Facts don't care about your feelings
Ben Shapiro
No title available
I'd rather be in outer space 🛸

izzy's playlists!
Mike Driver
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Claire Keane

if i look back, i am lost
Xuebing Du

Origami Around

PR's Tumblrdome
Noah Kahan

JVL

⁂
Lint Roller? I Barely Know Her
Peter Solarz
TVSTRANGERTHINGS

❣ Chile in a Photography ❣

Product Placement

Kiana Khansmith

#extradirty
seen from Germany

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from France

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States
@ramanoisy
Facts don't care about your feelings
Ben Shapiro
ROMANSA DISTOPIA #2
(Image: Incredible Rooftop Photography of Shenzhen by Ivan Sidorenko, source: pinterest.com)
…kembali ke halaman sebelumnya…
***
"Bolehkah?", sambil mengulurkan tanganku. Ia langsung memberikan bungkus rokoknya kepadaku. Tampaknya ia begitu yakin hingga tak menanyakan lagi apa maksud 'bolehkah' dan tanganku ini. Mungkin saja kan maksudku 'bolehkah' ini untuk: bolehkah kamu memegangi tanganku sebentar untuk lompat turun dari batas rooftop ini? Tapi kali ini memang benar-benar maksudku ingin meminta rokoknya. Apa mungkin ia memang bisa baca pikiranku, makanya ia bisa tahu nama, akun instagram, dan pemantik yang aku punya? Apa mungkin ada ikatan emosional antara aku dan dia, hingga timbul di pikiranku tentang apa yang sedang aku pikirkan saat ini? Apa mungkin ia mempengaruhi pikiranku hingga aku bisa berpikir dan menerka-nerka seperti ini? Atau mungkin... Entahlah.
Aku menyalakan rokok itu, kemudian menaruh bungkus bersama pemantiknya di samping kanan, di tengah-tengah aku dan laki-laki itu. Sementara dalam hening melepaskan tarikan rokok, ia melanjutkan percakapan yang entah akan bermuara dimana.
"Ya, begitulah. Memang demokrasi negara ini anomali. Banyak parpol dicurigai hanya sebagai kendaraan elit meraih kekuasaan. Media hanya tertarik dengan berita negatif para politisi. Bahkan media juga bisa dijadikan alat propaganda jika pemegang sahamnya politisi. Sementara para kritikus dan ahli politik, hanya tertarik untuk menjadi komentator di media".
Ia membuang sisa rokoknya yang sudah habis itu dengan sembarang. Sesekali ia menghembuskan sisa asap terakhir yang masih tertinggal dalam paru-paru. Tak ingin lama dalam sepi, juga tak ingin lama pikiran ini dipenuhi rasa penasaran yang harus dilampiaskan lewat tanya.
"Tapi apa yang aku bilang itu benar kan? Emm... Begini. Buktinya media hanya suka berita negatif, pengamat pasif menunggu panggilan media, rakyat apatis dengan politik, parpol butuh suara, rakyat butuh uang. Maksudku, jika benar demokrasi kita anomali, lantas mau bagaimana lagi?"
"Demokrasi apa kamu bilang?"
"Anomali."
"Bukan, tapi yang sebelumnya. Sebelum anomali"
"Kita..."
"Kita? Pengen banget jadi kita...hahahaa", ia langsung menahan gelak tawa. Saat tertawa wajah laki-laki itu begitu familiar. Seperti seseorang yang sudah lama aku kenal, tapi aku lupa. Ia sengaja menekankan kata "kita" itu untuk aku ulangi. Dan itu modus mainstream. Tapi entah kenapa aku mulai salting lagi.
"Nggak usah sok ganteng deh!"
"Bukan, aku hanya... Ya, aneh saja mendengar pertanyaan seorang apatis yang menggebu-gebu tadi. Apalagi mendengar bahasa kamu yang tadinya sok formal: 'Saya Anda' tiba-tiba spontan berubah: 'Aku Kamu'. Eh, tapi jujur, itu lebih enak didengar"
Benar juga. Aku malu. Wajahku pasti tampak sangat bodoh saat ini. Wajar, aku benar-benar bingung dengan keberadaannya yang terasa aneh sejak awal.
"Ah, sudah! Jangan melebarkan pembicaraan. Pertanyaan tadi belum kamu jawab"
"Yang pasti. Parpol seharusnya menjadi alat rakyat untuk berdaulat. Sehingga kamu... yang buta ini, bisa diberikan pendidikan politik supaya melek. Para kritikus yang sering tampil di media juga seharusnya berada di dalam partai, agar bisa berperan dan tidak cuma komentar. Dan satu lagi, media. Media harus lebih memberikan berita yang berimbang"
"Lalu, ap..."
"Lalu kamu mau apa?, selanya yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu mau membiarkan rakyat enggan menyentuh parpol. Kamu mau parpol dibiarkan segan dan jijik mendekati rakyat", hening sejenak. "Lalu, apa kita perlu mengundang kembali rezim orba?!!", tegas laki-laki itu dengan nada tinggi.
Ia sedikit temperamental. Dari artikulasinya itu jelas menandakan kejenuhannya yang sudah sampai di titik kulminasi. Kali ini benar-benar aku tak tahu harus mengatakan apa. Tanganku yang sedang menjepit rokok dengan dua jari ini tiba-tiba gemetar. Lagi-lagi aku tidak berani untuk terus menerus menatap dirinya. Aku menoleh. Dan hanya bisa menunduk, karena tak kuat menegakkan kepala.
Saat ini, peran ketiga pihak yang ia sebutkan tadi memang belum ideal. Berita-berita yang ada terkesan membuat informasi jadi tidak objektif. Rakyat tidak mendapatkan informasi yang berimbang. Sehingga rakyat yang pasif langsung menerima informasi itu mentah-mentah. Dalam demokrasi, parpol menjadi komponen paling utama. Namun jika parpol saja dirusak, entah akan seperti apa nasib demokrasi. Yang pasti bangsa akan sakit.
Dalam keadaan seperti ini, sudah sepatutnya aku sadar bahwa suka atau tidak suka, kenyataannya, politik memang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Jika orang baik berkuasa, maka semua orang akan mendapatkan berkahnya. Namun jika orang jahat berkuasa, semua juga yang akan kena getahnya.
Mencoba melepas kikuk, aku kembali menghisap rokok. Menambah kepulan asap yang dari tadi terus mewarnai udara. Untuk kesekian kalinya, tawa sinis yang pelan itu terdengar lagi darinya.
