Awal bulan ini alhamdulillah dapet kesempatan untuk nonton pertandingan Arsenal langsung di stadion. Walaupun bukan di Emirates Stadium, tapi di PSV Stadion dikelilingi suporter fanatik PSV, pengalaman ini tetap berkesan, karena.. Sepanjang yang aku bisa ingat, aku suka banget Arsenal.
Waktu ngobrol sama kolega di kantor bahwa aku mau nonton pertandingan Arsenal, mereka bingung: kok bisa suka Arsenal? Mungkin buat mereka aneh, karena aku orang Indonesia, seneng klub bola yang asalnya dari London. Sepertinya bagi mereka, ngefans sama klub bola itu umumnya berawal dari lingkungan. Misalnya Jeroen tinggal di Amsterdam, ya jadinya suka Ajax. Atau Bart lahir dan besar di Den Haag, jadinya ngefans sama ADO Den Haag.
Menjawab pertanyaan itu, aku selalu bilang bahwa aku suka Arsenal karena waktu kecil dulu aku suka main FIFA. Waktu masih kecil, aku ga ngerti cara ganti tim, dan karena Arsenal berawal dari huruf A, Arsenal selalu jadi pilihan default. Jadilah aku main pake Arsenal terus, dan.. Kebawa sampai sekarang.
Itu memang salah satu alasan kenapa awalnya aku suka sama Arsenal. Tapi setelah dipikir lagi, aku suka Arsenal bener-bener sepanjang yang aku bisa ingat. Kalau ngeliat cerita di atas, aku mulai suka Arsenal itu berarti dari sekitar tahun 2002, waktu aku kelas 2 SD: tahun dimana aku disunat dan dapet kado PlayStation hahaha 😂 Lebih dari 20 tahun yang lalu, selama itu! Apa sih yang bikin aku suka Arsenal?
Lanjut begitu aku masuk SMP, sepanjang yang bisa aku ingat, rasa suka ke Arsenal makin kuat karena waktu itu ada semacam demam bola di pergaulanku. Hampir setiap anak laki-laki punya klub bola favorit, dan karena Arsenal bisa dibilang satu-satunya klub bola yang aku tahu, ya aku jadinya mulai bener-bener ngikutin Arsenal. Inget banget waktu itu Arsenal menang (secara mengejutkan) lawan AC Milan di babak gugur di Champions League, tentu saja aku membangga-banggakan tim ini di depan Gazza, temanku yang kebetulan fans AC Milan 😊
Di periode ini, Arsenal tentu saja tidak lepas dari sosok pelatih bernama Arsène Wenger. Buatku, Wenger adalah sosok kharismatik yang punya filosofi yang keren. Caranya menjawab pertanyaan dalam wawancara elegan. Sepakbola yang dia pertontonkan atraktif. Aku juga selalu kagum atas filosofinya "We don't buy superstars, we make them". Buatku ini keren, karena disaat tim-tim lain belanja pemain dengan harga yang mahal, Arsenal selalu bisa menemukan jalannya sendiri dengan tidak jor-joran beli pemain-pemain mahal. Pemain itu entah datang dari akademinya sendiri, atau pemain low profile dari liga kasta 2 di Perancis. Arsenal mengembangkan pemain itu sendiri menjadi pemain hebat yang digemari fansnya. Di saat yang sama, Wenger juga berhasil membangun stadion baru.
Di sisi lain, periode ini sebenarnya meninggalkan memori-memori yang sebenarnya ga terlalu baik 🥲 Ditinggal Cesc Fabregas ke Barcelona, kalah di Piala Carling karena blunder Koscielny, dibantai MU 8-2 di awal musim 2011-12, ditinggal Robin van Persie ke MU saat lagi sayang-sayangnya.. Filosofi tadi kadang memang sering bikin frustasi juga, karena seringkali lanjutan kalimatnya adalah "We don't buy superstars, we make them and then we sell them to our rivals" 😂 Anyways.. Walaupun periode ini tidak berbuah trofi, buatku periode ini adalah salah satu fondasi penting mengapa aku sangat mengagumi klub ini. Arsenal adalah klub yang berkelas dan punya filosofi yang kuat.
Waktu aku kuliah, rasa frustasi itu cukup terobati saat Arsenal mendatangkan Mesut Özil. Setelah sekian lama, akhirnya Arsenal BELI seorang superstar, bukan ngejual.. Dan bukan sembarang pemain bintang, tapi seorang Özil! Pemain elegan yang mampu membuat operan-operan cantik.. Arsenal banget! Hal ini pun berbuah manis, karena di akhir musim 2013-14 Arsenal akhirnya berhasil juara FA Cup 🥰 penantian hampir 10 tahun huft..
