. Langkah Benny mulai gontai melewati semak dan rerumputan basah akibat guyuran air hujan semalam. Setelah berjalan seharian sejak kemarin sore, kali ini hanya sisa-sisa tenaga saja yang tertinggal. Benny sadar sedikit lagi ia dan teman wanitanya, Fabia sudah bisa berdiri di salah satu puncak tertinggi Pulau Jawa. Namun, sudah tak kuat rasanya untuk berjalan lebih dari ini. "Ayo Ben tinggal dikit lagi nih. Semua akan sia-sia kalo kita berhenti di sini," ujar Fabia menyemangati. Benny menghela nafas berat, mengelap peluh keringat dengan punggung tangannya. Seumur-umur inilah pengalaman perdananya menapaki hutan belantara seperti ini. "Ben, ayo lebih cepat." Fabia masih berseru nyaring. *** Sengatan matahari mulai terasa membakar kulit, pendakian panjang terbayar sudah. Mereka kini telah berada di puncak. Takjub dan terpana, mereka hanya bisa terdiam membisu memandang hamparan luas terbentang nyata, sepoi angin menerpa pelan, dan suara hewan hutan terdengar sayup. "Ben, kamu suka?" Ujar Fabia memecah kesunyian. Benny tak mampu berucap, hanya mengangguk pelan, masih teramat takjub. "Ben, mau kesana?" Fabia menunjuk pepohonan rindang beberapa meter dihadapan mereka. "Boleh, Bi. Kita bisa beristirahat disana." Benny menyetujui. Akhirnya mereka berdua duduk ditemani oleh kehangatan sinar matahari yang menyeruak di tengah dinginnya udara puncak gunung. Seketika rasa lelah di tubuh Benny menghilang bersama munculnya pemandangan yang menakjubkan ini. Terlihat di dalam kedua mata Ben, pantulan gambar puncak tertinggi lain di depannya, Gunung Rateu bersama dengan semilir angin yang terus-menerus menerpa. "Ben, suasana negeri di atas awan ini begitu damainya. Aku harap negeri kita kelak juga akan sedamai dan senyaman di sini," ucap Fabia sembari tatapannya menuju ke depan. "Mungkin saat-saat seperti ini jarang sekali bisa kita rasakan, Bi. Terlebih untuk kita yang hidup di antara hutan-hutan beton yang dibangun para manusia. Tak ada salahnya kan kita sejenak menghabiskan waktu menikmati semua ini hingga tengah hari?" "Kamu benar. Ini lah mengapa aku pernah ceritakan kecintaanku pada alam yang sesunguhnya, alami tanpa sentuhan tangan tak bertanggung jawab, merajah beton mengatasnamakan pembangunan, kenyataannya hanya sembraut dan hiruk pikuk yang tercipta." Benny hanya mengangguk pelan, jika fabia sudah melempar obrolan serupa ini, maka ia tak mampu menimpali. "Jika bisa memilih, aku ingin hidup di zaman sebelum penjajahan tercipta, zaman kerajaan yang penuh ketenangan tanpa keserakahan, menghargai, dan sadar bahwa tak semua alam harus dieksploitasi." Lagi lagi, benny hanya berdehem sembari meriukkan kunyahan kacang atom yang tersisa. "Keindahan rupa alam ini adalah kekayaan yang tidak ternilai. Jika bisa aku tak ingin pulang." Fabia masih melanjutkan. Benny pun mengangguk tanda setuju. Ia juga tak ingin cepat-cepat kehilangan keindahan fana ini. Keindahan yang mungkin tak bisa dirasakannya lagi ketika kembali pulang. *** Daun daun berguguran di siang itu membuat pepohonan yang meneduhi disekitar lokasi terpaksa kehilangan jati diri. Tak banyak lagi yang dapat mereka lakukan selain menatap teduh siuran pepohonan hutan, kembali larut dalam pikiran masing-masing. Matahari yang semakin membakar