Serba-Serbi BPRI by:Bunda Tatty Elmir
“Apa yang dapat membuat suatu Bangsa berdaulat? Jawabannya adalah pendidikan.
Apa yang membuat NKRI ini bisa mandiri dan punya harga diri ? Jawabnya tentulah juga pendidikan.
Apa yang membuat suatu negara kokoh? berkepribadian dan punya martabat di mata dunia? Jawabnya lagi-lagi pendidikan”.
Sama seperti teman-teman semua, sayapun meyakini itu :’)
Karena itu nafas saya tidak pernah sesak, tulang saya tidak pernah ‘remuk’, meski berkali-kali ‘jatuh bangun dan terantuk-antuk’ dalam upaya mendorong anak-anak muda untuk pergi merantau dan mencari ilmu sejauh-jauhnya dan sebanyak-banyaknya. Siapapun penguasa yang saya kenal, usulan saya tetap sama. Agar mereka lebih SERIUS memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada anak negeri, untuk meraih pendidikan tinggi di berbagai kampus terhormat di luar negeri.
Mengapa luar negeri? Karena hanya dengan merantau orang dapat sebenar-benarnya menguji segala potensi diri. Dan tentulah saya termasuk salah seorang dari begitu banyak yang berbahagia, dengan banjirnya tawaran beasiswa saat ini. Dan kelahiran Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) bagi saya merupakan salah satu cara Allah mewujudkan mimpi-mimpi saya dengan cara yang jauh lebih indah. Mengapa? Bukan saja karena melimpah ruahnya sumber dana, namun juga keterlibatan anak-anak muda yang bekerja sungguh-sungguh di dalamnya. Ini merupakan semangat baru yang luar biasa, yang bisa diharapkan dapat merekrut orang-orang yang benar-benar berhak dengan cara-cara yang lebih bisa dipertanggung jawabkan.
Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini. Selama ini negara bukannya tidak pernah mengalokasikan dana untuk beasiswa. Begitu banyak namanya, begitu banyak pengelolanya. Namun sayang diduga hanya bisa dijangkau orang-orang tertentu, yang sebagian besar berada “Sejengkal” dari lingkar kekuasaan. (Mohon maaf jika saya keliru).
Meski merupakan suatu kecintaan, namun tidak mudah bagi saya memutuskan saat menerima kehormatan sebagai interviewer dan reviewer dalam seleksi tahap akhir beasiswa Presidensial BPRI yang baru-baru ini diluncurkan untuk pertama kali.
Saat LPDP mengundang, saya tidak serta merta menerima. Saya merasa sungguh “kecil” dan tidak layak menguji calon orang-orang “besar” cerdas hebat yang baru saja diterima di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia. Awalnya saya tidak hanya menolak, namun juga merekomendasikan mereka yang jauh lebih berpengalaman menyeleksi calon penerima beasiswa berbagai lembaga besar, dan juga mengusulkan beberapa nama lain yang saya nilai lebih kredibel. Dan pihak LPDP tetap saja gigih meminta saya kembali mempertimbangkan tawaran tersebut dengan berbagai alasan. Utamanya mungkin karena takdir yang selama ini membawa saya belasan tahun mendampingi para aktivis muda dari seluruh Indonesia belajar dan mengasah kepemimpinan dan kepekaan sosial bersama di Forum Indonesia Muda dan berbagai lembaga lain.
Lalu ketika saya akhirnya bersedia atas pertimbangan dan dukungan seluruh keluarga, ternyata pihak LPDP justru telah mendapatkan orang lain. Hehehe…saya merasa seperti peserta cerdas cermat yang telat menjawab dan keburu dihentikan bel berbunyi “Tit-tooooot” hahaha :P
Akan tetapi saya tidak tahu persis apa alasannya, ketika beberapa saat setelah itu pihak LPDP lagi-lagi menghubungi saya dan meminta kembali saya berkenan turun tangan menjadi salah seorang dari tim yang akan menyeleksi 78 kader cemerlang dari sipil dan 58 pemimpin muda militer. Ya Bismillah.
Bea siswa Presidensial ini merupakan teroboson baru pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang akan menjadi legacy berharga dan akan dicatat kelak dalam tinta emas sejarah Indonesia. Konon pak SBY akan turun tangan sendiri menentukan di detik-detik terakhir penentuan peserta. The Indonesian Presidential Scholarship ini merupakan upaya strategis untuk mewujudkan generasi emas Indonesia yang dipersiapkan untuk memimpin Bangsa, di era seabad kemerdekaannya nanti .
