omg just stumbled upon this #mouthtowel in the wild and i'm so obsessed
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China
seen from Poland

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Belgium

seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia
omg just stumbled upon this #mouthtowel in the wild and i'm so obsessed
Hundreds of 2,000-Year-Old Gold and Silver Coins Unearthed in Netherlands
Metal Detectorists in the Netherlands Stumbled Onto Hundreds of Looted Coins From the Roman Conquest of Britain.
The 404 coins, including 44 from Britain, are believed to be a mix of military pay and the spoils of war, stashed by a Roman soldier after he returned to the European continent.
As they swept over the muddy fields of Bunnik, a village in the Netherlands’ Utrecht Province that once marked the northern edge of the Roman Empire, in 2023, two metal detectorists unearthed a remarkably extensive and diverse haul of coins from the first century C.E.
There find—a collection of 404 gold and silver coins of Roman, British and North African origin—is the first of its kind unearthed on the European continent, according to a statement.
For Gert-Jan Messelaar and Reinier Koelink, the men with the metal detectors, the historic discovery came as something of an accident. They were combing the fields for a local fruit grower’s lost tractor key in Houten when they decided to give up and go over to a nearby field in Bunnik, where they had previously found a few coins, reports RTV Utrecht’s Bas Teunissen.
Koelink made the first find: a golden Celtic coin resting near the surface of the mud. The pair found a few more loose coins—including the largest Roman coin ever found in the province—but their metal detectors would not stop beeping. Messelaar finally stuck his hand into a shallow hole in the ground, where he uncovered a stash of hundreds of coins. “Bingo,” he recalls thinking, according to RTV Utrecht.
Koelink and Messelaar used clumps of mud to keep the coins together before bringing the haul back home, where they carefully cleaned, sorted and reported their findings to cultural heritage authorities. Then, they celebrated.
“We opened a bottle of champagne,” Messelaar tells the Guardian’s Daniel Boffey. “You never find this.”
Following the detectorists’ initial discovery of 381 coins in the summer of 2023, the Dutch Cultural Heritage Agency, with the help of Koelink and Messelaar, conducted additional excavations in the surrounding areas, finding another 23 coins.
Now, the grand total of 404 coins will now join a permanent exhibition titled “The Netherlands in Roman Times” at the National Museum of Antiquities in Leiden.
Dated to between 200 B.C.E. and 47 C.E., 360 of the coins are Roman in origin. Of these, 288 are denarii, the standard silver coin, and 72 are aurei, a denser, golden coin that was originally worth 25 denarii.
Many of the Roman coins bear the portrait of Emperor Claudius, who reigned between 41 and 54 C.E. One depicts Julius Caesar, while another even rarer coin shows the likeness of Juba, the ruler of Numidia, a kingdom in northern Africa that roughly corresponds to modern-day Algeria.
Two of the Claudius coins dated to between 46 and 47 C.E. are from identical dies, suggesting they were distributed to Roman soldiers as military pay, write Anton Cruysheer, an archaeologist with the Utrecht Landscape and Heritage Foundation, and Tessa de Groot, an archaeologist with the Cultural Heritage Agency of the Netherlands, for UtrechtAltijd.
The 44 non-Roman coins are perhaps the most notable of the entire stash. The golden alloy coins, known as staters, bear the inscription “CVNO,” the first four letters of Cunobelinus, the Latin name of Celtic King Cunobelin, who reigned between roughly 10 and 42 C.E. in southeastern Britain.
Cruysheer and de Groot argue that the eclectic composition of the hoard “strongly suggests a connection to the conquest of Britain” under Aulus Plautius, a Roman general who Claudius dispatched to cross the Channel and invade the island in 43 C.E.
The wide range of dates of the Cunobelin staters, including four posthumously issued coins, indicates that the stash was removed from circulation in one fell swoop, like Roman troops looting the newly conquered territory, according to UtrechtAltijd.
Combined with the Roman coins used as military pay, the entire stash strongly resembles spoils of war. Discovered less than a foot beneath the surface, where it was probably buried in a leather pouch that has since decayed, the cache was left in a region where Roman troops were known to have amassed before the invasion of Britain.
“This is the first time that physical evidence of the return of the troops has been found,” Cruysheer tells the Guardian. “Apparently, they came back with all sorts of things. That is new information.”
By Eli Wizevich.
jannik is jumping so much today i’m loving it!!!
Run for it ...
Jane Austen's 250th Birthday Party
janeaustensociety.nl
🌸🌺💄
Thank you for visiting and sending your picture
#zaanseschans #holland #netherlands #windmill
#thenetherlands #zaanse_schans
#windmill_village_holland #amsterdam #nederland
#couplegoals #visitthenetherlands #placetobe
#travel #destination #beautifuldestinations
#iamsterdam #holland #dutch #amsterdamworld
#earth #beautifulspot #traveldiaries #solotravel
#travelling #heaven #paradise #paradise
#wanderlust #wanderer #view #pov #beautifulplacesinthewor ld🌎
Menghargai Alam
Kamu patut curiga kalau tiba-tiba saya rajin menulis di blog ini. Kemungkinan besar saya sedang melarikan diri dari sebuah kewajiban. Dan ini yang terjadi sekarang, saya sedang mencoba lari dari thesis. Saat seharusnya kata yang dirangkai sedemikian rupa menjadi mengalir, membentuk kalimat ilmiah yang membosankan sekaligus enak dibaca. Justru saat-saat seperti itu pikiran ini lari ke hal-hal lain yang sebenarnya tidak penting-penting amat.