mulai menampilkan warna kemerahan di langit, isyarat mereka harus mengakhiri hari ini. Benny menggamit tangan Fabia, berpamitan pada alam, tanah, udara, dan segala hal yang telah mengukir kecamuk baru dalam diri Fabia- Tidak ada jalan pulang yang bisa ia terjemahkan. Dalam sekejab, Fabia merasa tempat ini telah berubah. Tak ada pesona lagi, sirna dan seolah tanpa arah. Fabia memejamkan mata, menarik nafas dalam, menenangkan diri. 'Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Tidak.' Fabia meyakinkan bahwa tak ada yang berubah, semua masih sama. "Bi?" Benny menyorot tajam manik mata Fabia, ia melihat sesuatu telah terlukis disana. "Bi, kamu?" Fabia masih terpaku. "Bi?" Benny mengulangi lagi. "Tak apa Ben, kita teruskan saja berjalan. Sebelum larut malam kita sudah harus sampai di basecamp.", jawab Fabia sekenanya. Fabia sadar, ia harus menguasai dirinya. Ia tak boleh kalah oleh rasa takut atau setidaknya tidak memperunyam keadaan dengan menyimpannya sendiri. Ben mungkin tidak tahu semenjak turun dari puncak mereka tidak lagi berjalan berdua. Ada seseorang yang membersamai mereka. Benny mengambil jalan yang kemarin mereka telah lewati sambil terus menerka apa yang terjadi pada Fabia. Ia bukan seorang pengingat rute yang baik, maka dari itu setiap jalan yang telah dilewatinya selalu diberi tanda berupa kain kuning dan diikatkan pada pepohonan. *** Hari semakin larut. Matahari mulai menutup dirinya dibalik awan-awan yang bergumul di tepian tapal batas antara dunia yang kasat mata dan tak kasat mata. Suara burung gagak menjadi sebuah pertanda, bahwa cahaya yang mulai langka membuat Benny dan Fabia makin waspada. Mereka akhirnya memasuki sebuah hutan yang amat gelap. Penerangan berupa senter bekal bawaan mereka segera digunakan untuk mempermudah langkah. Perlahan-lahan mata mereka terbiasa dengan suasana gelapnya hutan. "Ah, kemarin rasanya aku tak melewati jalan ini." Bathin Benny dalam hati. Pikiran Benny semakin kalut. Ia melirik arloji dipergelangan tangannya, setengah 8 malam. Artinya sudah hampir 2 jam lebih mereka mengintari hutan tak berujung ini. Entah lah, entah dimana ujung yang mereka cari. Tidak usah memimpikan basecamp, keluar dari sini saja seperti suatu kemustahilan. "Ben, kita tidak salah rute kan?" Fabia mulai yakin dengan batinnya, tak ada satu pun tanda kuning yang ia temukan sedari tadi. Terlebih ia tak melihat bekas jejak kaki atau jalur yang tercipta disini. Sementara Benny masih diam membisu, tidak membenarkan pun menyanggah pertanyaan Fabia. Benny pun kebingungan mengapa tidak ada satupun tanda ikatan kuning yang ia temui. Langkah Fabia mendadak berhenti dan seketika menarik lengan Benny. "Bi, mengapa?" Suara Benny mulai berat. Ia menyorot arah pandang Fabia. Lima meter dihadapan mereka, pohon yang semestinya tak boleh ditemui di hutan ini-Pohon Birui. Pohon dengan ketinggian nyaris 4 meter, rimbun berdaun lebat. Tak ada yang aneh dengan rupanya, hanya saja daunnya berwarna kehitaman membuat ia tampak berbeda. Konon, kepercayaan para pendaki adalah menemukan pohon itu sebagai pertanda buruk. "Bi, kita tersesat." "Tidak. Kita Terjebak!" Fabia mempertegas. Bersambung~~ Cc : @tumbloggerkita @kitaclubofficial @menujusenja *WritingprojectkolabKITABnWC