Don Quixote si Kesatria Khayalan
Don Quixote karya Miguel De Carvantes berkisah tentang seorang lelaki tua yang kebanyakan berkhayal akibat terlalu banyak membaca buku. Akibat khayalannya yang berlebihan, Don Quixote bahkan mengira bahwa dirinya merupakan seorang kesatria hebat dari La Mancha. Hal ini membuatnya pergi berkelana dan bertarung dengan orang yang dianggapnya musuh. Orang-orang yang dianggapnya musuh tersebut bahkan beberapa hanya orang biasa, orang baik.
Don Quixote membuatku berpikir tentang kisahnya yang sebenarnya cukup bisa kita temukan di dunia nyata. Mungkin tidak terdengar segila Don Quixote tapi bisa jadi sebenarnya sama saja. Tahun-tahun awal di kuliah, pasti kalian biasanya menemui senior-senior yang melakukan perekrutan anggota organisasi. Biasanya pikiran kita akan disusupi dengan ideologi-ideologi tertentu lewat perbincangan/diskusi mereka dan tentunya juga di perkenalkan dengan buku-buku tertentu. Sehingga kita bisa jadi punya pandangan dari sudut pandang tersebut. Merasa bahwa hal tersebut benar. Diri kita benar. Yang sedang kita kerjakan benar. Atau bahkan bisa jadi menganggap diri kita dan yang kita kerjakan ini keren banget deh pokoknya dan yang lain salah. Katakanlah kita jadi merasa kesatria dengan misi tertentu seperti Don Quixote.
Sebenarnya tidak ada salahnya punya keyakinan tertentu akan suatu hal. Akan menjadi salah jika pada akhirnya karena keyakinan tersebut kita jadi menutup penglihatan kita dari sudut pandang lain. Toh, bisa jadi sebenarnya kita sedang salah. Intinya, berkeyakinanlah secara sadar.
Selain itu, di cerita ini dikatakan bahwa buku-buku Don Quixote dibakar oleh pendeta dan keponakannya karena dianggap menjadi sesuatu yang membawa pengaruh buruk bagi Don Quixote. Di dunia nyata kita juga bisa temui kejadian yang sama. Seringkali buku-buku dianggap berbahaya, sehingga akhirnya disita dan dibakar. Padahal kalau dipikir lagi, bukunya tidak salah. Seperti Don Quixote yang terpengaruh oleh buku yang berkisah tentang kesatria, apakah orang lain yang membaca buku yang sama bersikap sama dengan Don Quixote? Nah, tentu saja belum tentu. Beberapa barangkali hanya menjadikannya sebagai buku hiburan saja atau mengutip pesannya dengan cara yang berbeda dari Don Quixote.
Aku agak susah untuk mengurai isi pikiranku tentang buku ini kedalam tulisan. Soalnya pikiranku sedang ramai belakangan ini. Mungkin barangkali akan aku coba lagi lain kali atau kalian bisa membaca bukunya sendiri saja. Mungkin bisa jadi kalian dapat menangkap pesan yang berbeda, bukan?













