ROMANSA DISTOPIA #2
(Image: Incredible Rooftop Photography of Shenzhen by Ivan Sidorenko, source: pinterest.com)
…kembali ke halaman sebelumnya…
***
"Bolehkah?", sambil mengulurkan tanganku. Ia langsung memberikan bungkus rokoknya kepadaku. Tampaknya ia begitu yakin hingga tak menanyakan lagi apa maksud 'bolehkah' dan tanganku ini. Mungkin saja kan maksudku 'bolehkah' ini untuk: bolehkah kamu memegangi tanganku sebentar untuk lompat turun dari batas rooftop ini? Tapi kali ini memang benar-benar maksudku ingin meminta rokoknya. Apa mungkin ia memang bisa baca pikiranku, makanya ia bisa tahu nama, akun instagram, dan pemantik yang aku punya? Apa mungkin ada ikatan emosional antara aku dan dia, hingga timbul di pikiranku tentang apa yang sedang aku pikirkan saat ini? Apa mungkin ia mempengaruhi pikiranku hingga aku bisa berpikir dan menerka-nerka seperti ini? Atau mungkin... Entahlah.
Aku menyalakan rokok itu, kemudian menaruh bungkus bersama pemantiknya di samping kanan, di tengah-tengah aku dan laki-laki itu. Sementara dalam hening melepaskan tarikan rokok, ia melanjutkan percakapan yang entah akan bermuara dimana.
"Ya, begitulah. Memang demokrasi negara ini anomali. Banyak parpol dicurigai hanya sebagai kendaraan elit meraih kekuasaan. Media hanya tertarik dengan berita negatif para politisi. Bahkan media juga bisa dijadikan alat propaganda jika pemegang sahamnya politisi. Sementara para kritikus dan ahli politik, hanya tertarik untuk menjadi komentator di media".
Ia membuang sisa rokoknya yang sudah habis itu dengan sembarang. Sesekali ia menghembuskan sisa asap terakhir yang masih tertinggal dalam paru-paru. Tak ingin lama dalam sepi, juga tak ingin lama pikiran ini dipenuhi rasa penasaran yang harus dilampiaskan lewat tanya.
"Tapi apa yang aku bilang itu benar kan? Emm... Begini. Buktinya media hanya suka berita negatif, pengamat pasif menunggu panggilan media, rakyat apatis dengan politik, parpol butuh suara, rakyat butuh uang. Maksudku, jika benar demokrasi kita anomali, lantas mau bagaimana lagi?"
"Demokrasi apa kamu bilang?"
"Anomali."
"Bukan, tapi yang sebelumnya. Sebelum anomali"
"Kita..."
"Kita? Pengen banget jadi kita...hahahaa", ia langsung menahan gelak tawa. Saat tertawa wajah laki-laki itu begitu familiar. Seperti seseorang yang sudah lama aku kenal, tapi aku lupa. Ia sengaja menekankan kata "kita" itu untuk aku ulangi. Dan itu modus mainstream. Tapi entah kenapa aku mulai salting lagi.
"Nggak usah sok ganteng deh!"
"Bukan, aku hanya... Ya, aneh saja mendengar pertanyaan seorang apatis yang menggebu-gebu tadi. Apalagi mendengar bahasa kamu yang tadinya sok formal: 'Saya Anda' tiba-tiba spontan berubah: 'Aku Kamu'. Eh, tapi jujur, itu lebih enak didengar"
Benar juga. Aku malu. Wajahku pasti tampak sangat bodoh saat ini. Wajar, aku benar-benar bingung dengan keberadaannya yang terasa aneh sejak awal.
"Ah, sudah! Jangan melebarkan pembicaraan. Pertanyaan tadi belum kamu jawab"
"Yang pasti. Parpol seharusnya menjadi alat rakyat untuk berdaulat. Sehingga kamu... yang buta ini, bisa diberikan pendidikan politik supaya melek. Para kritikus yang sering tampil di media juga seharusnya berada di dalam partai, agar bisa berperan dan tidak cuma komentar. Dan satu lagi, media. Media harus lebih memberikan berita yang berimbang"
"Lalu, ap..."