"Maaf kalau aku berlebihan. Tapi memang ini yang aku takutkan di zaman sekarang. Mungkin akulah generasi terakhir politik", kata laki-laki itu terakhir.
Lalu ia berbalik, beranjak dari tempatnya berdiri.
"Hey, kamu mau kemana?"
Ia terus berjalan menghampiri ruangan segi empat dengan pintu yang setengah terbuka. Entah kenapa timbul perasaan berharap agar ia tak pergi secepat ini. Ia menyenangkan. Aku kembali menoleh ke hamparan luas dan mencoba mengalihkan perasaan ini. Tapi tak bisa. Aku terpaksa membalikan badan lagi, itu pun ia sudah hilang dari pandangan.
Lalu aku sadar, ia tidak lewat pintu yang setengah terbuka. Tadi ia berjalan terus sampai di balik belakang ruangan itu. Namun kenyataan di balik ruangan itu hanya atap kosong yang membuat jiwaku menjerit. Beberapa detikku tunggu, suara derit pintu yang aku harapkan tak kunjung terdengar. Aku gelisah, bahwa memang tak ada pintu di balik ruangan itu. Mustahil ia menembus lantai.
Aku merogoh tas, mengambil smartphone-ku. Tapi sama sekali tak ada recently follower instagram yang aku inginkan. Lantas aku melirik ke bungkus rokok dan pemantik yang ternyata masih ada di sampingku. Aku senang saat tahu kedua benda ini benar-benar nyata. Hanya saja, sepertinya aku mengenali bungkus rokok ini. Sontak aku langsung memeriksa tas. Namun tidak ada. Rokokku sama sekali tidak ada. Aku yakin semenjak datang ke sini tak sekali pun aku mengeluarkan rokok dari dalam tas.
Aku melipat kaki. Duduk bersila di atas batas rooftop. Merasa ada yang janggal, aku teringat sesuatu. Lalu aku memeriksa di balik tutupan atas bungkus rokok itu, yang kemudian menemukan sesuatu. Dan, astaga! ini elsid-ku masih ada dua lembar. Aku kembali melihat sekeliling dengan penuh keheranan. Aku bingung. Aku menunduk, mencoba merenung. Tapi ketika aku melihat kebawah... ya Tuhan! Ini tinggi sekali! Aku balik badan dan lompat ke belakang batas rooftop. Apa yang ku lakukan di atas sini? Tadi itu, aku hampir mati!
Pagi buta, 7 Juli 2047
ROMANSA DISTOPIA #1
(Image: Incredible Rooftop Photography of Shenzhen by Ivan Sidorenko, source: pinterest.com)
Di ujung sepi Kota Jakarta, aku duduk menyendiri. Meresapi udara yang jauh dari kebisingan kaum urban. Aku suka rooftop ini. Tepatnya di atap gedung kosong ini, aku bisa melihat pesona luasnya kota. Menikmati sunyi, menatap jauhnya keramaian megapolitan.
Tapi tampaknya aku tidak benar-benar sendiri. Memang aku baru sekali menginjak lokasi ini, sehingga secara spesifik aku tak tahu jika ada orang lain juga di sini. Dari pinggiran beton batas rooftop tempatku duduk, aku melihat ada seorang laki-laki muda seumuranku mencoba menghampiri. Ia berjalan dengan gayanya yang flamboyan. Dentum langkah yang semakin dekat sedikit meyakinkan keberadaannya.
Ia berdiri tepat di samping kananku. Suara nafasnya terdengar jelas sampai ke telinga. Entah apa yang mau dilakukannya di sini. Merasa bukan halusinasi, aku pun bertanya mengapa ada orang lain ke sini?
Laki-laki itu sedikit membungkukan badan, bertumpu dengan sikutnya di batas rooftop dan sedikit mengangkat kepalanya menyaksikan bias lampu-lampu kota.
“Itu pertanyaanku, mengapa ada perempuan seperti kamu di pinggir rooftop ini?”, jawab laki-laki itu, sekaligus bertanya.
Aku diam. Membiarkannya tetap hening sambil kembali menatap cakrawala. Aku sudah bosan mendengar modus laki-laki yang ingin berkenalan. Kali ini aku tak mau terhanyut.
Ia termenung sesaat, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kiri kemeja flannelnya. Mengambil sebatang dan memasukkan lagi bungkusnya ke saku. Sesekali aku meliriknya. Ia tampak kebingungan saat merogoh-rogoh seluruh saku pakaiannya.
“Kamu punya korek?”, tanya laki-laki itu ketika memecah keheningan.
Aku meraih tas selempang yang aku taruh di samping kiri. Mengambil pemantik yang tersimpan di dalam tas, lalu memberikannya. Ia meraih dan langsung berhasil menyalakan rokok. Tawa kecil yang sedikit sinis terdengar pelan darinya. Mungkin aneh pikirnya, menanyakan pemantik kepada perempuan yang tanpa di duga benar-benar membawanya di dalam tas. Sembari mengembalikan pemantik kepadaku, ia kembali membuka ruang bicara.
“Kamu sudah lihat berita hari ini?”, tanya laki-laki tersebut yang mungkin ia harap itu akan jadi obrolan panjang dan mengusik sunyiku.
“Untuk apa? Beritanya masih sama seperti sebelumnya. Ada yang korupsi, ada yang nyabu di rumah dinas, ada yang ribut soal SARA”
“Bukan. Bukan tentang politik. Eh, tapi memangnya kenapa dengan berita-berita politik itu? Sepertinya kamu tidak suka”
“Ya, saya memang tidak suka dengan politik. Bosan. Benci. Atau mungkin sudah muak”, suasana hening lagi. Dia tak langsung melanjutkan obrolan. Aku melirik saat ia menghembuskan asap dari mulutnya dan sedikit dari hidungnya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah smartphone, mencoba menyibukan diri di tengah sepi.
“Kamu tahu Kevin Systrom dan Mike Krieger?”, lanjutnya bertanya.
“Tidak, siapa dia?”
“Dia penemu Instagram”
“Lalu apa urusannya dengan politik?”
“Ya, itulah kamu. Kamu sama sekali tak memperdulikan apapun yang menyebabkan sesuatu ada di sekitarmu. Kamu setiap hari berinteraksi lewat instagram, tapi tak sedikit pun peduli siapa yang telah membuat perhatianmu tersita di dunia maya. Sama seperti politik. Kamu tidak peduli ketika harga sepatu, harga buku, harga bensin, harga listrik, harga beras, biaya kos, biaya air, biaya internet, biaya kuliah”, ia menghela nafas sebentar, “biaya hidup… Itu semua tergantung keputusan politik”
Kali ini aku seperti kehabisan kata-kata untuk membalas. Kalimatnya jelas agak menyinggung. Aku menelan ludah, yang mungkin juga terdengar olehnya.
