MENIKMATI PERJALANAN 18.00 kaki saya keluar dari bangsal rajawali, selesai sudah kegiatan hari ini. 18.10, saya duduk di bangku bangku depan pavgar, memandang masjid di depan sana Cukup lama, menelisik semua kejadian hari ini. Saya sedang mensyukuri satu nikmat besar, dipertemukan dengan guru-guru terbaik, yang senantiasa dapat di ambil teladan dari Beliau-Beliau. Dua di antaranya, yang akan menjadi kisah dalam perjalanan pulang saya di dalam beberapa menit ke depan di dalam brt nomor 2 terakhir dr brt terakhir malam ini. Yang seorang, sungguh mengingatkan saya dan membuat saya rindu pada Ayah, siang tadi. Saat saya sedang ikut Dokter super kece satu ini di poli. Seketika itu, saya cukup merasakan rindu pada Ayah. Barangkali, jiwa seorang pendidik yang ada pada Dokter ini, yang membuat saya mengingat sosok Ayah. Beberapa pasien keluar masuk poli siang tadi, satu demi satu pasien dilayani, diperiksa, dibesarkan hatinya. Satu pengalaman cukup lucu siang ini, adalah ketika kami berkesempatan mengukur lingkar kepala anak usia 2 tahun yang dicurigai memiliki hidrosefalus. Tanpa menegur si adek, tangan kami memainkan midline ke kepala si adek. Dan saat hampir tangan saya mendekati kepala si adek, Dokter ini menegur, "dek, mbaknya nakutin ya?" Sedetik dua detik, saya terdiam. "Mbok disapa dulu Dek, pasiennya" kata Dokter tersebut. Dan di akhir sesi, Beliau memberi wejangan, "pasien kan yo menungso, seneng nek diuwongke. Di sapa. Pelajari bahasa daerah, kebudayaan setempat." Dengan sabarnya Beliau mendidik bocah bocah nyaris koas ini. Di ajak keliling IGD, di antarkan mencari kasus. Ya Rabba, barangkali benar adanya. Jiwa-jiwa pendidik itu, menggetarkan. Tokoh kedua, residen pin merah, Bapak Residen yang berbaik hati, bersabar dengan tingkah polah kami. Mengantarkan, menemani dan membimbing kami mencari kasus se sorean ini. Padahal Beliau lagi super sibuk. Padahal Beliau semalam ada jadwal OK, dan pagi ini kami telah mengecewakan Beliau dengan tidak berkomunikasi secara tuntas. Sungguh, pada tokoh kedua ini, saya belajar kebesaran hatinya, kelapangan maafnya, dan kesabaran dirinya. Jadi, jika ada kesempatan terus belajar dan terjun ke dunia pendidikan, saya rasa itu akan jadi kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. ---- Di atas Brt koridor V Komuda 5/5












