"kepangmu bagus, boleh aku pegang?" Dengan polosnya aku menjawab "Boleh". Lalu Awan berkata "Lucu ya? Aku sudah lama tidak lihat dan pegang kepang rambut. Tapi kepangmu ini kecil, cuman sebagian rambut. Biasanya orang-orang akan mengepang menjadi satu ikat atau dua ikat. Punyamu keliatan lucu, karena kecil. Kamu memang suka mengepang rambut ya?" Aku jawab "Suka. Setiap hari aku kepang rambut. Kata ibu biar jadi ciri khas" Awan berkata lagi "Berarti aku bisa setiap hari lihat kepang kecilmu?" Aku tidak mengerti arti dari pertanyaan ini. Apakah dia bertanya karena senang melihat kepangku, atau hal lainnya, aku tidak tahu. Aku hanya bisa mengangguk. Akhirnya aku mengerti mengapa Awan bertanya hal itu kepadaku. Setelah seminggu kemudian, Awan akan selalu menanyakan hal ini kepadaku "Hai, boleh pegang kepangmu?" "Kepangmu rapi sekali, boleh pegang?" Dan aku selalu menjawab "Boleh tapi jangan lama-lama", "Boleh, tapi jangan ditarik rambutnya", dan yang terakhir kali "Jangan tanya lagi. Aku izinin. Tapi jangan lama-lama, cuman 3 detik. Satu lagi, jangan ditarik rambutnya, pelan-pelan ya wan!" Sepertinya Awan akan meriang jika sehari tidak bertemu dan memegang kepang rambutku. Hari ini dia bertanya lagi. Pertanyaan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Bukan tentang kepang rambutku. Juga bukan tentang diriku. Melainkan tentang kita. Aku rasa setelah ini, cerita kita akan berlanjut. Pertanyaan Awan akan menjadi batu pijakanku untuk memulai menceritakan ini. Pertanyaan sederhana sekaligus manis yang pernah aku dengar. Rasa manis kersen merah yang selalu aku petik di depan rumah, aku pikir rasanya manis seperti Awan saat tadi pagi.
"Chamomile, apa kita bisa berteman? Oh engga jadi deh, ganti pertanyaan. Chamomile, mau nggak berteman denganku? Manfaatnya? Apa ya? Hmm, kayaknya kamu nanti bisa manfaatin aku. Kapanpun dan dimanapun. Kalau setuju, ayo bersalaman untuk kita" . Book From Chamomile
