“Oh ya, aku sudah follow Instagram-mu, barusan”, tutur laki-laki itu sambil tersenyum menunjukkan layar smartphone-nya. Aku pun memastikan profile-ku dengan tatapan biasa dan jaim. Juga sedikit heran.
“Dari mana Anda tahu nama saya?”
Tawa kecil dan sinis itu sekali lagi aku dengar dari mulutnya. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, menahannya sekejap, lalu menghembuskannya dengan panjang. Asapnya membumbung di bawah sinar bulan yang remang. Sekali tarikan lagi, kemudian ia memulai obrolan.
“Dari mana? Entahlah. Tapi memang benar kan yang aku katakan tadi?”
“Yang mana?”
“Yang buta”
“Buta?”, aku tidak paham maksudnya, entah lelucon atau mencela. Yang jelas itu jayus.
“Ya, buta. Buta politik. Kebutaan yang paling parah adalah buta politik. Dia tidak mau mendengar, tidak mau berbicara apalagi berpartisipasi dalam peristiwa politik. Orang yang buta politik begitu bodohnya sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu itu tidak tahu bahwa akibat kebodohan politiknya lahirlah pelacur, anak terlantar, pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi busuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”
Laki-laki itu kembali diam. Aku pun terpaksa harus menuruti keheningan yang dibuatnya. Lagi pula aku kalah telak dengan sindirannya barusan. Seperti ada sesuatu yang membuatku salting hingga tak berani menatap dirinya lebih lama. Segera aku memalingkan pandangan ke luas kota lagi. Tapi entah kenapa kali ini aku tak ingin terlarut dalam sunyi.
“Ya, ya, kata-kata itu sebetulnya terlalu kasar untuk di dengar perempuan. Emm… Tapi saya suka kata-kata Anda barusan. Itu jujur!”
“Itu bukan kata-kata aku. Tapi kata penyair Jerman”
“Oooh…”
“Bertolt Brecht”, ujarnya langsung.
Sebetulnya aku juga tidak mengenali siapa yang ia sebutkan barusan. Dan aku pun hanya bisa ber-oh panjang lagi.
“Tapi memang itu kan faktanya. Berita yang sering muncul di media hanya tentang politisi-politisi busuk”
“Kalau soal itu, mungkin kamu pernah dengar istilah bad news is a good news…”
Ia menghentikan kalimat sejenak. Memberi kesempatan untuk menghisap rokoknya lagi. Aku berusaha mengingat-ingat kembali istilah itu yang memang tak asing menurutku.
Ia melanjutkan, “Semua orang ingin kaya, termasuk wartawan. Kalau media memberitakan keburukan, ya memang itu yang laku dijual. Justru kita perlu skeptis jika media memberitakan kebaikan. Apa memang benar-benar nyata baik? atau ada kepentingan tertentu di baliknya?”
“Ya mungkin benar kata peribasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Politik tetap buruk meski hanya karena ulah segelintir politisi busuk. Maka wajar kalau saya apatis”
“Inilah yang ironis, orang-orang apatis hanya mau melihat dari satu sisi. Politik bisa mempengaruhi hajat hidup orang banyak, tapi banyak orang bodoh tak peduli dengan politiknya. Sadar atau tidak, kini semua orang sedang berperan menciptakan kondisi apolitis. Masyarakat dunia digiring untuk bersikap apatis”
“Saya apatis karena memang sudah tak ada yang bisa diharapkan lagi dari politik. Lihatlah koruptor-koruptor yang tampil di media, mereka semua berasal dari hampir semua kategori partai. Mulai dari partai yang menjunjungkan demokrasinya hingga partai yang menyanjungkan agamanya. Lalu partai mana yang harus saya pilih? Jika memang diharuskan memilih, lalu partai mana yang ‘terpaksa’ harus saya anggap benar? Itukah demokrasi? Demokrasi karena terpaksa!!”
Helaan nafas panjang kali ini aku hembuskan jelas, yang mungkin juga suara desahannya ikut terbawa angin sampai ke telinganya. Aku merasa lega bisa mengeluarkan argumen yang demikian.
***
…bersambung ke halaman selanjutnya…
Sebuah Parodi Satir
(Image: news.detik.com)
...wawancara dengan staff khusus ketuhanan...
Matahari pagi ini sedikit canggung. Aku berangkat di saat horison masih gelap dan awan pekat pun masih meneteskan gerimis. Kini aku duduk di seberang beranda kantor pers, sembari menikmati sebatang rokok dan kopi panas di antara butiran-butiran air yang terus menetes di tengah kegamangan.
Tak bisa ku pungkiri, efek mendung pagi ini memang sedikit melankolis. Tetes demi tetesnya selalu melantunkan nada minor yang pantas jika didendangkan dengan melodi syahdu. Namun terlalu lama di balik gelap pun malah semakin menjemukan. Begitupun pikiran yang sudah tak sepakat dengan kemanjaan kelam.
Kondisi media yang kelam juga semakin membuatku jenuh. Jenuh untuk menikmati berita-berita kali ini, yang dengan kebodohannya membuatku geli. Sudah dua minggu ini aku hanya meliput anak-anak sanggar yang melakoni kisah Odipus Rex, semenjak wacana tragedi 65 diribut-ributkan lagi di media. Bukannya aku tak cinta produk dalam negeri, tapi justru karena tragedi Athena jauh lebih tragis untuk dijadikan berita. Aku pun ingin merasakan kembali euforia nyata ketika aroma daun ajaib mengiringi lagu Mind Mischief saat meliput konser Tame Impala di Senayan, yang mungkin jauh lebih baik daripada meramaikan berita hoax yang banyak tersebar di media sosial. Inilah momentum berita kegoblokan!
Dan kini aku mulai merindukan tugas sakral saat memburu berita di istana ketuhanan. Merekam kembali pernyataan-pernyataan yang sarat kemanusiaan. Hanya dengan informasi agung itu aku bisa memonopoli pemberitaan. Kerinduan itu pun sebentar lagi pasti terpenuhi. Sehabis binar cahaya di relung langit merona, aku siap bergegas menuju ke sana. Meski entah dimana letaknya.
