya soal mendengar suara. Musik adalah pengalaman tubuh. Anak tunarungu bisa memahami ritme dan irama melalui getaran, visual, dan gerakan,” kata Dr. Drijastuti Jogjaningrum, Kamis (15/1/26).
Tiga jalur sensorik
Siswa katanya tidak diajak mendengarkan musik seperti pada umumnya, melainkan merasakan dan melihat musik. Getaran alat musik angklung dimanfaatkan sebagai media utama agar siswa dapat merasakan denyut dan tempo. Sementara itu, gerakan tangan, kode warna, simbol visual, dan bahasa isyarat digunakan untuk membantu siswa memahami struktur musik.
















