Titip sapa
Senja tidak membencimu, Kelana
Jika itu terjadi, kupastikan mungkin ia tak ingin lagi berdamai denganmu
Sayangnya, sudah kulakukan. Berdamai dengan kita
Tapi mestikah kubahagia saat seseorang berkata “Kelana menanyakanmu, Senja”
Kau kenapa? Bukankah itu pintamu? Aku tak pernah menyudahinya saat itu. Kau mengutarakannya dan kutahu aku tak berhak untuk mengadangmu.
Bukankah kau sendiri yang ingin pergi? Kau yang dengan dinginnya berkata seolah tak ada lagi artinya. Kau pula yang menanyakan apakah kita perlu berjumpa untuk terakhir kalinya.
Aku tidak menyimpan dendam padamu, Kelana
Jika itu terjadi, kupastikan aku tak mungkin menyimpan kontakmu di daftar putih, bukan?
Tapi mestikah kubahagia saat seseorang menyampaikan kebimbanganmu padanya dan secara pelan “memilihku”.
Apakah selama ini memang ada kotak hatimu yang tak pernah terbuka sebelumnya?







