Co-parenting Diary #01 : is lonelier than i thought.
Ternyata setelah semuanya selesai, yang paling sulit bukan menerima bahwa seseorang sudah tidak lagi tinggal di hidupmu.
Tetapi menerima bahwa setelah cintanya pecah, hidup tetap berjalan.
Anak tetap tumbuh. Hari tetap pagi. Sedangkan dua orang yang bahkan sudah tidak tahu cara saling memandang satu sama lain dengan utuh, tetap harus belajar jadi rumah untuk anak yang sama.
Tidak pernah terbayangkan kalau menjadi Ibu suatu hari akan terasa seperti ini: penuh hitung-hitungan yang menyakitkan.
Menghitung hari. Menghitung waktu untuk bertemu. Menghitung siapa lebih lama bersama dia minggu ini. Menghitung perubahan kecil yang mungkin bahkan tidak aku lihat lagi karena aku tidak ada di sana.
Dan yang paling menyiksa adalah kenyataan bahwa rasa kehilangan ternyata bisa hadir tanpa benar-benar mengambil seseorang darimu.
Karena anaknya masih ada. Masih memanggilku Ibu. Masih memelukku seperti biasa. Tapi ada bagian dari hidupnya yang pelan-pelan berjalan tanpa aku tahu.
Dan aku takut mengatakannya dengan keras, karena terdengar egois, tapi memang seseram itu rasanya.
Seseram menyadari bahwa suatu hari nanti mungkin aku tidak lagi tahu lagu apa yang sedang dia suka. Tidak tahu dia akhir-akhir ini susah makan atau tidak. Tidak tahu dia sekarang terbiasa tidur sambil mendengar cerita apa. Tidak tahu siapa yang dia cari pertama kali ketika bangun tidur.
Padahal dulu aku ada di semua detail kecil itu.
Dulu hidup terasa sederhana. Kami hanya bangun pagi, menjalani hari, lalu tidur lagi. Tidak pernah terpikir bahwa suatu hari nanti kebersamaan akan berubah jadi jadwal yang harus disepakati.
Sekarang semuanya terasa seperti sedang belajar berjalan di atas kaca. Semua percakapan harus hati-hati. Semua keputusan terasa sangat sensitif. Semua kata bisa berubah jadi pertengkaran atau diam yang lebih panjang lagi.
Dan lucunya, di tengah semua kekacauan ini, aku masih dituntut untuk tetap terdengar tenang.
Padahal isi kepalaku berisik sekali.
Ada hari-hari ketika rasanya ingin marah karena merasa ditinggalkan dari kehidupan anakku sendiri. Tapi di waktu yang sama, aku juga tahu di seberang sana ada seseorang yang sama kacaunya, sama takutnya, sama hancurnya.
Akhirnya kami hanya jadi dua orang yang sama-sama lelah, mencoba terlihat kuat demi satu anak kecil yang bahkan belum benar-benar mengerti kenapa rumahnya sekarang terbagi dua.
Mungkin memang begitu bentuk dewasa yang paling menyakitkan: ketika perasaan pribadi harus terus ditelan supaya anakmu tidak ikut tenggelam di dalamnya. Dan aku rasa orang-orang tidak pernah benar-benar membicarakan bagian ini : bahwa co-parenting bukan cuma soal bagi waktu, bukan cuma soal siapa lebih mampu, dan ukan cuma soal siapa yang lebih sering ada. Tapi tentang bagaimana cara tetap menjadi orang tua di tengah rasa kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai? Bagaimana cara menerima bahwa anakmu akan tetap tumbuh, bahkan di hari-hari ketika kamu merasa tertinggal dari hidupnya sendiri?
Dan mungkin itu sebabnya akhir-akhir ini rasanya melelahkan.
Ternyata menjaga hati sendiri tetap utuh sambil memastikan anakmu tetap merasa dicintai dari dua arah sekaligus… jauh lebih sulit dari yang pernah aku bayangkan.
— dna | 11 Mei 2026












