"Gimana belajarnya? Sudah terasa fokus dan efektif belum?"
"Kalau belum, cek dulu, apakah adab belajarnya sudah tepat? Sudah sholat belum? Sudah membaca Al Qur'an belum? Sudah ditadabburi belum? Seluas langit di balik jendela, kiranya kau mentadabburi ayat ayat Allah; ilmu Allah. Apakah sudah mengambil wudhu sebelum belajar? Atau jangan jangan, niat belajarnya belum maksimal? Sudah berdoa dan memohon izin atas berkah ilmu belum?"
Ingat, kepahaman atas ilmu adalah sebuah rizqi yang perlu didoakan. Semoga dengan menambah nya kepahaman ilmu, maka akan ditambahkan berkahnya pula
Rabbi zidni 'ilman, warzuqni fahman
— percapakan Nadya Gifary dengan Nadya Gifary setiap memulai sesi belajar.
Lumajang, 16 Mei 2024—final exam week of pediatric rotation, yang semoga Allah ridhai atas ilmu yang sedang diperjuangkan dan ditebarkan untuk kebermanfaatan🤍
Mau mencintai dengan sekedar menuruti keinginan, atau seadanya kemampuan, atau bahkan mencintai dengan tanggung jawab, itu pilihan.
-mencintai dengan tanggung jawab, barangkali bisa berbentuk menyelesaikan pendidikan ini dengan semaksimal ikhtiar, bukti mencintai kedua orangtua dengan tanggung jawab.
Kajian Dokter Muda
17 Rabiul Akhir 1439H
Tembok Kamko Berbicara
“meninjau kembali pentingnya menjaga lisan sebagai seorang muslim sekaligus tenaga medis”
dr. Syahmi Amar (Residen Pediatri)
عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia “ Riwayat Muslim (Hadist ke 27 dalam Hadist Arbain)
Akhlak yang baik itu sangat luas. Ada akhlak terhadap Allah, sebagai tuhan kita, dengan kita mengimani-Nya, meng-Esa-kanNya. Ada pula akhlak terhadap sesama manusia seperti menjaga lisan kita, menjaga saudara kita dari bahayanya lisan kita.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18).
Allah menerangkan kepada kita bahwa segala yang kita ucapkan semuanya dicatat dan dinilai oleh Allah. Tidak hanya ucapan-ucapan baik yang akan diberi ganjaran pahala. Bukan hanya ucapan-ucapan buruk yang akan diberi balasan dosa. Tetapi ucapan-ucapan sia-sia pun juga akan dicatat. Inilah peringatan bagi kita bahwa selama 24 jam penuh akan selalu ada malaikat yang mencatat apapun yang kita lakukan, apapun yang kita ucapkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Kita perlu berhati-hati, apakah ucapan yang keluar dari mulut kita adalah ucapan-ucapan yang justru menyebabkan dosa dan menambah berat timbangan amal buruk kita.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Ada tiga hal yang dibahas dalam ayat ini,
1.Prasangka
Manusia pada umumnya, jika tidak suka pada seseorang, atau ada penyakit hati, sering sekali suudzon. Padahal mungkin tidak seperti yang kita bayangkan.
2.Mencari keburukan
Ketika tidak senang dengan orang lain, kerap kali kita mencari-cari keburukannya. Yang lebih afdol adalah kita harusnya mencari keburukan diri kita sendiri. Adakah kita lebih baik dari orang lain sehingga patut kita mencari-cari keburukan mereka?. Kita tampak baik di mata orang-orang itu karena semata Allah sangat baik menutup aib-aib kita.
3.Menggunjing
Apa itu ghibah?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no.2589).
Allah mengakhiri surat Al Hujurat ayat 12 dengan “Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.
Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”
Beberapa ulama berpendapat bahwa ghibah termasuk dosa. Ulama lain menggolongkan ghibah dalam dosa besar. Akan tetapi,
Tidak ada dosa kecil ketika kita melakukannya terus menerus. Tidak ada dosa besar ketika kita menguburnya dengan istighfar.
Jadi ketika kita menganggap ini sebuah dosa kecil dan kita rutin melakukannya, itu akan menjadi sebuah dosa besar. Itulah yang menjadi sulit. Kadang dosa kecil menjadi tak terasa ketika kita lakukan karena sudah seperti menjadi kebiasaan. Kadang kita tidak merasa jika obrolan yang kita lakukan itu adalah hal yang kurang tepat. Itulah gunanya punya teman, supaya saling mengingatkan.
