Bukan Milea
Kalau boleh, kisah ini ingin aku bukukan dalam sebuah cerita panjang. Akan aku bagi kedalam beberapa episode, agar anak dan cucu kita kelak dapat menikmati ceritanya dengan secangkir teh hangat di teras rumah kita nanti.
Dengan atau tanpamu nanti, cerita ini sepertinya jauh lebih manis dari cerita Dilan-Milea di 1990 yang ditulis epik oleh Pidi Baiq. Mungkin, bisa jadi aku menjadi penulis terbaik menggantikan posisi ayah Pidi Baiq (HIHIHIIIHI, Canda gaes)
Tapi, memang aku bukan penulis. Jadi aku bingung harus menuliskan cerita ini dari mana. Rasanya ketika ditulis ulang, semua jadi terasa, ah itu biasa saja, semua orang juga bisa merasakannya. Mulai dari mana ya baiknya?
Nama : okey, siapa kamu? akan aku beri nama siapa ya? nama asli? wah...aku tidak sepandai ayah Pidi Baiq untuk menyembunyikan namamu. Bisa bisa semua orang akan tahu, siapa kamu. Emm....boleh, nanti akan aku ceritakan siapa nama aslimu, jika karya ini sudah terkenal seperti cerita Milea-Dilan ya hahahahhaaa...
Iya, aku bukan Milea Adnan Husain. Perempuan yang tinggal di Bandung dan menerima segala sikap manis seorang Dilan saat SMA. Usiaku di tahun 2021 ini sudah melewati batas masa remaja. kalau dibilang, secara normal sudah memasuki usia menikah, yaaa...
ini bukan kisah remaja usia 18 tahunan yang akan membuat kalian tersenyum malu dengan kisah kekonyolan mereka, ini kisah dua nama manusia yang seharusnya sudah tidak lagi membuat kekonyolan ini. Ini kisah dua anak manusia yang seharusnya sudah memasuki dunia pernikahan, namun masih enggan melangkah ke jalan tersebut, dan memilih menjalani peran lain yang jauh lebih dari sekedar kehidupan “rumah tangga’.
Penasaran?
ah baiknya aku tulis kisah lengkap di episode selanjutnya saja yaaa...
See you on another part... hihiiwww
aku bukan Milea, Aku “Abinaya Maheswari” Boleh panggil Abin, Naya, Mae, atau apapun..asal jangan panggil aku “Mah...” hanya suamiku dan anak-anaku yang boleh panggil itu..Hahaha
Gak lucu ya? Gak papa, aku gak marah, gak sedih, i am OK.