Periode ini dilanjutkan dengan beberapa trofi FA Cup lagi. Menyenangkan. Tapi walaupun begitu, di periode ini aku ngerasa bahwa Arsenal di bawah asuhan Wenger telah mencapai titik jenuhnya. Stagnan, kayanya ga akan bisa nanjak lagi. Sampai pada titik dimana aku tidak terlalu ngikutin Arsenal se-intens itu lagi, dan akhirnya Wenger mundur.. Setelah 22 tahun di Arsenal. Sejujurnya, kepergian Arsène jadi salah satu memori yang cukup emosional. Aku inget banget nonton pertandingan terakhir Wenger di Emirates dari layar laptopku di kamar kecilku di Dijkgraaf. Selama lebih dari 15 tahun, bagiku Arsenal ya bersinonim dengan Arsène Wenger. Momen kepergian Wenger jadinya berasa surreal.. Sampe aku foto-foto layar laptopku dulu heheh 😊
Kursi pelatih Arsenal akhirnya diisi oleh Unai Emery. Kehadiran pelatih baru ini jadi angin segar, seakan-akan antusiasme untuk ngikutin Arsenal jadi tumbuh lagi. Walaupun semua berawal dengan baik, antusiasme itu ga berlangsung lama dan akhirnya Emery dipecat..
Sampai akhirnya kursi pelatih diisi oleh seorang pelatih muda, mantan kapten Arsenal sendiri, Mikel Arteta. Sejujurnya, awalnya aku agak skeptis dengan penunjukan ini. Arteta belum punya pengalaman jadi pelatih utama. Dia memang jadi asisten pelatih di Manchester City sebelumnya.. Tapi nunjuk pelatih tanpa pengalaman menjadi pelatih utama, untuk melatih klub sebesar Arsenal?!
Tapi heyyy, disinilah Arsenal kembali dengan filosofinya. Dulu, waktu Arsenal mengangkat Wenger jadi pelatih, Wenger bukanlah sosok yang tersohor. Sebelum melatih Arsenal, dia melatih sebuah klub di Jepang, dan tiba-tiba.. Dia dipanggil untuk melatih klub sebesar Arsenal. Dan lihat apa yang berhasil dia capai di klub ini. Arteta juga sama, (relatif) belum dikenal di dunia kepelatihan, pengalamannya belum begitu banyak. TAPI.. Dia mantan pemain Arsenal sendiri, punya pengalaman jadi kapten, tau klub ini luar dalam dari perpektif pemain.. One of our own. Siapa yang ga mau orang seperti itu jadi pelatih klub kesayangannya?
Perjalanan awal Arteta, walaupun diawali dengan trofi FA Cup, cukup berat untuk diikuti. Dua tahun awal kepelatihannya banyak sekali naik turun. Hanya menang satu pertandingan dari entah berapa banyak pertandingan, ga ngegolin di berapa pertandingan.. I went through it. Tapi.. Aku melihat identitas dan filosofi klub ini tetap dipegang teguh. Dan lihat apa yang dia capai sekarang. Bagaimana dia membangun tim, menjadikan Arsenal tim yang bisa mendikte pertandingan. Arsenal lagi-lagi menemukan jalannya sendiri; menemukan sosok pelatih yang kharismatik, berkarakter dan sejalan dengan filosofi klub di sosok Mikel Arteta.
Aku suka Arsenal karena klub ini menghargai proses. Tidak asal-asalan beli pemain. Timnya adalah kombinasi antara pemain bintang dan pemain akademi didikan sendiri yang berhasil menembus tim utama atas kerja kerasnya sendiri. Arsenal tidak senang acak-acak stafnya sendiri dan gonta-ganti pelatih seenaknya. Tentu saja ada klub seperti Manchester City atau Real Madrid yang berhasil meraih sukses dengan investasi besar-besaran, atau klub seperti Chelsea yang senangnya ganti-ganti pelatih sampai bisa juara. Tapi semua itu sangat asing buatku, bahkan terdengar artifisial. Itu semua bertentangan dengan apa yang aku percaya sebagai proses. Apalah arti trofi tanpa perjalanan yang bisa diingat?
Aku membayangkan bahwa kebanyakan orang suka akan suatu klub karena masa jayanya. Fans Manchester United, kenapa mereka suka MU? Mungkin karena mereka menyaksikan kehebatan timnya dibawah asuhan Sir Alex Ferguson. Atau fans Chelsea, suka klubnya karena pernah menang Champions League. Ga ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja di kasusku, ini justru agak berkebalikan. Arsenal mengalami masa keemasan di awal tahun 2000-an, tapi aku justru mulai benar-benar menyukai Arsenal saat Arsenal mulai terjatuh, di awal 2006-an. Saat dimana Arsenal memulai prosesnya..
Aku kira, itulah mengapa aku suka Arsenal. Aku melihat Arsenal sebagai klub yang punya identitas yang kuat. Klub yang teguh akan filosofinya. Klub yang percaya akan proses. Klub yang elegan dan berkelas.
Lebih jauh lagi, klub ini mencerminkan apa yang aku ingin capai dalam hidup. ☺️