Perbuatan yang disebutkan dalam surat Al Hujurat ayat 12, yakni berprasangka buruk, mencari kesalahan-kesalahan orang lain, menggunjing merupakan perbuatan dosa. Dosa itu ketika mengumpul akan membentuk suatu noktah hitam di hati. Ketika semakin menumpuk maka akan membuat hati keras. Bisa jadi maksiat-maksiat yang disebabkan karena ghibah inilah yang membuat iman turun. Sebab iman itu naik turun, naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan.
Jika kita menemui keadaan sholat jamaah kita banyak yang ketinggalan, ngaji kita berkurang, tahajjud susah bangunnya, kajian banyak halangan, pada saat itu mungkin kita perlu introspeksi diri adakah kemaksiatan-kemaksiatan, termasuk ghibah, yang kita lakukan sehingga itu membuat kita futur. Ghibah termasuk hal yang sulit kelihatan karena mungkin ia ada diantara diskusi-diskusi kita.
Bagaimana jika hanya mendengarkan?
Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.
Sebagai seorang cendekiawan muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk meninggalkan perbuatan ghibah, mengingkari jika mendengarnya, dan melarang jika ada saudara kita yang melakukannya. Bagaimana caranya tergantung bagaimana kondisinya. Saling mengingatkan dengan orang baru tentu caranya berbeda dengan saat mengingatkan teman yang sudah lama kita kenali.
Adakah ghibah yang diperbolehkan?
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan ada enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
• Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
• Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
• Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
• Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
• Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
• Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)
Bagaimana wujud ghibah?
Di zaman dulu, ghibah bisa dinyatakan dengan perkataan atau isyarat. Akan tetapi, di zaman sekarang, ghibah banyak sekali medianya seperti grup WhatsApp, Line, Facebook, Twitter, Instagram, dll. Inilah tantangan kita di zaman sekarang. Kadang kita tidak sadar, bukan dari perkataan kita, bukan dari tindakan kita, melainkan dari gerakan jempol kita di keyboard yang memiliki potensi untuk memunculkan dosa.
Tips Meninggalkan Ghibah
1. Sibukkan dengan amal
Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Dua itu, beriman dan beramal sholeh. Ketika kita sudah meyakini dalam hati, mengucap di lisan, maka yang selanjutnya adalah mengamalkannya. Perbanyaklah amal karena kita tidak pernah tahu kapan akhir hidup kita di dunia ini. sibukkanlah dengan amal baik, karena ketika kita tidak sibuk dalam kebenaran maka akan sibuk dengan kebatilan.
2. Ingatlah mengenai dosanya
Meskipun kita bersembunyi dalam dinding kamko (kamar koas), tetap Allah Maha Melihat, malaikat tetap mengawasi. Setiap ucapan dan perbuatan akan dicatat. Ini pilihan. Mau berbuat/ berkata baik, atau diam. jadilah orang yang bisa menjaga lisannya, yang khawatir kalau kalau ucapannya justru akan memberatkan timbangan amal keburukannya.
3. Memilih lingkungan yang baik
Lingkungan yang baik penting untuk saling mengingatkan.
Dari Abu Hurairah r.a“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (H.R Bukhari dalam adabul mufrad, shahih menurut syaikh al-Albani)
Perbanyaklah bercermin, muhasabah diri sendiri. Seperti perkataan Umar ibn Khattab ra “hisablah dirimu sebelum nanti di hari akhir dihisab”. Jika kita melihat diri sendiri lebih baik dari orang, yakin diri ini benar lebih baik? apakah itu karena Allah menutupi aib-aib kita? Jika kita selalu mengingat itu, kita akan berhenti membicarakan orang lain karena sadar bahwa diri sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang dibicarakan.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)
Bertobatlah, dengan cara
• Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu
• Tidak terus menerus dalam berbuat dosa
• Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang
• Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
Apakah dalam taubat itu disyariatkan adanya penyesalan atas segala sesuatu dan meminta maaf kepada orang yang telah digunjingkannya itu? mengenai hal itu terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama yang mensyaratkan agar meminta maaf kepada orang yang digunjingkan. Ada yang berpendapat, tidak disyaratkan meminta maaf karena dikhawatirkan orang tersebut akan lebih merasa sakit hati daripada jika ia tidak diberi tahu. Maka, cara bertaubat dan “meminta maaf”nya adalah dengan memberikan pujian atau membicarakan kebaikan-kebaikannya, atau menghindari gunjingan dari orang lain atasnya. Sehingga gunjingan dibayar dengan pujian.
rekaman kajian dokter muda “Tembok Kamko Berbicara” dapat diunduh di sini
nb: Salah satu kegiatan dokter muda di kepaniteraan adalah mengerjakan "Refleksi Kasus" bersama pembimbing klinik setiap pekan sekali. Tapi yang hendak saya tuliskan di sini berbeda. Sesuai usulan @n-khl, saya mau posting stase-stase yang berkesan dan tentunya sempat dicatat saat itu.