Tapi namanya lagi buntu, mari coba beri istirahat pada otak. Di pelarian kali ini, tetiba saya teringat twit saya beberapa bulan lalu tentang orang-orang Eropa. Atau mungkin, lebih spesifik lagi yaitu orang Belanda. Twitnya bisa dilihat disini. Disitu saya tulis bahwa ada tiga hal yang saya kagumi dari cara hidup orang Londo ini: bagaimana mereka sangat menghargai alam, bagaimana mereka terlihat sangat menikmati hidupnya, dan hal-hal baik kecil yang mereka lakukan terhadap orang lain. Mungkin tulisan ini akan terbagi dalam tiga post berbeda, makanya saya ingin mulai dari yang pertama: menghargai alam.
Setelah beberapa minggu Wageningen begitu abu-abu dan dingin, akhirnya tiga hari ini cuaca cerah sekali. Rasanya minggu lalu suhu masih dibawah sepuluh derajat, namun tiba-tiba dengan mudahnya suhu mencapai 19 derajat. Bisa ditebak: semua orang berhamburan keluar. Saya, si anak tropis ini juga ikut-ikutan merayakan. Sok-sok-an makan siang di rumput dibasuh cahaya matahari. Tapi memang iya. Empat musim dengan karakternya masing-masing membuat saya lebih mengapresiasi matahari. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, memang ini ga ekuivalen. Indonesia lembab, suhu bisa sampai 34 derajat. Kebayang panasnya. Memang rasanya wajar kalau kita-kita ini lebih betah di dalam rumah, tapi ada hal lain yang membuat saya berpikir bahwa kita, atau setidaknya saya, kurang menghargai alam.
Beberapa bulan lalu saat orang tua saya mampir ke Belanda, kami mengunjungi sebuah desa kecil di dekat Utrecht. Namanya Bunnik. Menurut saya itu ga bisa disebut desa juga sih, karena kami kesana naik kereta. Ya, desa itu punya stasiun kereta sendiri. Jalan sedikit pun langsung ketemu Albert Heijn, sang supermarket andalan. Cari apapun disana ada. Tapi karena yang tinggal di Bunnik itu kebanyakan orang tua, makan citra tempat itu menjadi ‘desa peristirahatan’.
Yang kami kunjungi disana pun seorang pensiunan, yang konon merupakan seorang astronom. Beliau tinggal di sebuah rumah kecil yang nyaman. Sekitar setahun yang lalu istrinya meninggal, sehingga dia sehari-hari beliau hanya tinggal sendiri. Tapi anaknya sering mampir. Konon astronom ini punya ikatan tersendiri dengan Indonesia. Kalau tidak salah dia lahir di Lombok, namun melarikan diri ke Australia saat perang kemerdekaan dan akhirnya sekeluarga kembali ke Belanda. Sekitar 10 tahun yang lalu, beliau sering sekali mampir ke Indonesia. Akupun pernah bertemu dengannya beberapa kali saat masih kecil. Makanya, kami senang sekali saat akhirnya bisa berkunjung ke rumahnya.
Tentu saja kami mengobrol banyak. Awalnya, kami diajak melihat kebunnya yang begitu terawat yang sepertinya sangat terikat buatnya. Dia punya cerita panjang lebar untuk setiap tanaman yang ada di tamannya. Lalu, beliau mengajak kami berjalan-jalan sore, berkeliling kompleks rumahnya. Kami pun bersiap. Sang astronom mengenakan stelan jalan-jalan sorenya: sepatu trekking, topi hiking dan semacam alat yang membuat bagian bawah dari celananya tertutup. Mungkin untuk menghindari serangga yang iseng masuk.
Perjalanan kami begitu santai. Lalu kenapa ini spesial? Yang membuatku kagum adalah cerita-cerita beliau sepanjang perjalanan. Bagaimana beliau mampu menyebutkan macam-macam spesies tanaman yang kami temukan, cerita tentang suasana tepi sungai saat musim dingin, bagaimana sungai ini bisa meluap saat musim panas dan surut saat musim dingin, petikan bunga-bunga kecil yang beliau berikan pada ibuku, tupai lompat yang ia tunjukkan padaku, biji hazelnut yang bisa dimakan. Sepanjang perjalanan, kami sering sekali berpapasan dengan orang. Sepasang kakek nenek yang menikmati udara sore seperti kami, sepasang anak muda yang sepertinya sudah berjalan kaki dari kota Zeist yang jauh disana, anak-anak kecil yang memancing di pinggir sungai, orang-orang enerjik yang mendayung perahu kano nya.
Perjalanan itu terasa begitu sederhana dan begitu menyenangkan. Cerita-cerita sederhananya membuatku senang. Bukan, beliau bukan ahli biologi; beliau hanya seorang yang mampu mengapresiasi alam. Beliau mencintai alam, beliau menghargai lingkungannya sehingga dia mampu bercerita banyak tentang alam. Seperti dia mencintai halaman rumahnya sendiri.
Sekembalinya aku ke rumah, pikiranku terasa segar. Refreshing itu ternyata sesederhana jalan-jalan sore. Ini membuatku berpikir tentang apa yang biasanya aku lakukan saat aku punya wakti luang di Indonesia. Udara panas biasanya membuatku betah di dalam kamar, tanpa sedikitpun menengok ke bentang alam yang hanya beberapa ratus meter dari rumah. Rasanya aku terlalu sibuk dengan teknologi, hingga lupa bahwa kebahagiaan itu sangat dekat.
Sesederhana jalan-jalan sore.
Sesederhana mengenali tanaman.
Sesederhana menghargai alam.
A white world Near Bunnik, January 2017 http://vsco.co/wiersm/media/5a6b806e22e4bc472ddc2cb9?share=MTUxNjk5NDY3OA%3D%3D