Tidak sama dengan beasiswa Pendidikan LPDP lainnya, BPRI jauh…jauh lebih istimewa. Fasilitas yang ditawarkan begitu tumpah ruah. Komponen yang dibiayai mulai dari biaya pendaftaran, tuition fee, tunjangan buku, tesis/disertasi, seminar, publikasi, wisuda, transportasi dari Indonesia ke negara tujuan pulang-pergi, asuransi kesehatan, visa, tunjangan hidup, tunjangan kedatangan, plus tunjangan keluarga untuk 2 orang, dan berbagai jaminan yang dibutuhkan dalam keadaan darurat.
Selain itu, beasiswa ini juga menanggung biaya pelatihan dan insentif dana penelitian. Bonus 50 juta untuk program magister dan 100 juta lainnya untuk program doctor, pastinya sangat menggiurkan. Dan tentunya bisa diterima akal sehat, jika untuk mendapatkannya harus TIDAK MUDAH. Saat diluncurkan tercatat 3.700an pendaftar, dengan 566 berkas lengkap. Dari semua hanya terjaring 180 sipil dan 83 militer yang memenuhi persyaratan seleksi administrasi. Setelah itu disaring lagi lewat wawancara, maka akhirnya tersisa 78 sipil dan 58 militer. Dan di tahap akhir inilah saya berada dalam tim yang diamanahkan untuk menilai Leadership project mereka , pasca kesehatan jiwa raga mereka juga diuji.
Jika Beasiswa LPDP lainnya sebagian besar hanya menyaratkan kehebatan nilai akademis, namun dalam BPRI justru lebih menitik beratkan pada kualitas kepemimpinan calon penerima beasiswa. Menjadi sangatlah penting komitmen mereka untuk berkontribusi nyata di masyarakat.
Karena itu kami dari tim interviewer dan reviewer merasa mendapat beban yang tidak ringan, karena Social&Leadership Skill adalah komponen kecakapan yang tidak mudah divalidasi seperti kehandalan akademis pada umumnya. Padahal ini merupakan bobot tertinggi dalam penilaian. Sementara waktu yang dianggarkan bersama mereka sangatlah singkat. Kami tidak beroleh kesempatan bersama mereka di lapangan. Padahal kita semua paham, bahwa kepemimpinan adalah tindakan nyata, bukan sekedar retorika atau wacana hampa dalam paparan singkat atas amatan trip lapangan sehari.
Pada awal penjurian, sudah terjadi pertarungan hebat dalam diri saya sendiri. Antara keinginan untuk meloloskan semuanya, dengan alasan karena jumlah peserta yang lolos seleksi sebelumnya ternyata di bawah target. Namun beban amanah yang saya yakini akan dipertanggung jawabkan kelak di mahkamah Allah, membuat saya berpikir sebaliknya. Saya harus sungguh-sungguh memaksimalkan ketajaman mata hati untuk menatap mereka.
Meski satu sisi hati saya tidak ingin menghancurkan impian orang-orang cerdas yang terpilih. Yang telah melewati berbagai tahapan seleksi dengan ‘berdarah-darah’. Namun yang satunya berteriak lebih keras, bahwa kepentingan rakyat banyak jauh lebih utama. Bukankah 1 orang terdidik yang tidak peka, jika diangkat menjadi pemimpin jauh lebih berbahaya ketimbang ribuan orang bodoh yang hanya rakyat jelata?
Saya berdoa, semoga ikhtiar mulia pemerintahan Bapak SBY ini kelak dapat menghadirkan pemimpin Indonesia yang jauh lebih hebat. Pemimpin yang tidak hanya cerdas, namun juga peka penuh cinta kasih, berintegritas tinggi, bersahaja, yang dapat mengabdi penuh totalitas, berkeadilan dan layak dijadikan teladan.
Aamiin ya Rabbal alamiin.
*Mau beasiswa BPRI? Ayo persiapkan diri.
(Tatty Elmir Oktober 2014)
Lebih jauh tentang BPRI bisa diintiphttp://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/presidential-scholarship/
Dan http://www.lpdp.depkeu.go.id/wp-content/uploads/2014/04/Indonesian-Presidential-Scholarship2.pdf
Ya Allah, engkaulah maha perencana, semoga niat baik untuk bangsa ini senantiasa engkau curah limpah keberkahanMu. Amiin Allahuma Amiin :)