Betapa udara malam yang panas semakin sesak ketika yang nongkrong di timeline IG adalah foto mantan dengan pacar barunya

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Maldives
seen from Singapore
seen from China
seen from Singapore
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Syria

seen from Malaysia
seen from Japan
seen from Maldives
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from China

seen from Malaysia
Betapa udara malam yang panas semakin sesak ketika yang nongkrong di timeline IG adalah foto mantan dengan pacar barunya
Koridor
Aku tahu aku perlu semakin rajin pergi ke kampus. Siapa tahu Tuhan beri aku kesempatan kembali. Siapa tahu kali ini bisa berpapasan dan dengan penuh keberanian aku bisa bertukar nama. Sudah banyak skenario aku jalan di dalam otak simpel aku ini. Banyak lah kemungkinan ini itu, siapa tahu aku bisa bertanya namanya dengan wajar. Tidak dengan muka aku penuh grogi dan kagum. Aku pikir ada baiknya dia tahu nama aku juga, minggu demi minggu lewat, nama aku tidak juga dipanggil dosen. Mana mungkin dia tahu kalau semacam ini. Kalau akhirnya aku dipanggil juga, apa jaminannya dia akan hapal juga.
Aku hari ini pun lagi rajin ke kampus. Aku ada rencana, sekedar mengumpulkan tugas kuliah. Tidak macam-macam lah, aku datang, aku kumpulkan, aku pulang. Kali ini ada kawan yang bisa diajak bicara. Bolehlah aku pikir. Sekedar cari tahu kabar-kabar terbaru saja. Bicara sana bicara sini. Habiskan waktu saja. Lagian dari tadi aku ke kampus, masa sama sekali tidak lihat dia. Aku memang tidak kenal, tapi dia sudah curi hati aku. Boleh dong aku sekedar mau lihat, sepintas pun tak apa. Sambil bicara-bicara, aku lihat sana, lihat sini. Siapa tahu aku hari ini beruntung.
Lagi seru betul aku mendengarkan kawan aku ini, samar-samar dari belakang aku dengar suara yang aku tahu. Yang aku kenal dari hati aku. Bukan karena aku sudah kenal lama, tapi karena suara ini sudah lama berdiam didalam hati aku. Aku berbalik dengan hati-hati, aku tidak mau membuat dia kaget, atau teman aku merasa seperti ditinggalkan. Aku harus lihat dia. Dan aku lihat dia. Aku lihat dia, di koridor panjang ini. Di koridor yang teduh ini. Dia sedang bercakap-cakap dengan kawannya di koridor seberang sana. Ada taman diantara kedua koridor. Dia perlu mengeraskan suaranya, agar kawannya mendengar. Atau mungkin biar aku sadar juga? Tak tahu lah. Aku tidak mau berandai-andai kali ini. Aku tidak ingat apa yang mereka bicarakan atau apa yang sedang aku bicarakan dengan kawan aku. Yang aku tahu, aku dengar suaranya lagi. Aku hanya bisa tersenyum, di kejauhan, di koridor panjang dan teduh ini.
[]
Mengulang Mata Kuliah
Di semester baru ini aku harus ambil mata kuliah yang tidak lulus tahun lalu. Jangan salah, bukan aku tidak pandai hanya saja tahun lalu dosennya tidak cakap dalam menilai. Aku paham betul ini mata kuliah seperti aku tahu telapak tangan sendiri, kalau ujian, mudah saja aku kerjakan. Aku bisa isi semua, aku yakin nilai aku akan bagus. Tapi itu dia seperti aku bilang, dosen ini tidak cakap menilai, dia kasih jelek terus nilai aku. Aku tidak tahu lagi lah. Mungkin memang aku dan dosen ini beda pemahaman saja. Kalau aku debat bisa hancur reputasi dosen ini, aku ikut saja apa dia kasih, aku pikir masih ada tahun depan untuk mengulang. Tahun ini aku punya kesempatan baru, mata kuliah yang sama kampus tukar dosennya. Ini aku pikir kampus memang sependapat dengan aku masalah kecakapan dosen dalam menilai.