*******
Setelah beberapa lama terbang, akhirnya aku terhempas di tujuan. Mendarat sore tadi menggunakan pesawat dengan bermodalkan lisensi wartawan. Meski sempat mengalami keterlambatan akibat turbulensi, namun pihak maskapai menolak untuk diberitakan. Aku pun memaklumi selama mereka mau menyediakan travel gratisan sampai serambi istana. Lagi pula negosiasi seperti apapun juga, sudah pasti aku menangkan selama masih bisa berdalih pada kode etik pers.
Begitu tiba di depan ring satu istana, aku langsung menyalakan sebatang rokok. Lalu mati begitu saja oleh kasarnya tiupan angin istana. Ternyata aku baru sadar, rokok sudah jadi fatwa haram di sini. Lantas aku pun mulai meniti langkah menuju pintu utama. Tak lupa mengabadikan beberapa situasi ke dalam kamera. Di depanku, terlihat dua penjaga berdiri dengan sigap. Aku tak menghafal nama keduanya, yang ku ingat mereka hanya menanyakan ada apa gerangan. Berkat jurus menyangkal serba retoris akhirnya aku diantarkan ke ruangan staf khusus ketuhanan. Sedikit ragu mencoba pecahkan alasan. Dan bertanya mengapa tidak ke ruangan Tuhan?
Penjaga itu sedikit melambatkan jalannya, menegaskan sorotan dan meyakinkan bahwa aku bukan lawan yang sepadan dengannya.
"Kamu takkan sanggup melihat Tuhan", jawab penjaga itu.
Suatu alasan rasional untuk tidak menjawab secara eksplisit, sekaligus menimbulkan suatu pertanyaan irasional lagi dibenak.
Semakin dekat, terlihat pintu ruangan salah satu staf khusus ketuhanan dan kami pun berhenti di depannya. Suara samar dari dalam mengizinkan penjaga tadi membuka pintu. Aku masuk dengan sambutan seperti biasa. Berjabat tangan dan duduk di kursi depan meja kerjanya. Setelah mejelaskan maksud dan latar belakang wawancara, aku mulai melemparkan pertanyaan:
"Kemarin ada minimarket ritail membuka lowongan kerja, mencari karyawan dengan syarat bukan beragama ***sensor SARA***, bagaimana menurut anda?",
“Wuahh… rasis itu!!”, tegasnya langsung.
“Bukankah itu untuk toleransi? karena karyawan yang beragama ***sensor SARA*** sudah terlalu banyak. Sehingga ketika mereka merayakan hari besar keagamaan, minimarket tetap bisa dibuka oleh orang beragama lain demi pelayanan kebutuhan saat perayaan”,
“Oh kalau seperti itu ya baguslah”, jawabnya.
Terkadang menilai suatu berita terlalu dini bisa membiaskan makna antara yang salah dan yang benar, sehingga yang seharusnya benar bisa dilabelkan sesat.
Lalu aku melanjutkan lagi dengan pertanyaan berikutnya:
"Apa arti jihad menurut anda?"
"Membela kebenaran agama dan melawan mereka yang kafir", jawab staf itu.
"Bukankah jihad itu sudah menjadi klise? Karena yang saat ini terjadi justru mereka saling membunuh atas nama Tuhan",
"Ya, yang seharusnya dilawan adalah diri sendiri dulu" tuturnya lagi.
Seakan menuding bahwa agama penyumbang peperangan terbesar di bumi ini. Jika benar adanya agama supaya tidak terjadi perang, kenapa justru saat ini agama menjadi penyebab peperangan besar?
Dari situ aku mulai memahami bahwa yang salah bukanlah agamanya, tapi ambisi manusia itu sendiri pada dunia.
Sambil menulis pernyataan staf tadi di jurnal, aku pun bertanya lagi. Kini terkait dengan jodoh:
"Apakah jodoh sudah ditakdirkan?"
Dia menjawab, bahwa jodoh memang sudah ada takdirnya, itu artinya ada kausa prima bahwa jodoh itu sudah ditentukan.
Dan aku pun mendapatkan pernyataan yang ambigu di sini, sekaligus pertanyaan besar; apabila LGBT juga menyangkut jodoh maka itu pun merupakan takdir. Apakah kita bisa menyalahkan takdir yang sudah ditentukan?
Yap!! Cukup dengan tiga pertanyaan itu aku sudah mendapatkan berita sekarang. Dengan pertanyaan yang sudah aku siapkan sedari awal, jawaban pun bisa aku arahkan sesuai misi wacana. Kini dengan jawaban-jawaban parsial itu, aku sudah bisa memanipulasinya menjadi berita menarik. Inilah rahasia terburuk media massa, dan tololnya aku juga terlibat di dalam rahasia itu. Akhirnya aku beranjak dari ruangan itu, dan bersiap mewawancarai staf-staf Tuhan lainnya; yaitu mereka (baca: orang-orang) dalam ormas militansi yang merasa dirinya paling benar dan paling dekat dengan Tuhan.
“The smart way to keep people passive and obedient is to strictly limit the spectrum of acceptable opinion, but allow very lively debate within that spectrum, even encourage the more critical and dissident views. That gives people the sense that there’s free thinking going on, while all the time the presuppositions of the system are being reinforced by the limits put on the range of the debate.” ~ Noam Chomsky
Semakin hari rasa ingin melangkah lebih jauh lagi semakin kuat. Saya pengelana, bukan petapa. Hidup saya lukis di perjalanan, bukan di dalam goa
“We are friends, don’t go falling in love with me.”
Asthma (2014) dir. Jake Hoffman
I'm feel that halu, fuckin' trippy. "Leave Kierkergaard out of this".
http://www.indiewire.com/2015/10/review-jake-hoffmans-obvious-and-tiresome-asthma-with-krysten-ritter-iggy-pop-and-more-111026/
Industri Kreatif Tanpa Kreativitas
(Image: www.studio.usgbc.org)
Jujur saya senang ketika tahu bahwa saat ini saya bisa menjejakan kaki di luar negeri. Ketika tahu bahwa saya bisa melangkah jauh melebihi ekspektasi. Dan tahu bahwa saya bisa bekerja di tempat yang memang sesuai dengan passion saya. Pekerjaan yang banyak menstimulasi kreativitas itu sama halnya dengan bermain membuat istana pasir di jam-jam sibuk. Sampai pada titik tertentu saya mulai sadar bahwa ruang yang saya gunakan untuk membuat istana pasir bukanlah pesisir pantai, tapi taman korporasi.