Kedokteran Jiwa/Ilmu Kesehatan Jiwa
Di pekan kedua kami mulai belajar lebih dalam tentang gangguan-gangguan mental, baik dari yang "wow, ada ya yang kayak gini" karena terabaikan secara sosial oleh masyarakat sampai yang "lho ini kan gue banget" saking seringnya kita temui bahkan mungkin pada diri kita sendiri; dari yang "wow kayak gini to cara meriksanya, wow gini to diagnosisnya, wow gitu banget pengobatannya" sampai yang "nah bener kan, supaya sembuh harusnya emang didukung gitu, harusnya pola pikirnya coba diubah, harusnya dialihkan gini lebih baik."
Di RSA UGM saya bertemu dr. Tika Prasetiawati, Sp.KJ, kerennya beliau coba ya saya tulis sebisanya dengan sesedikit mungkin perubahaan redaksi:
"Dengan Ibu nggak ngasih tahu pasien misalnya, sama saja Ibu sendiri membuat stigma kan? Justru pasien itu harus tahu supaya pasien itu bisa aware juga. Kecewa nggak apa-apa kan cuma sementara. Kalau pasien masih kecewa atau marah itu tanda buat kita dan pasien bahwa dia belum sembuh, belum bisa menerima keadaan dirinya."
"Yang normal itu bukan yang nggak minum obat. Yang normal adalah yang tahu kekurangan dan kelebihan dirinya (di IKJ disebut "insight"/tilik diri) dan bisa produktif mengerjakan sesuatu bahkan sampai berkontribusi di masyarakat." --kepada pasien yang malu dengan sakitnya
"Jangan membuat keputusan-keputusan besar ketika perasaan kita sedang terganggu, karena saat itu pasti pikiran kita sedang tidak jernih. Juga jangan hanya satu pihak, karena mungkin itu baru dari kacamata sendiri." --kepada pasien bipolar yang mengutarakan ingin cerai.
"Tugas kita menggiring, bukan memberi solusi. Solusi harus dibuat oleh pasien sendiri!"
"Obat itu hanya menurunkan gejala akutnya, menstabilkan neurotransmitter di otak (something to do with serotonin and dopamine!), tapi bagaimana kalau masalah-masalah yang lebih besar datang menjadi stressor? Pasien juga butuh kita tingkatkan kapasitas mentalnya, sehingga memiliki mekanisme coping yang baik." --menjelaskan dasar psikoterapi
"Pertama-tama kita mengedukasi dan bekerjasama dengan primary support(keluarga)-nya, tapi kalau justru itu atau lingkungan nggak bisa berubah, apa yang kita lakukan? Iya, meningkatkan kapasitas mentalnya."
"Entah ini sakit karena disebabkan zat kimia otak yang kurang seimbang sehingga berpengaruh ke sistem organ yang lain atau suatu hari nanti akhirnya ditemukan bahwa ini memang penyakit organik, tapi terlalu fokus pada keluhan-keluhan bapak ini tetap saja merupakan gangguan, yang akibatnya bisa membuat cemas atau sedih dan membuat sakit bapak bertambah parah. Jadi..." --meyakinkan pasien somatoform. "Kalau diperlukan, harus mau merubah cara berpikir karena itu yang dapat meningkatkan kapasitas mental."
"Dari cerita ini pasien kelihatan tidak bisa menolak kan? Tandanya dia represif, kalau dibuat grafik represi mungkin sudah melambung melebihi batas normal. Yang terjadi itu akan kembali mempengaruhi self-worth pasien, akhirnya jadi 'lingkaran setan', pasien mengalami gangguan mood." –menjelaskan kenapa depresi bisa disebabkan salah cara pandang kita dalam menghargai diri sendiri.
"Setiap pasien itu menarik! Satu diagnosis yang sama aja semua hal-hal selainnya bisa beda."
Yap, yang paling berbeda adalah, beliau ingat semua nama dan sejarah hidup pasien-pasiennya. Semua dengan pembawaan beliau yang keibuan, tapi tegas, sekaligus ceria. Dan tentunya didasari ilmu konseling yang sudah beliau kuasai dengan baik.