"Lalu kamu mau apa?, selanya yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu mau membiarkan rakyat enggan menyentuh parpol. Kamu mau parpol dibiarkan segan dan jijik mendekati rakyat", hening sejenak. "Lalu, apa kita perlu mengundang kembali rezim orba?!!", tegas laki-laki itu dengan nada tinggi.
Ia sedikit temperamental. Dari artikulasinya itu jelas menandakan kejenuhannya yang sudah sampai di titik kulminasi. Kali ini benar-benar aku tak tahu harus mengatakan apa. Tanganku yang sedang menjepit rokok dengan dua jari ini tiba-tiba gemetar. Lagi-lagi aku tidak berani untuk terus menerus menatap dirinya. Aku menoleh. Dan hanya bisa menunduk, karena tak kuat menegakkan kepala.
Saat ini, peran ketiga pihak yang ia sebutkan tadi memang belum ideal. Berita-berita yang ada terkesan membuat informasi jadi tidak objektif. Rakyat tidak mendapatkan informasi yang berimbang. Sehingga rakyat yang pasif langsung menerima informasi itu mentah-mentah. Dalam demokrasi, parpol menjadi komponen paling utama. Namun jika parpol saja dirusak, entah akan seperti apa nasib demokrasi. Yang pasti bangsa akan sakit.
Dalam keadaan seperti ini, sudah sepatutnya aku sadar bahwa suka atau tidak suka, kenyataannya, politik memang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Jika orang baik berkuasa, maka semua orang akan mendapatkan berkahnya. Namun jika orang jahat berkuasa, semua juga yang akan kena getahnya.
Mencoba melepas kikuk, aku kembali menghisap rokok. Menambah kepulan asap yang dari tadi terus mewarnai udara. Untuk kesekian kalinya, tawa sinis yang pelan itu terdengar lagi darinya.
"Maaf kalau aku berlebihan. Tapi memang ini yang aku takutkan di zaman sekarang. Mungkin akulah generasi terakhir politik", kata laki-laki itu terakhir.
Lalu ia berbalik, beranjak dari tempatnya berdiri.
"Hey, kamu mau kemana?"
Ia terus berjalan menghampiri ruangan segi empat dengan pintu yang setengah terbuka. Entah kenapa timbul perasaan berharap agar ia tak pergi secepat ini. Ia menyenangkan. Aku kembali menoleh ke hamparan luas dan mencoba mengalihkan perasaan ini. Tapi tak bisa. Aku terpaksa membalikan badan lagi, itu pun ia sudah hilang dari pandangan.
Lalu aku sadar, ia tidak lewat pintu yang setengah terbuka. Tadi ia berjalan terus sampai di balik belakang ruangan itu. Namun kenyataan di balik ruangan itu hanya atap kosong yang membuat jiwaku menjerit. Beberapa detikku tunggu, suara derit pintu yang aku harapkan tak kunjung terdengar. Aku gelisah, bahwa memang tak ada pintu di balik ruangan itu. Mustahil ia menembus lantai.
Aku merogoh tas, mengambil smartphone-ku. Tapi sama sekali tak ada recently follower instagram yang aku inginkan. Lantas aku melirik ke bungkus rokok dan pemantik yang ternyata masih ada di sampingku. Aku senang saat tahu kedua benda ini benar-benar nyata. Hanya saja, sepertinya aku mengenali bungkus rokok ini. Sontak aku langsung memeriksa tas. Namun tidak ada. Rokokku sama sekali tidak ada. Aku yakin semenjak datang ke sini tak sekali pun aku mengeluarkan rokok dari dalam tas.
Aku melipat kaki. Duduk bersila di atas batas rooftop. Merasa ada yang janggal, aku teringat sesuatu. Lalu aku memeriksa di balik tutupan atas bungkus rokok itu, yang kemudian menemukan sesuatu. Dan, astaga! ini elsid-ku masih ada dua lembar. Aku kembali melihat sekeliling dengan penuh keheranan. Aku bingung. Aku menunduk, mencoba merenung. Tapi ketika aku melihat kebawah... ya Tuhan! Ini tinggi sekali! Aku balik badan dan lompat ke belakang batas rooftop. Apa yang ku lakukan di atas sini? Tadi itu, aku hampir mati!
Pagi buta, 7 Juli 2047




