Tapi inilah pengalaman saya. Dan katanya pengalaman adalah guru terbaik. Kalau begitu saya akan belajar dari sini. Belajar pun akan nihil jadinya jika tidak kita tulis. Anggaplah tulisan ini adalah ringkasan catatan-catatan pelajaran yang saya dapat dari perguruan memoir. Bahkan pelajarannya pun saya tulis dengan smartphone di tengah transfer data, download musik dan sambil berbalas chat. Maka kemungkinan tulisan ini akan jadi tidak terstruktur pasti ada. Tapi apalah gunanya blogging jika saya tidak bisa menulis sesuka hati.
Saya awali pelajaran ini dengan membahas posisi saya yang bekerja dalam industri kreatif di Vietnam. Dan industri kreatif adalah mesin pembuat ilusi hiperbolik. Di sini saya harus membuat konsep untuk mempromosikan konten klien, yang seringkali harus dibuat seakan konten itu paling bagus, padahal biasa saja. Sebetulnya pekerjaan ini punya banyak kebebasan bereksplorasi estetik jika dapat project dari klien yang berpikiran terbuka dan ingin branding. Tapi lain ceritanya jika klien hanya ingin hard selling dan merasa bahwa dirinya seniman dagang paling hebat sedunia, maka biasanya saya tak punya banyak ruang gerak. Apalagi kalau dapat revisi-revisi dari klien yang kelihatannya cerdas tapi lebih sering tolol. Akhirnya saya harus kerja berulang-ulang.
Mungkin karena itu saya jadi punya kebiasaan baru; kebiasaan menunda karya. Memang agak bahaya kalau urasan passion bercampur dengan profesionalitas. Ketika bekerja dengan hati dan dedikasi, saya jadi tidak bisa sepakat dengan deadline. Kadang sebuah karya bisa begitu cepat saya hasilkan, kadang begitu lama. Dan hasilnya pun tidak bisa terprediksi. Ada karya yang banyak disuka orang-orang, padahal bikinnya hanya satu jam, bahkan hitungan beberapa menit. Ada juga karya yang hasilnya tidak banyak disuka orang, padahal lama bikinnya setengah mampus.
Popularitas sebuah karya tidak bisa diprediksi. Inilah proses kreatif yang saya tahu dan saya rasakan. Bagi saya, kreativitas adalah suatu keajaiban, mukjizat. Prosesnya tidak bisa dipaksakan apalagi diprediksi, tapi bisa direncanakan. Saya selalu bisa kreatif menciptakan ruang-ruang kreasi jika dibebaskan, bukan dikekang. Di sini saya memang benar-benar dibebaskan ketika berkreasi, tapi tidak dalam hal ide. Maka sedapat mungkin saya harus bisa belajar memisahkan antara karya pesanan dengan karya idealis. Dan itu pula sebabnya saya tidak pernah memposting karya grafis saya di kanal ini.
Saya tahu ini adalah resiko saya ketika bekerja di sebuah industri. Apalagi industri yang pemegang modalnya adalah orang-orang random. Maka mau tidak mau saya harus mengakomodir segala kepentingan-kepentingan kapital dengan kreativitas yang saya punya. Hal inilah yang membuat kepala saya jadi bising. Ketika homunculus di kepala saya mulai berdebat karena karya yang saya buat adalah ilusi yang minta diakui sebagai kebenaran agar kontennya laku di pasar maya. Sampai tulisan ini dikerjakan, saya sadar bahwa saya adalah pekerja kreatif: pekerja yang dipaksa untuk jadi kreatif demi tujuan pihak-pihak pemilik modal. Dan pekerja kreatif menjadi tidak kreatif!
Saya dan tim saya adalah salah satu elemen vital industri. Sebagai pekerja yang harus sepintar-pintarnya membuat ilusi konsumeris. Pekerja kreatif akan terasing dari karyanya sendiri tanpa harus merasa bertanggung jawab atas kreasinya. Toh yang saya buat itu karya pesanan. Maka pekerja kreatif bisa dibilang sama seperti orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan kreativitasnya. Dan di sini saya tak ubahnya buruh di tempat-tempat lain, yang hanya jadi baut dalam sebuah mesin besar yang bernama kapitalisme.
Kreativitas yang murni seharusnya tidak terikat dengan hal-hal komersil. Karena kreatif adalah tentang kejujuran, tentang hal-hal sublime yang tak berambisi uang. Pada dasarnya kreatif adalah kata sifat. Padanan kata yang berasal dari kata create, atau mencipta. Cipta adalah sifat transenden, sifat ketuhanan. Allah SWT itu kreatif. Tuhan YME itu kreatif. Sebab tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia karena dapat pesanan dari kliennya. Maka kreativitas adalah sifat ketuhanan yang paling jelas dalam diri manusia.
Kreativitas yang sebenar-benarnya harus tumbuh dari sebuah keisengan. Iseng karena semua kebutuhan sudah terpenuhi. Iseng karena butuh kerjaan yang lain untuk memenuhi egonya pribadi, untuk dikenang hingga jadi abadi, atau sesederhana untuk bermain-main membuat istana pasir. Fungsinya bukan untuk memenuhi kebutuhan primer. Seringkali fungsinya sejelas tak ada fungsi sama sekali, atau seabstrak mengubah peradaban dunia. Kreativitas adalah kebebasan penuh seorang manusia untuk mencipta, atas kesadarannya sendiri dan bukan atas suruhan, tekanan, ataupun dikte dari orang lain.
Namun dalam konteks urban nampaknya memang tak ada pilihan lain, karena semua orang butuh uang. Kreativitas jelas sesuatu yang bisa dijual. Dan sepertinya wajar jika saya menjual kreativitas lalu terasing dengan karya saya sendiri dalam dunia kapitalis. Sangat wajar. Sampai-sampai kepala saya malah mau pecah dengan segala kewajaran itu. Ingat, dalam sistem kapitalisme, struktur industri memaksa kita untuk ikut dengan waktu yang telah mereka tentukan: jam kerja, jam libur, itu semua mereka yang tentukan. Jam kerja kita mencari uang, jam libur kita hambur-hamburkan uang. Dan di situlah letak kesia-siaan hidup berasal. Dan di situlah kita gagal jadi manusia.