Psikiater keren itu adalah tipe dokter yang semua orang pasti pingin cerita masalah-masalahnya bahkan sampai yang ter-bizzare yang dipendam dalam-dalam sendirian selama bertahun-tahun.
Berapa kali ya kami ikut kebagian berkah; setandan pisang, cups kopi instan rasa buah, atau ikut membaca puisi buatan seorang pasien.
"Kalian itu coba deh cari-cari, banyak lho komunitas di Jogja (yang berkaitan dengan gangguan jiwa tertentu dan kesehatan mental), karena kegiatan-kegiatan di sana baik yang fokusnya ke care giver-nya, konsumen (pasien)nya atau tokohnya bermacam-macam dan bagus banget untuk terapi. Besok di area PPK 1 kalian juga bisa berdayakan masyarakat untuk jadi kader, karena kalian sebagai dokter di PPK 1 pasti banyak sekali program-programnya. Kalau dokter sudah sibuk kerja siapa yang akan bergerak kalau bukan kader?"
"Ibu nggak pernah takut kehilangan pasien karena bekerjasama dengan pihak lain. Kasus gangguan mental itu kan lebih banyak yang belum ketahuan, ibarat gunung es, jadi ngapain takut kehilangan pasien, rezeki itu di tangan Allah. Pasti ada terus dari Allah. Tapi kan kita berpikir bagaimana komunitas itu bisa sehat, toh nantinya akan menghemat biaya kapitasi yang untuk kalian, dan jauh lebih hemat energi."
Koas itu tidak cuma tentang belajar hal-hal klinis, tapi juga mencari role model. Setiap stase paling tidak akan ketemu 2 dokter pembimbing klinis, dikalikan 13 jadi 26 dokter spesialis sampai konsultan, belum lagi dokter-dokter residen yang ketemu randomly di bangsal atau saat jaga, jadi kesempatan itu bisa kita manfaatkan untuk sebanyak-banyaknya mencari role model.
Kenapa? Ya karena pilihan hidup ada banyak. Mau jadi dokter seperti apa juga banyak opsinya. *macak optimis
Cerita lucu:
Siang itu saat kami mendiskusikan kasus seorang ibu paruh baya dengan schizophrenia, Eva melapor "kalau yang dari saya baca dari rekam medis, awalnya karena putus cinta, dok." Pembicaraan berlanjut sampai dr. Tika bilang, "kalau ibu nggak salah ingat, beliau itu kambuhnya selalu pas dekat-dekat lebaran, ibu juga nggak tahu, kenapa ya?"
"Soalnya takut dok, lebaran kan sering tuh ditanyain 'kapan nikah??'.." Rangga menjawab sambil bercanda. Kami pun terbahak.
"Haha. Kalau kalian kapan nikah? Udah punya pacar belum? Zahrin? Eva? Rangga?" Timpal dr. Tika tiba-tiba, yang dijawab 'belum' oleh kami semua. "Duh ketahuan banget ya, jomblo detected!"
"Rangga kan tinggal mencari Cinta. Haha. Ayo kalian cari. Ibu dulu nikahnya pas koas lho..(dst)"
"Anak istri mau dikasih makan apa?"
"Ya pasti ada lah..."
"Nggak enak kalau masih dibantu orang tua."
"Ya itu sih kesepakatan masing-masing keluarga ya.. Nggak apa-apa. Banyak juga kok pasangan yang ibu lihat kelihatannya nekat, tapi malah lancar-lancar aja, pasti makan kok, ya kan? Yang penting itu ko-mit-men... Jadi kesimpulannya, ayo cari." Hahaha.
L : hehe, tahun ini belom mudik Bu. asli Semarang.
Bu I : lha rumahnya dimana memang Semarangnya?
L : belom punya rumah Bu, masih numpang di rumah Ayah. Di xxx.
Bu I : lho, sampek tua ya kita itu bakal numpang terus. Sekarang numpang di rumah orangtua, besok nek dah nikah ya numpang di rumah suami.
L : hehe...
Obrolan lebaran tahun 2019 sama seorang Ibu, yang baru kenal tapi anak bayiknya berhasil nyaman kali tidur di pelukan saya. Iya. Pendidikan pra nikah ke sekian kali yang ALLAH selipkan di antara waktu-waktu koas ini.
