RETAK
ada keheningan tertentu
yang hanya lahir setelah seseorang
mengambil lebih banyak dari yang pantas ia sentuh
bukan karena ia butuh,
tapi karena ia merasa mampu.
lalu pergi dengan wajah paling polos,
seakan tidak pernah membawa apa pun dariku.
ada luka yang tidak mencari sorotan,
tidak meratap,
tidak menagih siapa pun untuk datang.
ia hanya bersembunyi rapi
di antara tulang dan napas,
membusuk perlahan,
seolah kehancuran bisa menjadi hal yang teratur.
akulah luka itu.
dan kau adalah tangan
yang menusuknya dalam-dalam,
dengan keyakinan bodoh
bahwa aku akan lupa
berapa dalam kau menekannya.
aku pernah percaya pada hangatmu,
yang ternyata hanya serpihan api
yang tak pernah kau niatkan untukku.
kau biarkan aku menggenggamnya
sampai jariku hangus,
lalu berpaling
seakan warna merah di kulitku
bukan akibat dari kamu.
kau pikir diamku lunak.
kau kira aku hanya terluka.
padahal diamku adalah pisau
yang sengaja kubiarkan berdiri,
tanpa nama, tanpa suara,
tapi menunggu tepat di titik
yang paling kau anggap aman.
aku tidak mencari alasanmu.
aku tidak membuka pintu.
aku tidak berharap kau kembali.
aku bahkan tidak menyiapkan tempat
untuk bayanganmu.
aku hanya membiarkan waktu
menyampaikan sisanya kepadamu,
perlahan, dingin,
dan tak bisa kau hindari.
karena tidak semua kehilangan
datang sebagai gempa.
beberapa datang sebagai kesadaran kecil
bahwa kau tidak lagi punya ruang
di hidup seseorang, terutama di hidupku.
dan inilah yang tidak bisa kau beli,
tidak bisa kau tenangkan,
dan tidak bisa kau sulap kembali:
aku tidak bisa memaafkan kejadian ini.
bukan hari ini, bukan ketika semuanya mereda,
bukan ketika kau pura-pura menyesal nanti.
luka ini bukan untuk ditebus.
ia untuk dikenang,
agar kau mengerti apa yang sudah kau hancurkan.
aku melepaskanmu
tanpa teriakan,
tanpa ampun,
tanpa doa baik.
sunyi, ya…
tapi sunyi yang mengiris,
sunyi yang berdiri tegak,
sunyi yang tidak lagi mengenal namamu.
dan bila suatu hari
ada gigitan kecil di hatimu,
mengusik tepat di tempat
yang kau kira tak akan pernah terusik,
ingatlah,
itu bukan kutukan,
bukan dendam yang melolong.
itu mungkin cara paling lembut
semesta membalasmu
atas sesuatu
yang kau biarkan pecah
di tanganmu sendiri.
— dna. | 22 November 2025