Seperti buruh-buruh lain, pekerja kreatif menjadi begitu klise dan tidak berideologi, atau berideologi tapi ideologi kapitalis. Maka berterima kasihlah dengan modernitas karena telah membuat manusia jadi konsumtif, bukan produktif. Manusia yang hanya hidup di sela-sela sampah peradaban, dan keluar menjadi buas ketika ada pemberontakan atau kesempatan revolusi. Dan ini yang masih belum bisa saya pecahkan. Karena akan jadi bullshit jika ada orang yang sama sekali tak butuh uang. Seni juga kalau mau estetik harus makan uang banyak, dan nantinya akan menghasilkan uang yang banyak pula. Lalu ketika sebelumnya saya berkoar-koar menulis nilai-nilai ideologi anti-kapitalis tapi sekarang saya masih terjebak dalam struktur industri karena uang, bukankah saya jadi munafik?
Memang sulit untuk jadi idealis sementara kita masih hidup dalam dunia kapitalis yang terus dibayang-bayangi dengan kacamata materialistis. Menginjak usia di atas 20, kemapanan jadi penting jika saya ingin berkontribusi lebih. Seniman atau orang idealis itu haram untuk miskin, kalau mau memaksimalkan karyanya. Dan sampai laman saya overload pun kontradiksi ini tidakk akan pernah ada habisnya dibahas jika seorang pekerja kreatif tidak punya kreativitas untuk menjadi manusia yang utuh. Maka lebih baik saya habiskan tulisan ini dengan logika berikut:
Ketika kita diharuskan memilih antara menjadi realistis untuk bisa makan dengan idealis untuk jadi lapar, jadilah cukup kreatif dengan menjadi idealis dan kenyang. Kalau belum bisa seperti itu, artinya kita tidak kreatif dan tidak pantas disebut sebagai manusia.
Kita hanya jadi baut !
Perubahan adalah sebuah kendaraan besar, untuk siapa pun yang tidak mau jadi batu
Afrizal Malna
(cartoon by Clay Jones)
Who the fuck is breitbart, hoax site? Racism? Bigotry? Such as neo-Nazi?
Dialog Fiktif #2
Saling Bias dalam Bias
Boy: Hai kamu apa kabar. Udah 5 hari kita nggak ketemu, jalan yuk?
Girl: Nggak ah, lagi mau pacaran sama tugas aja.
Boy: Masih aja tugas.
Girl: Abis cuma tugas yang nemenin aku dari kemaren.
Boy: Njirrr salah nanya gue.
Girl: Emang! karena kamu cowok dan aku cewek. Hukumnya adalah: cewek selalu benar dan cowok selalu salah. Udah gitu!
Boy: Serah kamu banget deh.
Girl: Kok gitu?
Boy: Bias gender sih.
Girl: Nggak gender sayang. Emang fakta lapangan begitu.
Boy: Faktanya nggak empiris, revisi lagi deh mendingan.
Girl: Iya aja deh.
Boy: Iya harus iyalah.
Girl: Ih kok maksa.
Boy: Nggak maksa, kamunya aja yang merasa gitu.
Girl: Iyadeh iyaaaa. Dasar patriarki!!
Boy: Patriarki emang udah kodrat kali.
Girl: Oh gitu! Terus apa kabar dengan ibu-ibu petani Kendeng yang disemen kakinya? Apa kabar dengan Drupadi yang ditelanjangin Kurawa? Apa kabar dengan Shinta yang loncat ke api buat ngebuktiin cintanya ke Rama!!
Boy: Terus maksud kamu, aku menindas secara simbolik gitu.
Girl: Bukan aku yang bilang gitu loh yaa.
Boy: Jangan terlalu feminis, nanti krisis identitas lagi loh.
Girl: Iya nih abis baca-baca pemikirannya Irshad Manji jadi pengen balik lagi deh hahaha.
Boy: Tuhkan kambuh deh.
Girl: Emang kenapa dengan lesbi? Masalah!
Boy: Alig!
Girl: Hey! Nggak semua feminisme itu lesbian. Aku kira kamu beda, nggak taunya semua cowok sama aja.
Boy: Sama! Aku kira kamu udah normal. Nggak taunya masih. Malah lebih parah, jadi biseksual. Jangan bilang karena rambut aku panjang makanya kamu bisa suka sama cowok.
Girl: Kenapa sih kamu suka mendiskriminasi begitu?
Boy: Bukan diskriminasi. Coba buka mata kamu dan lihat sekitar. Stereotype apa yang ada di masyarakat kalo ada orang dengan penyimpangan seksualitasnya.
Girl: Gini nih kalo orang kebanyakan makan teori-teori mainstream. Harusnya kamu yang buka mata. Sekarang kamu coba lihat apa yang terjadi di sekitar. Akibat stereotype, mereka jadi kaum inferior yang ditekan mayoritas.
Boy: She is not being rational.
Girl: Nggak usah sok rasional deh. Buktinya sekarang siapa yang lebih bias gender? Kamu kan! Makan tuh gender.
Boy: Ini bukan lagi bias gender, ini masalah ideologi kamu. Sampai kapan pun ideologi barat nggak akan pernah cocok sama budaya timur.
Girl: Yaelah lo aja atheis, nggak pernah sholat, pake belaga anti-barat segala.
Boy: Ini nggak ada hubungannya sama teologi yah. Saya bukan atheis. Dan mungkin saya emang agnostik. Tapi saya masih percaya Tuhan!
Girl: Apalah itu serah lo!
Boy: Yagitulah perempuan kalo udah keabisan argumen. Bisanya cuma terserah.
Girl: Sayang, jangan bilang kamu lupa. Feminisme itu nggak cuma ada di barat. Inget-inget deh di India ada Gayatri Spivak. Can The Subaltern Speak?!
Boy: Subaltern yang dianalisis Gayatri itu bukan feminisme, tapi lebih ke paham postkolonial dan dekonstruktif.
Girl: SD kamu pernah memperingati hari Kartini nggak sih? Nggak usah jauh-jauh ke India deh, sebelum eranya Kartini, di abad 17 Rohana Kudus udah duluan memperjuangkan feminisme di tanah minang.
Boy: Itu bukan sepenuhnya karena Rohana Kudus. Minangkabau emang dasarnya punya budaya matrilineal.
Girl: Bentar deh, nggak biasanya diskusi kita kayak gini. Ini bangsat mana yang lagi ngebajak chat cowok gue? hah?
Boy: Haha
Girl: Jawab!
Boy: (End chat). Bitch!
****
Disclaimer :
Percakapan ini hanya fiktif belaka. Penulis tidak bertanggung jawab jika ada pesan moral di dalamnya
Dialog Fiktif #1
Diam dan Pergi
Hazy boy: Kenapa Anda diam? Kenapa Anda pergi disaat pembahasan belum selesai?
Silent man: Memangnya kenapa, ada yang salah?