Kemarin tentang konsep rejeki. Kemarin lagi tentang sebesar apapun penghasilan kita sbg perempuan, nyatanya nafkah kita tetaplah tanggungjawab suami.
Ada yang ..... ? . 😶 #medicalstudent #koaslife #koas #doctor #doktermuda (at Jakarta, Indonesia) https://www.instagram.com/p/BmGYChRAIFt/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=dtfxac8k4o1k
It is 12 noon. I have arrived home from my Radiology final already. But more than the Radiology final, today is a significant date: it is officially my last day in clerkship (koas). It’s finally done.
Let’s quickly capture my emotions while they’re fresh:
There are a few aspects to this. One is that my personal journey in clerkships has come to an end. And second is the disbanding of my “koas group”, the group of people I’ve (in various combinations of sub-groups) spent the last two years with. Let’s talk about the latter first to get it out of the way. I suspect I don’t have much to say on the matter. (Oh no, I rhymed “matter” with “latter” and now this probably sounds like a ballad). Anyways, my group. They are a mix but not exactly a very good mix. That is to say, they have diverse personalities but probably not as diverse as one would hope for. There are the quiet people, the loud mouths, the hard workers, the stragglers, and let’s not forget, the assholes. But it’s not fair to categorize people like that. I think those are just the common positions that people assume - sort of like a self-configuring flock of migratory geese - when put into such groups. As for my own experience: I went into this group knowing full well that I will have to tolerate them and they will have to tolerate me for a full two years. That meant that I had to keep a lot of my opinions to myself, try to mitigate conflict, and take everything they say with a fistful of salt. I (correctly) assumed that a lot of conflict in groups like these stems from one person feeling that another isn’t pulling their fair weight. Although, due to language barriers, having a busy life, and different culture, I did often slip and mess stuff up sometimes (usually bureaucracy/paperwork, which Indonesians love to be enslaved by so much). But other than that, I always tried to be generous about my time and energy in night-shifts and taking on responsibility for portions of work. I never complained to them that I did an hour more or that the topic assigned to me is too hard compared to the others. This was a good decision. Feelings of jealousy and anger are much more taxing than doing an extra night shift or taking a harder subject to make a PowerPoint on. Not constantly comparing my plight to others put me generally at ease throughout these two years. I cannot say the same about some of my groupmates. Right off the bat in my first department (Neurology) two years ago, I saw the seeds of discord already being sown. There were tears and public venting, and many chose to appease whoever was in front of them rather than be diplomatic and nip issues in the bud. I remember feeling that several of these groupmates were immature and irresponsible with their backbiting, self-serving, passive-aggressive ways. My feelings have not changed. I will give you a fresh example. So, since koas is ending, we’ve been burdened with lots of paperwork that we individually have to do. So I’ve been delayed with one of these documents, and I have been making slow but steady progress on it. Not doing it won’t harm anybody but me. Anyways, one of my groupmates obnoxiously asked me if I had done it yet. Shocked that she’d show concern for me, not a millisecond passed that the reality sunk in: she just wants to feel superior and slap me with a chastigation. I replied that I’m dealing with it as we speak. “Make sure you finish it or else you won’t be allowed to do UKMPPD” (the Indonesian medical competency exam) she said. I acknowledged. Then, out of the blue, a couple of hours later, she typed out the exact same question into my group’s Line group and tagged me by name. A decent human being would private message another when the conversation is between just two people. Publicly posting it in a group is looking for an audience. And of course, the question was not intended for me as she had already asked me verbally just a couple hours before! She just wanted to make me look bad to the group. And sadly, 99% Indonesians can’t see through things like that. Of course, I could’ve returned the fire and publicly demanded an explanation of why she’s trying to belittle me in front of the groupmates asking me the same question she already got the answer to just earlier. Instead, I chose to let her inflate her ego (again) at my expense. I’ve lost count. “Whatever. All this will be over soon and none of this will matter,” I thought. Besides, Indonesians generally have no problem with slander but are terrified of conflict, so engaging her would’ve drawn the typical, “hey hey hey, calm down, she’s right” sort of crap anyways. I want to end this part on a good note with a clear disclaimer though: several of my groupmates have been great and I felt lucky to have them on many occasions, specially when I was exposed to stories of other groups from my friends. There were many times I said, “I owe you one” to them. And there were a few times that they too overlooked my flaws. Will I stay in touch with these groupmates? I doubt it. Our lives will diverge and I never really gelled with them on a social/personal level beyond the perfunctory. It isn’t over yet though. I still have to traverse through the rocky path to UKMPPD with them (i.e. take evening preparatory classes with them). So I’ll be seeing them for the next couple months and then again for graduation (if we all graduate together). Actually, I just remembered: three of my initial groupmates changed some grades (after receiving lower marks) and got in major trouble back in our first department. They were reprimanded stiffly and kicked out for a semester. So, they’ve been absorbed into other groups since they’ve been back, due to scheduling issues I’m guessing. Anyways, I won’t be seeing them very much anyways since they’ll finish next year.
