Ngopi, Kalau Bisa
Aku dan istri punya hobi yang sederhana. Hobi yang utama adalah jalan-jalan. Kalau jalan-jalan ngapain? Makan, cari restoran enak, nyoba jajanan-jajanan baru. Mampir ke toko-toko lucu tempat orang-orang kreatif mengekspresikan karyanya. Kalau udah capek, kita cari kafe lucu, duduk, ngopi. Ngobrol ngalor ngidul, dari hal-hal serius sampai hal-hal yang ga penting-penting amat. Pokoknya larut dalam suasana kafe yang desain interior dan atmosfernya nyaman, buah pemikiran jiwa-jiwa kreatif yang mendesain kafe ini sedemikian rupa.
Di Eropa, distrik-distrik kreatif semacam itu mudah sekali ditemukan. Dari Amsterdam, Innsbruck, Paris sampai London, setiap kota punya distrik kreatifnya masing-masing dengan ciri khasnya tersendiri. Apalagi di Tokyo. Dan yang bikin aku kagum, distrik-distrik semacam ini juga bisa ditemukan di Indonesia.
Tontonan kami di YouTube membuat kami menemukan distrik-distrik serupa di Indonesia. Ada Blok M di Jakarta, Pasar Cihapit di Bandung, Prawirotaman di Jogja, Seminyak di Bali. Suasana kreatifnya kerasa banget. Kalau masuk kafenya, suasananya lucu-lucu, banyak minuman-minuman inovatif. Makanannya selalu bikin trend baru, enak, kreatif. Banyak toko-toko pernak pernik yang menghargai karya seniman. Hotel dengan arsitektur yang sangat berselera juga menjamur.
Terus apa yang membedakan Jakarta, Bandung atau Jogja dengan Amsterdam, Paris atau London?
Jalanannya di sekitarnya ga rapih, trotoarnya belang bentong. Distrik kreatifnya ada, tapi nyempil di antara labirin yang amburadul. Cara paling nyaman kesana adalah dengan kendaraan sendiri, atau mungkin naik taksi supaya setidaknya ga nyetir sendiri kalau terjebak macet. Pas sampe, mesti sabar dipalak tukang parkir liar yang entah kapan jadi pemilik sah seluruh trotoar di republik ini. Ada preman yang "menjaga keamanan" dengan cara yang tidak pernah membuat nyaman.
Suasana kaya gitu, sayangnya, udah jadi latar belakang yang begitu familiar sampai orang tidak lagi mempertanyakannya.
-
Suatu hari, saat nonton suasana distrik kreatif di Bandung, istriku nyeletuk: “Ngapain sih kita jauh-jauh tinggal di Belanda? Kayaknya tinggal di Indonesia aja udah enak."
Aku diam merenung.
Karena sebenernya, yang dicari bukan *kafe-kafe lucu*nya.
Yang kita cari adalah bagaimana kita bisa pergi ke kafe itu dengan nyaman. Gimana kita bisa kesana tanpa harus punya kendaraan pribadi. Naik transportasi umum yang bisa diandalkan. Pulang tanpa was-was. Yang membuatku bertahan di Belanda, setidaknya untuk saat ini, adalah, bagaimana aku bisa menjadi orang biasa, tapi tetap bisa untuk bisa ngopi di kafe di akhir pekan.
Bagaimana aku bisa fokus bekerja, sesuai dengan kepakaranku, tanpa khawatir bagaimana kalau tiba-tiba kontrakku diputus, karena aku tau ada pemerintah yang melindungiku dan akan hadir untukku kalau hal semacam itu terjadi. Bagaimana aku sebagai orang biasa bisa terus berkarya tanpa khawatir kalau tiba-tiba jatuh sakit, karena ada sistem kesehatan yang akan menanggung biaya pengobatanku. Bagaimana saat tiba masa pensiunku, aku bisa menikmati tabungan pensiunku, tanpa khawatir ada orang yang menyalahgunakannya, karena pemerintah akan bertanggung jawab atas itu.
Hidup di Indonesia itu nyaman kalau punya uang. Fakta menyakitkan, yang sayangnya benar. Betapa tidak adilnya kalimat itu. Betapa besar yang tersembunyi di baliknya, bahwa kenyamanan adalah privilese, bukan hak. Bahwa kenyamanan hanya ada untuk yang mampu membayar kehadirannya.
Ada suatu hari dimana aku optimis akan negeri ini, karena aku yakin negeri ini tidak kekurangan orang-orang kreatif, orang-orang pintar, orang-orang yang kompeten. Buktinya ada di kafe-kafe itu, di toko-toko itu, di distrik-distrik yang tumbuh dari bawah tanpa bantuan siapa-siapa. Tapi ngeliat rentetan berita dan perkembangan beberapa tahun ini, dimana orang-orang yang jelas-jelas tidak kompeten mengisi jabatan penting. Orang yang justru memberi dampak nyata malah dikriminalisasi. Proyek yang jelas penghamburan uang dibiarin gitu aja, bahkan dirayakan.
Aku ga pernah se-pesimis ini ngeliat masa depan negeri ini.
Analogi kafe di atas cuma contoh kecil dari setumpuk hal yang membuatku pesimis akan negeri ini. Atas semua keluh kesahku ini, kesimpulanku hanya satu: negara ini memang ga pernah hadir buat rakyatnya sendiri.













