Nikmati dengan Konsekuensi nya
.
Sudah menjadi keistimewaan manusia di bekali akal oleh sang pencipta. Maka di setiap persimpangan hidup, kita di beri kebebasan untuk memilih jalan untuk di tempuh. Jalan takwa atau jalan fujur, begitu lah garis besarnya. Tak lupa dengan pilihan-pilihan sepele seperti, memilih baju ke kondangan, memilih sepatu dll.
Maka yang terbaik adalah mengarahkan keinginan kita untuk menempuh jalan kebaikan, keberkahan, ketakwaan. Idealnya. Sehingga, bagaimana bentuk nyata jalan yang dipilih menjadi tak terlalu masalah jika kita tau dasar keputusan kita. Tinggal di hadapi, hayati, nikmati. Pun dengan pilihan-pilihan lain, entah itu melibatkan Allah ataupun tidak. Sebagai manusia kita belajar satu keadaan bernama konsekuensi. Konsekuensi dari setiap pilihan kita.
Lucunya, ide materi ini muncul di saat kaki ini mengayuh sepeda. Dengan telinga mendengar al masurat lantunan muzzamil hasballah. Di tengah laju sepeda yang makin berat, terlintas pikiran ini. Aaa... Ternyata memilih sepeda pun ada kosekuensinya. Sepeda yang kupakai adalah sepeda milik dishub kota Bandung, yang memang di sewakan untuk warganya. Murah saja, Rp. 1.000,- untuk sejam pertama, jam berikutnya di tarif Rp. 2.000,- berjenis sepeda onthel. Bisa di bayangkan sepeda yang dipakai wanita anggun ber gaun putih dengan rok lebarnya, dan membawa bunga di keranjang depannya. Sama sekali bukan road bike atau downhill atau yang lainnya, it's citybike.
Namun jalanan kota bandung tak semuanya rata, bahkan di jalur yang ku lewati banyak jalan menanjak. Sehingga mengayuh sepeda ini sungguh akan menuntut kaki bekerja lebih keras.
Satu, dua, segerombol orang bersepeda pun melewatiku dengan santainya. Mmm mungkin tak sesantai itu juga si, saya yakin mereka pun bekerja keras. Hanya saja kelihatannya lebih mudah. Ooo,, mungkin karena sepedanya bagus, pikirku.
Kemudian pikirku melayang, mungkin ini seperti hidup. Orang yang punya kemampuan untuk memilih kendaraan yang dipakainya, akan lebih mudah melewati medan yang ada (tentu disesuaikan dengan medan yang dipilihnya, mau jalanan kota, desa, off road). Dengan kemampuan itu mereka bisa memilih jenis kendaraan mereka, jenis ban, warna, jok dan lainnya. Mungkin jalannya sama berat, tapi mereka lebih nyaman.
Berbeda dengan orang yang tidak punya kemampuan memilih kendaraanya, mereka mengeluarkan biaya seadanya dengan konsekuensi mendapat standar yang ada. Jenisnya sama, warnanya sama, kemampuannya pun rata-rata. Sehingga mungkin agak tidak nyaman saja.
Tapi dua-duanya sama berkendara, sama bersepeda (itu hakikatnya). Bahagia atau tidak, kembali ke dasar mereka memilihnya, bisa saja dua-dua nya sama bahagia, sama-sama berkah dan sama-sama sehat badannya.
@zingiberia
27 sept 2020