Datanglah aku pagi-pagi ke kelas, aku tidak mau datang telat lalu seisi kelas sadar aku angkatan tahun lalu. Biarlah aku datang cepat biar orang pikir ada orang jurusan lain datang kerajinan. Aku jarang ada di kampus memang, selalu aku ada perlu sana-sini. Cukuplah aku kenal seperlunya teman-teman kampus. Satu orang datang, dua orang, lalu rombongan satu, rombongan dua datang. alamak, rupa-rupa hampir lepas lagi jantung aku ini. Terlalu lama aku tidak ada di kampus siapa tahu wanita di bubur ayam itu satu kampus dengan aku. Satu kelas dalam satu mata kuliah pula. Senang rasa hati aku ini. Mungkin ini kah yang dinamakan jodoh? Sudah hari-hari aku tidak bisa lepas pikiran, semakin rajin aku makan di bubur ayam, siapa tahu bertemu lagi. Malah di kampus ini aku bertemu dia, ya, sebenarnya aku ‘melihat’ dia. Tidak berkenalan atau bertegur sapa. Kalau-kalau dosen tahun lalu satu pikiran dengan aku, mungkin aku sudah lulus, dan tidak pernah bertemu lagi. Mungkin Tuhan sudah kasih aturan biar aku tidak lulus, biar aku bertemu dia.
Bagaimana aku bisa tahu namanya? Siapa-siapa duduk di kiri kanan aku saja aku tidak tahu. Kursi di kampus aku macam bangku penonton di pengadilan. Kursinya panjang, dan mejanya juga panjang. Bisa duduk bersebelahan 3-4 orang dalam satu bangku. Lalu dia duduk terpaut dua bangku disebelah aku. Mana bisa tanya nama ini. Ada 6 orang antara aku dan dia. Ini lebih jauh dari duduk di Bubur Ayam, lebih susah. Keras aku berpikir, datang juga rupanya dosen mata kuliah. Aku tidak ingat lagi siapa namanya, nanti boleh lah cari tahu lagi, perkara mudah mencari nama dosen. Perkara sulit cari nama dia. Mulailah kuliah pagi itu, aku sulit sekali berkonsentrasi. Ah, bisa saja aku lihat dari daftar hadir. Tapi daftar hadir macam itu hanya tertinggal tanda tangan, kalau sudah dua puluh lebih yang tanda tangan mana tahu aku yang mana tanda tangan dia. Kalau itu daftar hadir datang ke aku dulu, mana ada dia kasih tanda pula. Aih, aku cari saja nama yang paling indah lalu aku cek nanti. Siapa tahu benar. Kalau masih salah aku cari lagi di kelas berikutnya nama yang terindah nomor dua, mungkin itu punya dia. Begitu seterusnya.
“Ya yang namanya saya panggil maju kedepan dan coba selesaikan”. Aih, ini dosen baru hari pertama kuliah, sudah minta macam-macam saja. Mau orang maju selesaikan masalah, Pak Dosen coba tolong aku sedikit lah. Ini belum selesai cari nama, malah mau selesaikan masalah lain. “Dewi, silahkan maju kedepan”. Aku lihat dia berdiri dan maju kedepan. Semua bergerak dengan lambat dan pelan. Tanpa aku sadari pandangan mata yang luas ini, perlahan menyempit dan sekeliling terasa baur. Aku bisa dengar suara jantung berdegup keras di telinga. Suara-suara ramai dari luar, dari kiri kanan, perlahan-lahan menghilang, hanya terfokus pada suara langkah dia berjalan. Begitu sampai didepan, sekilas dia melirik ke segenap seisi kelas. Seisi ruangan yang penuh mahasiswa-mahasiswi, tapi dengan besar rasa, aku pikir dia menatap aku. Sungguh. Aku rasa begitu.
[]
Bubur Ayam
Beberapa hari ini rasa-rasanya aku sedang tidak enak badan. Agak-agaknya mungkin terlalu letih saja. Butuh tidur nyenyak dan olahraga sedikit. Keluar keringat pasti badan langsung segar. Aku pikir enaknya makan bubur malam ini. Tidak terlalu berat diperut, selesai makan pasti badan terasa hangat. Sudah, malam itu aku berangkat saja ke tempat biasa aku beli bubur ayam. Dia punya tempat pun asik, pinggir jalan ramai. Dekat persimpangan. Harganya boleh lah bersaing. Buat aku yang penting porsinya pas, tidak terlalu besar, tapi ayamnya cukup untuk satu mangkok. Tapi tiap kali aku makan disana, pasti sendok suapan terakhir cuma ayam, buburnya sudah habis. Bisa dibilang ini ayam bubur bukan bubur ayam. Jadilah aku berangkat beli bubur.