Hazy boy: Bukan... Saya kira Anda mabuk. Ini sangat kontradiktif dengan apa yang Anda katakan pada saya bahwa kita harus bersikap kritis
Silent man: Diam bagi saya seperti sikap retorik yang tak perlu ditanya lagi. Dan pergi adalah senjata pamungkas saya untuk mengakhiri deadlock
Hazy boy: Lalu dimana sikap kritisnya?
Silent man: Tadi itu kritis
Hazy boy: Itu bukan kritis! Anda diam lalu kabur
Silent man: sekarang saya tanya pada Anda, seperti apa sikap kritis?
Hazy boy: Berani mengatakan benar karena benar dan berani membenarkan jika ada yang salah
Silent man: Saya pikir, kritis bukan cuma sekedar berani berbicara. Tapi bicara berdasarkan fakta dan logika. Data dan rasio. Dimana data dan logikanya tadi?
Hazy boy: Saya rasa ia bicara gamblang, mungkin saja itu fakta. Tapi bukankah wajar dalam pembahasan kita beda persepsi untuk cari solusi?
Silent man: Dari awal dia tidak mau cari solusi, dia cuma mau ceramah
Hazy boy: Tapi ini bukan pertama kalinya saya lihat. Di forum sebelumnya Anda juga diam terus kabur saat ada mahasiswa yang berbeda argumen dengan Anda. Dan dia bukan lagi ceramah!
Silent man: Itu masalah klasik yang saya pribadi sudah bosan mendengarnya. Permasalahan yang diangkat itu lagi-itu lagi. Dia merasa bahwa mahasiswa komputer sudah seharusnya ngoding, bukan mikirin politik kampus. Padahal ia tak tahu sama sekali kondisi kampusnya, atau bahkan tidak berniat ingin tahu. Daya kritis sudah mati, dosen di kelasnya bilang salah maka ia pikir itu salah
Hazy boy: Dan Anda diam lalu kabur, bukannya mempertahankan argumen Anda?
Silent man: Kalau orang dari awal memang hanya berniat debat kusir, bukan berniat belajar dan diskusi. Saya langsung sadar betapa buang-buang waktunya saya berdebat dengan orang itu. Untuk apa saya memanjangkan debat yang kontraproduktif
Hazy boy: Saya kira Anda orang yang paling rasional. Ternyata saya salah! Anda masih belum paham dengan dinamika. Bahkan Anda hanya ingin didengar tanpa mau mendengar. Entah demokrasi apa yang Anda anut
Silent man: Oh ya saya rasa yang harus saya lakukan adalah belajar lebih banyak untuk berdiskusi sehat di forum. Berdiskusi dengan kondisi yang kondusif dan memastikan bahwa lawan bicara memang benar-benar mau diskusi. Kalau hanya mau debat kontraproduktif, baiknya saya diam lalu....
Hazy boy: (Berjalan menjauh tanpa kata)
Silent man: Woy!!! Mau kemana? Saya belum selesai bicara
Hazy boy: ...........
Silent man: Is that democracy?! Liberate your fuckin' ass hole!!!
(Pergi lagi tanpa solusi)
****
Disclaimer:
Percakapan ini hanya fiktif belaka, penulis tidak bertanggung jawab jika ada pesan moral di dalamnya
Pictures speak a thousand words. There is no reason to forget the meaning. Don't ever forget them!
It's gonna be burn on sun. It's gonna be wet on rain. It's gonna be hurt on lies. The only way is Adapt. (Realism sketch Conte and Graphite on Canson 220 gsm, by: ChenkaSp 2015, Adapt)
Rasisme
(Image: geckoandfly.com)
Saya ingat waktu kecil saya pernah bercita-cita jadi Presiden. Dengan kebijakan imajiner yang salah satunya adalah mengusir orang-orang tionghoa dari tanah Indonesia. Mungkin waktu itu terdengar konyol bagi anak-anak. Tapi sekarang, setelah saya ingat-ingat justru malah mengerikan. Sangat memprihatinkan.
Saya dibesarkan di lingkungan yang banyak sekali orang-orang tionghoa. Budaya paguyuban yang diturun wariskan dari sekitar saya hanya diperuntukan bagi orang-orang pribumi. Tak jarang saya membenci tingkah orang-orang bermata sipit yang lagaknya sok eksklusif di tanah yang bukan tempat asal-usulnya. Entah benci karena keyakinannya yang berbeda atau budayanya yang memang jarang berbaur dengan pribumi.
Namun di balik kebencian itu, saya pun sebetulnya sedikit banyak akrab dengan orang-orang itu. Saya punya tetangga tionghoa yang bersahabat dengan saya dari kecil sampai sekarang, meski tidak pernah satu sekolah dan satu 'tongkrongan' karena perbedaan yang mendominasi. Saya juga punya teman dekat orang tionghoa Islam yang banyak menghabiskan waktu dengan saya di tahun pertama masuk SMP, setelah itu tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang setelah ia pindah ke Batam. Bahkan dua orang mantan saya adalah perempuan yang berasal dari etnis tionghoa yang berbeda agama dan beda kampus dengan saya. Maklum, dulu saya sering main ke kampus tetangga yang mayoritas isinya orang-orang tionghoa Kristen. Juga selera oriental saya yang sedikit terpengaruh dengan tokoh Minke di buku-bukunya Pram.
Perbedaan yang sering saya temukan dari kecil sampai sekarang kemudian membetuk saya menjadi orang yang mengerti akan bedanya arti per-bedaan dan pem-bedaan. Saya menjadi orang yang baru tahu bahwa dunia ini rasis. Ratusan tahun kolonialisme sudah berhasil membuat negara-negara terkoloni jadi punya inferioritas kompleks di negaranya sendiri. Kaum kolonial kaukasian telah berhasil mewariskan budaya inferior pada ras mongoloid postkolonial. Only in your own country, you will be oppressed.
Saya tidak akan mengagitasi sentimen anti-asing atau pro-pribumi di sini, itu basi. Di negara tempat saya bekerja sekarang banyak berteman dengan pekerja kelas menengah yang berasal dari berbagai negara, dari Australia, Tiongkok, Filipina, Vietnam, Kamboja bahkan Thailand. Di sini saya sama asingnya dengan orang-orang tionghoa yang dianggap asing di negara kita. Bagi orang yang dibesarkan oleh budaya rasial dan tidak pernah membuka pikirannya mungkin akan sulit berbaur di tempat saya bekerja.
