Sebuah judul lagu tempo dulu, ciptaan Ismail Marzuki – Sabda Alam
“wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutu di sudut kerling wanita”
Menurut saya mungkin lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki ini ada benarnya, pada lirik pertama tertulis ‘wanita dijajah pria sejak dulu’. Kita mundur sejenak jauh ke zaman penjajahan bangsa Eropa. Pada zaman penjajahan wanita khususnya wanita Indonesia hanya sebatas sebagai penjaga rumah dan penjaga anak-anak, jika bekerja mereka hanya bekerja sebagai tukang cuci, masak, meng-gosok. Perkerjaan yang menurut saya tidak membutuhkan tingkat intelektual yang tinggi. Terlebih mereka tidak diizinakan bersekolah. Bahkan wanita bangsawan, walapun diberi kesempatan bersekolah setelah menikah mereka hanya jadi seorang ibu rumah tangga. Tentu sangat berkaitan dengan lirik kedua yaitu ‘dijadikan perhiasan sangkar madu’.
Namun sebagai seorang muslim, saya harus melihat sejarah wanita dalam islam. Justru dahulu para wanita sudah bisa sejajar denga pria. Sebut saja Siti Khadijah istri pertama Nabi Muhammad SAW, sebelum menikah dengan Nabi Muhammad beliau merupakan pedagang yang sukses dan bangsawan di kota Mekah. Lalu ada aisyah bin Abu Bakar, beliau memaikan peranan penting dalam dunia politik terhadap khalifah ketiga dan keempat. Dan terakhir adalah Fatima, beliau adalah seorang paling terpelajar di al-Andulus sekitar abad akhir ke-12. (sumber : projekdialog.com)
Yaa… lirik pertama dan kedua dalam lagu tersebut jelas – jelas salah. Namun, tidak sepenuhnya salah karena di lirik ketiga dan keempat sudah jelas ada kalanya wanita yang Berjaya. Sudah cukup berbicara tentang sejarah, saatnya berbicara wanita saat ini khususnya wanita Indonesia. ada sebuah pepatah mengatakan “dibalik pria sukses ada wanita hebat dibelakangnya”. Menurut saya pepatah itu ada benarnya namun ada salahnya juga, benar jika pria tidak akan sukses jika tidak ada wanita hebat dibelakangnya yang mengurus segala kebutuhan beliau, mulai dari bangun tidur menyiapkan sarapan agar bekerja dengan baik sampai menjadi pendengar setia dan pemberi saran dikalau ada masalah dalam pekerjaannya. Namun pepatah itu juga salah, karena wanita juga bisa hebat di depan para pria. Banyak sudah menjadi contoh, seperti Liliane Bettencourt merupakan bos besar dari L’Oreal, Alice Walton pendiri Wal Mart, Jacqueline Mars pemilik pabrik permen M&M, Milky Way, dan Dove chocolate. Tidak hanya wanita Luar negeri saja, Indonesia juga memiliki wanita hebat sebut saja Dian Wahyu Utami atau sering kita sapa Dian Pelangi perempuan muda yang telah manaikan pasar Hijab tidak hanya di Indonesia tapi dunia. Lalu ada Putri Kuswisnuwardhani, yang sekarang menjadi CEO PT Mustika Ratu. Dan jika kamu pengguna kosmetik Wardah ternyata pendiri sekaligus CEO nya dalah seorang wanita bernama Nurhayati. Bidang teknlogi wanita Indonesia juga tidak kalah, ada seorang Catherine Hindra sebagai pendiri Ol-Shop Zalora Indonesia. Siapa bilang wanita tidak bisa Olahraga, sebut saja Pembulutangkis legenda Indonesia bernama Susi susanti yang telah meraih banyak gelar pada zamannya.
Itu sedikit banyak kisah sukses wanita zaman sekarang. Terbukti bahwa penelitian yang dilakukan di lantai bursa New York Stock Exchange. Pada tahun 2016, wanita mampu unggul dari pria dengan nilai performa -7,2 persen, sementara nilai performa investor pria berada di level -7,6 persen. (sumber : liputan6.com)
Namun, hari ini kenyataannya banyak pria yang meras minder menikah dengan seorang wanita yang berpendidikan tinggi, banyak tulisan, atau bahkan sindiran terhadap wanita yang berpendidikan. Mulai dari “ wanita berpendidikan tinggi percuma, akhirnya bakal jadi rumah tangga” sampai yang cukup keras “buat apa wanita sekolah tinggi, toh bakal kerja didapur”. Saatnya berubah, zaman sekarang tidak hanya laki – laki yang harus berpendidikan namun wanita. Kita ambil contoh yang sudah terjadi seperti keluarga saya ayah saya seorang lulusan D3 seorang wiraswasta dengan gaji tidak menentu, menikah dengan ibu saya seorang guru PNS dengan gaji tetap berserta sertifikasi sebesar 12 juta rupiah. Tentu pikiran orang dulu, gak malu nikah sama wanita seperti itu namun sekarang saatnya berubah tidak perlu minder tidak perlu malu karena nanti semua uang akan menjadi uang bersama. Dan sebagai bukti pernikahan mereka sudah berjalan sampai 24 tahun dan akan tetap seperti itu.
Kisah tersebut menggambarkan perubahan pola pikir Pria zaman sekarang, dan pola pikir yang harus dibentuk adalah “anak – anak kita berhak lahir dari ibu yang cerdas”. Anak – anak kita kelak berhak mendapatkan pendidikan pertama yang cerdas dari ibunya agar kelak menjadi anak yang cerdas.
Di bulan kemerdekaan ini, mari menjadi Wanita yang merdeka seutuhnya. Sebagai umat islam memang sebagai seorang wanita harus taat terhadap suaminya, namun perintah itu jangan dibuat sebagai penghalang untuk wanita berkarya. Sebagai seorang pria saya tidak mendukung salah satu gender, kita hidup di zaman globalisasi dimana kesetaraan gender sudah mulai terbentuk. Banyak pekerjaan pria yang sudah bisa dilakukan oleh wanita, dan ada sebuah pendapat yang saya baca bahwa gerbong KRL khusus wanita bukan implementasi kesetaraan gender. Pendapat tersebut saya nilai salah karena bukan sisi itu yang dilihat, namun bagaimana pihak yang terkait mengantisipasi kejahatan yang bisa terjadi. Sebagai penutup pesan saya hanya satu, jadilah wanita yang tangguh seperti Ibu kartini.
anak dari seorang wanita yang luar biasa