Rasanya-rasanya angin malam ini agak kencang, wah mau hujan ini kira-kiranya. Aku tidak bawa payung, jaket saja aku pakai, memang lumayan dingin malam itu. Begitu sampai, segera lah aku pesan 1 porsi. Pesan porsi biasa saja, tidak perlu tambah ati ampela segala, bisa tidak habis ini lauk. Datang lah itu bubur ayam satu mangkok langsung aku aduk, muncullah itu bubur. Aku sudah biasa makan disitu, kali pertama aku datang, aku pikir buburnya datang dalam mangkok terpisah, ini dilihat-lihat mangkok yang datang cuma emping dan cakue ditaburi ayam. Tambah sedikit kecap ikan dan sambal kacang. Mantap sudah. Satu suap, dua suap, aku makan. Turunlah itu hujan. Aku pikir dalam hati, alamak kalau hujan ini sampai besar bisa tidak pulang aku malam ini. Siapa tahu Tuhan memang bertindak sesuai prasangka hambanya, hujan tambah besar saja. Aku selesaikan satu perkara dulu lah, satu mangkok bubur ayam baru nanti pikir bagaimana bisa pulang.
Lagi asik-asik makan bubur, terdengarlah suara merdu "Bang, buburnya satu ya". Itu kali pertama dalam hidup aku, mendengar wanita begitu lembut suaranya. Begitu lembutnya, sampai hati aku ini yang dibuat dari besi, tiba-tiba bisa berubah jadi roti. Aku lagi lahap-lahapnya makan bubur, kalau-kalau aku menengok pasti lah dia sadar. Aku tahan-tahan tidak melihat. Dari sudut mata, aku tahu dia duduk diujung meja sana. Lupa sudah perkara bagaimana pulang, sekarang jadi perkara bagaimana bisa lama-lama disini. Mungkin aku bisa ambil napas sebentar dari makan -aku pun tidak habis pikir bagaimana itu ambil napas dalam makan- tapi aku lakukan juga. Aku lirik kuat ke ujung meja, kalau bisa leher ini tidak menoleh tapi mata bisa lihat dia. Berhenti saat itu jantung aku. Rasanya seperti ada yang tarik dari belakang. Melompat semua roh dibadan. Cantik betul rupanya wanita itu. Boleh kaki dingin karena cipratan air hujan yang masuk ke warung tenda sederhana ini, tapi hangat rasanya hati ini. Jantung berdegup kencang, aku tercekat, tidak bisa keluar suara apa-apa. Kalau tadi jadi leher aku menoleh, mungkin aku sudah tersedak sekarang. Ini lah yang orang bilang dari mata jatuh ke hati. Dari hati yang hangat, seluruh badan aku terasa hangat. Bila malam itu turun salju pun, pasti masih terasa hangat.
Tidak berani aku memandang dia lama, takut-takut hati aku ini terkunci oleh dia. Takut-takut aku tidak bisa hidup tanpa dia. Takut-takut dia lihat aku dengan tatapan aneh lalu jadi takut. Takut-takut lain waktu bertemu tapi tidak mau ingat kalau ketemu di warung bubur ayam. Aku coba konsentrasi kembali makan bubur, tapi bubur rasanya sudah lain. Mangkok tidak terlihat seperti mangkok. Sendok dan garpu saling tukar tempat tanpa aku tahu. Aku tahu apa yang aku perbuat, hati ini sudah berhenti. Sudah sampai tujuannya ketika melihat dia. Tapi entah bagaimana aku bisa mengenal dia, aku hanya pengecut kecil. Pikiran aku bergerak kesana kemari mencari akal untuk kenal, lagi hati tidak memberi masukan, hanya dia, dia, dan dia. Lama sudah aku berpikir, habis sudah bubur dia, pergilah dia. Entah kapan hujan berhenti aku tidak sadar. Aku bisa lihat dia lagi sepintas ketika dia keluar. Aku nikmati rasanya hati ini melompat melihat dia. Dia pergi, aku tertinggal. Aku rasa satu hati ini ikut pergi bersama dia, aku rasa entah bagaimana hati yang pergi itu akan pulang kembali.
[]
Disclaimer: If you are not the intended recipient, you must not copy, distribute or use it for any purpose, nor disclose its contents to any other person. Any views or opinions presented in this email are solely those of the author and do not necessarily represent those of the company. The company will not accept any liability in respect of such communication, and the employee responsible will be personally liable for any damages or liability arising from, but not limited to, defamatory statements, infringement of copyright or any other legal right. Please delete the email and notify the sender immediately if you receive this in error.