Dalam fenomena rasisme, banyak orang yang berprasangka rasis sebenarnya tidak pernah bersentuhan langsung dengan etnis yang dimusuhi. Artinya, prasangka berdasarkan etnis tumbuh kerap kali bukan karena pengalaman langsung, melainkan diperantarai oleh medium tertentu. Prasangka yang dimediasi ini hanya mungkin jadi pengetahuan kolektif melalui institusi yang punya perangkat berwatak massal, sehingga mampu mengalirkan gagasan dan mempertemukan orang-orang dengan potensi kemiripan posisi dan status sosial secara imajiner. Dalam konteks saya, institusi ini tak lain adalah keluarga.
Saya dibesarkan dari keluarga yang sangat rasis. Mereka sangat mudah benci dengan orang-orang tionghoa yang hidup berdampingan di sekitarnya. Berbagai persepsi ditekankan dari argumen-argumen payah, misalnya, perbedaan konsep religius antara kita yang disunat dengan mereka yang tidak, atau membandingkan segi finansial yang kerap dianggap tidak adil. Rasisme diekspresikan dan dikomunikasikan di dalam kalangan sendiri melalui beragam konteks, misalnya dalam percakapan sehari-hari, media, buku, debat, dan lainnya (Smitherman-Donaldson & van Dijk, 1987).
Pada dasarnya, prasangka rasis ada dalam praktik sosial sehari-hari yang dikembangkan dari berbagai variabel yang menekankan pada pembedaan konsep dari perspektif postkolonial: kolonialisme dan imperialisme, oposisi biner, bias gender, atau ideleogi dan identitas berdasarkan etnis, agama, kelas, dan sebagainya (Mudji, 2004). Prasangka beroperasi dalam tingkat teknis dan salah satunya dalam bentuk stereotipe. Keluarga kemudian mereproduksi stereotipe itu tanpa daya kritis untuk melacak akar permasalahan yang biasanya tertanam dalam kerangka struktur sejarah, budaya, sosial, ekonomi, politik dan juga relasi kuasa.
Maka sebetulnya statement rasis dalam arti apapun tetap salah. Saya jadi ingat demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang diadakan sehari setelah hari kebangkitan nasional tahun lalu. Dalam demonstrasinya, KAMMI membuat aksi anti-asing-aseng dengan simbol topeng Guy Fawkes, dan salah satu tuntutannya adalah agar "Jokowi-JK segera Berpihak dan Melindungi Rakyat Pribumi Indonesia dari Dominasi dan Ketamakan Asing-Aseng." Tak perlulah kita membahas penuh tuntutannya. Sejak awal tuntutan itu memang lemah argumen, miskin riset, dan kacau bangunan logikanya.
Saya ingat betul malam sebelum hari aksi itu, saya masih di kampus dan terjebak dalam perdebatan dengan mahasiswa-mahasiswa pergerakan kampus yang ikut membentuk aliansi aksi. Saya adalah orang yang menolak dengan tegas konsolidasi yang diprovokasi oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), LMND (Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi) dan LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Kalau pada saat itu tuntutannya untuk anti pada yang menindas dan merugikan negara, saya masih bisa terima dengan "anti-neoimperialisme". Atau anti dengan struktur ekonomi yang membuat perusahaan nasional kalah saing, saya masih bisa sepakat dengan "anti-neoliberalisme". Anti-Asing-Aseng adalah produk propaganda paling konyol sepanjang sejarah bangsa ini. Anti-Komunis saja masih lebih keren kedengarannya, meski secara pribadi tidak sepenuhnya setuju.
Wacana mereka tidak jadi perhatian saya waktu itu. Saya sudah biasa mengaitkan aksi-aksi mahasiswa pada saat itu sebagai demonstrasi kontraproduktif. Saya jauh lebih menghargai teman-teman mahasiswa yang benar-benar kerja turun lapangan, lihat petani, lihat buruh, bikin riset, atau bikin gerakan massa secara real. Saya jauh lebih berempati dengan teman-teman mahasiswa yang berdemonstrasi di kampusnya meminta penurunan biaya kuliah, penambahan beasiswa untuk yang kurang mampu, perbaikan fasilitas kampus, penangkapan koruptor akademik, pembersihan birokrasi kampus dari campur tangan parpol, penuntutan hak kebebasan akademik dan mimbar akademik daripada demonstrasi untuk mengejar karir kepartaian atau demi nasi bungkus.
Parahnya lagi aksi illegal mahasiswa UI tiga bulan lalu yang sempat meniupkan semangat rasisme dalam wacana "GEMA Pembebasan UI Tolak Ahok", yang berakhir dengan kecaman di media sosial dan sanksi lisan tulisan dari pihak rektorat. Ternyata kuliah di UI pun tidak menjamin otak seseorang jadi terpelajar. Saya tahu bahwa mahasiswa punya kebebasan berpendapat. Tapi selama kebebasan hanya digunakan untuk mendiskriminasi orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi politik dan menyangkut hak-hak politik seseorang, maka nonsense bagi saya.
Tapi ya sudahlah, semoga saja tidak ada lagi yang pendek akal dan marah-marah dengan membawa isu pribumi. Lagi pula gerakan massa yang lebih masif oleh umat Islam di Monas kemarin juga sudah terjadi. Kita ambil saja hikmahnya. Asalkan jangan mengambil hak suara orang lain saja. Saya juga tidak mau membuat kesepakatan politik apapun di tulisan ini. Terserah saja pilkada nanti mau bagaimana. Toh belum tentu juga saya bisa ikut memilih. Kalau pun bisa memilih juga tetap saja bagi saya itu hanya ilusi besar demokrasi. Jadi saya lebih pro-khalifah saja. Memilih naik onta daripada kendaraan bermotor. Onta ramah lingkungan, kotorannya pun lebih berfaedah daripada asap polusi. Refrensi:
Smitherman-Donaldson, Geneva, dan van Dijk, Teun A. (1987), Discourse and Discrimination, Detroit: Wayne State University Press Sutrisno, Mudji (2004), Hermeneutika Pascakolonial: Soal Identitas, Yogyakarta: Kanisius
Diakses dari books.google.co.id
Women is owner identity courage The symbol of world resistance She is the true meaning of the world Therefore the patriarchy must be eliminated!
Fuck impossibility! And thousands eyes of women in the world have to see Now welcome happiness The heaven from soles of mother’s feet are you waiting for
Ibu bisa menemukan sejuta alasan mengapa kamu harus kuliah lebih dekat dengan rumah, tapi ia tidak menemukan satu pun alasan mengapa kamu tidak bisa lebih sering pulang