Waktu memisahkanku dengan buku yang ku bawa dari rumah. Sudah hampir pukul 8, sudah waktunya bekerja.
“Aku tidak ingin bekerja hari ini. Aku ingin membaca buku saja sampai sore. Boleh?” Kataku kepada beberapa orang teman di ruangan kerja kemarin tanggal 18. Pertanyaan retoris. Jelaslah tidak boleh. Eh, sebenarnya boleh-boleh saja kalau aku tega dan aku mau dihujat. Tapi takdir berkehendak lain. Rekan kerjaku yang satu baru saja mengirimi pesan dengan bahasa inggris yang intinya mengatakan bahwa dia tidak akan masuk kantor hari ini. Jadilah bahkan aku tidak sempat bermalas-malasan, malah menguras tenaga seharian, tanpa menyentuh buku itu selembar pun.
“Aku hanya butuh libur. Bukan liburan.” Kataku kepada diri sendiri di sore harinya. Ya, I need a day off. Aku hanya butuh libur. Libur saja tanpa keharusan untuk melakukan sesuatu apa-apa. Libur saja tanpa perlu kemana-mana. Liburan dua minggu lalu masih membekas di ingatan dan tubuhku. Sampai kini kulitku masih menghitam, kasar karena matahari membakar. Tak apa, aku bahagia.
Jadilah hari ini aku memutuskan untuk benar-benar libur. Bangun sedikit terlambat dari biasanya karena memang sedang tidak sembahyang. Menyengaja tidak sarapan. Mandi ketika matahari sudah tinggi. Makan pagi yang dilakukan di siang hari. Membaca buku yang berakhir ketiduran. Terbangun dengan terkejut karena tiba-tiba sudah sore. Menyesal sedikit karna hari ini benar-benar tidak melakukan apapun. Tapi tetap saja tidak beranjak dari kasur. Kemudian melanjutkan membaca buku yang tinggal beberapa bagian lagi.
Aku baru beranjak dari kasur ketika sudah ku selesaikan buku itu. Rasanya lemas kali ini tubuh. Terhuyung, tertarik kasur lagi. Duh ya ampun. Ayo semangat semangat.
Bapak datang menyuruhku untuk mencari sebuah berkasku yang aku yakin sekali ku simpan di rak buku di kamar. Tapi ternyata tidak ada. Berakhirlah aku mengubek tumpukan berkas lama di laci meja. Menemukan foto-foto ibu belasan tahun lalu, lalu segera menutupnya karena mataku sudah mulai basah. Aku rasa foto hanya benar-benar akan membuatmu bahagia ketika dia yang ada di foto itu masih ada di dunia yang sama denganmu. Selebihnya, lama-lama menatapnya pun tak mampu. Dan akhirnya berkas itu tak juga kunjung ku temukan. Sudahlah, ku cari besok lagi saja.
Setelah magrib barulah aku keluar rumah untuk mencari makan. Kalau bukan karena bapak mau makan, rasanya aku tidak akan keluar rumah hari ini. Tengadah. Langitnya bersih. Bintang memenuhi lautan langit. Mahakarya Sang Kuasa. Kamu tau, aku masih selalu suka langit dan segala hal yang ada atau terjadi padanya.
Kembali ke rumah. Di beranda kami memakan beberapa potong martabak manis kesukaan kami. Lalu makan nasi. Tentu saja aku juga makan nasi, tanpa paksaan. Pencitraan, aku ambil sedikit nasi hanya agar lepas dari omelan bapak. Kadang kamu butuh trik untuk menghadapi sebuah situasi. Kadang aku memang cerdas.
Lalu tiba-tiba aku ingin minum sesuatu yang hangat dan manis. Jadilah aku membuat segelas teh hijau hangat. Teh ini sudah beberapa bulan tidak juga habis. Waktu di Aceh kemarin kakakku membuatkan kami teh hijau ini. Ku bilang aku menyukainya. Selama disana kami juga selalu meminum teh ini. Maka teh ini dia bawakan sebagai oleh-oleh. Sejak itu aku mengganti tehku dengan teh hijau ini. Rasanya tidak kalah, bahkan dengar-dengar lebih sehat. Iya kah? Semoga. Sebentar lagi setelah teh hijau ini habis, akan ku coba teh lain. Earl grey tea, mungkin? Ku dengar dia tidak kalah banyak manfaatnya. Aku sudah memasukkannya ke keranjang belanjaku di aplikasi belanja. Diam-diam aku berharap aku tidak berakhir seperti jenis-jenis teh ini yang mudah digantikan.
Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam dan rasanya tulisan ini akan segera ku sudahi. Ngomong-omong, siapa pula yang membakar sampah jam segini? Baunya membuatku mulai batuk. Aku hanya bisa menggerutu disini, tak akan ku apa-apakan pula orang itu kalau tau siapa pelakunya. Aku memang penakut. Ah, bukan. Aku menghindari konflik.
Sudah cukup kan liburnya? Sudah puas malas-malasannya? Besok jalan pagi, beres-beres rumah ya.
Kamu sibuk memotret senja. Aku sibuk memotretmu. Kamu sibuk memuji senja. Aku sibuk memuja mu. Kamu sibuk berlari-lari mengejar senja. Aku masih saja sibuk berlari-lari mengejarmu. Begitulah aku dan kamu. Beriringan tapi tidak pernah bersatu.
Cuaca hari ini cerah berawan. Angin bertiup rendah dengan kecepatan 10 km/jam menambah sejuk hari ini karena segerombol awan selalu berarak keliling menutupi bumi dari panas matahari. Begitu lah, hari ini ceria, tapi teduh. Lalu senja merangkum hari dengan warnanya yang selalu memesona. Persis seperti kamu hari ini. Kamu, yang sedang bersemi. Tak jauh dari sana cuaca sangat mendung. Awan terlampau berwarna kelam, hitam. Angin juga bertiup lebih kencang. Mengerikan, kemungkinan besar akan terjadi badai. Saat ini disana gelap dan hampir saja hujan kalau dia tidak menahannya. Dia, yang sedang patah. Duhai, tahukah kamu?
Hatimu adalah negeri seberang yang di dalamnya aku tak punya ijin tinggal menetap. Hanya ijin berkunjung yang ku dapat. Namun tak apa. Aku akan berkunjung sesekali hanya untuk memastikan semua baik-baik disana. Lalu pulang begitu saja tanpa pernah mengungkit masa lalu. Membiarkan kehidupan disana berjalan seperti normal sebelum kedatanganku. Tapi kalau kamu senggang, butuh bantuan, atau berubah pikiran, singgahlah kemari. Selalu ada ruang untukmu. Bahkan untuk tinggal, menetap, disini.
I got this book in my hand
The color is blue
And here I stand
Try to know you
I know you love reading
As much as I love seeing the sky
But how about we go fishing
While talking eye to eye
Then you can lend me your book, your most favorite
That I don’t even ever heard before
I know I have to be careful, right?
Since I like things I didn’t before