Okay, now I’m free to tell you how I personally feel about finishing clerkships. Before me is a vast, dark abyss. On the other side of this chasm is a glowing residency in the US beckoning me. I have to take a few steps back, run as hard as I can, and then leap. But time is running out. The longer I wait, the wider this chasm gets. It feels out of reach but I know that it isn’t impossible yet. As Jim Carrey’s character said in Dumb & Dumber, “So you're telling me there's a chance, “ when faced with near-impossible odds. That’s basically all I’ve got. I have no choice but to take the leap. If I fail, I will think of a plan-B. But for now, there is no plan-B. There never has been. I selected UGM from a list (WHO FAIMER) of recognized universities for working as a doctor in the USA. My plan since day-1 has been to get my MD from UGM and then write the USMLE to get into a US residency program. That’s the beast cracking its knuckles to beat me to a pulp after all this. So, one of my main emotions right now is: unrelenting fear. “How will I do it?”, “What if I fail?”, “Will anybody help me?”, “What if it’s too hard?”, “When should I have started this?”, “Is it too late already?”, “What else do I need and how will I get it all?”, and other thoughts are bothering me constantly.
The other emotion I’m feeling is relief. I’m done this 7-year journey of med-school and it’s a good feeling. I’ve achieved something in my life. I haven’t exactly summitted yet, but it’s still something. No more koas departments! No more night shift. No more refkas, tutorial, minicx, and exams! (I know you’re saying, “wait for residency!”)
On the flip side, I’m also sad. I enjoyed the clinical rotations a lot more than the theory years at campus. I love doing stuff with my hands, talking to people, and seeing quick results of my work. The pride you feel after looking at the fine suturing job you did on a mangled foot, or repairing an episiotomy to make it like new (well, not exactly like new), cannot be compared to anything you do in your theory years. Sure you study hard for a pre-test and then get a 10/10. Great. Does that make anyone smile internally until it spills out onto their faces? I doubt it. Everybody cheats on those pre-tests anyways, walking in with the questions and answers memorized. Yeah, I never chased a high GPA and I never took pride in having to do that sort of crap myself in order to survive med-school here. But I can tell you that I felt awesome delivering babies, assisting surgeries, pretending to be a real doctor in the ER, winning hard-earned trust in the OR, and following up on my patients. And I am definitely going to miss that. I hope I can get into a residency soon and revive all these happy feelings somewhere else.
I’m feeling stupid. I should’ve studied harder. (Oh look, the same retroactive advice I give myself at the end of every academic year since grade 2!) I should have though! I got distracted by various things including my personal life issues, business demands, relationship issues, social life, being lazy/tired, and the whole system of inefficiency developed by UGM to keep students busy slapping stamps, filling forms, and Whatsapping teaching doctors. Had all these things been better managed, I’m sure I’d have the energy and time to actually enrich myself with books or at least videos on the stuff I was seeing at the hospital. Sadly, I rarely ever laid my finger on any book in the last two years and I was using Google more than anything to get that last minute answer to pressing knowledge gaps. My mind still goes blank when I glance at an ECG (ugh, I should know this by now!) and I don’t have even half the drugs memorized as I’m probably expected to by now.
And on the flip-side, I’m also feeling smart and confident. I delivered babies all by myself, damn it! Without supervision! I sutured up patients in the ER. Also without supervision. I did rounds with confidence in Internet Medicine. My white coats aren’t so white any more. I’m experienced now. I’ve seen it all and done it all. I’ve been there, and also been there and there too, and I know exactly how this and this feels. I’ve been in clerkship long enough (two years) to start saying, “during my time” when referring to things while giving advice to my juniors.
What other emotions am I feeling? Tired due to insomnia. Yes, I had coffee last night. An Americano from Ethikopia next door. It tasted better as I drank it. Not because of getting desensitized to the bitter flavor but due to the sugar at the bottom of the cup. Anyways, I will try to take an hour nap to recuperate some strength. And then I have to go for evening lessons at PADI (no, not the diving thing) for UKMPPD prep.