Yang Fatal dari Sebuah Realita Bernama Cacingan
Kamis lalu saya mengikuti kelas Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Setiap ingat singkatan PPM selalu ingat PPMnya Haka alias Praktek Pengabdian Masyarakat wqwq. Yang saya suka dari kelas PPM adalah selain membicarakan proses pemberdayaan masyarakat menjadi kader kesehatan, juga dosennya yang selalu mengembangkan diskusi-diskusi menarik dengan gayanya yang kocak bernama pak Adi. Sudah beruban tapi tetep berfikiran sesuai jaman. Asli, kocak. I like ur style deh pak Adi.
Kamis itu kami mempelajari dua pembahasan berbeda tapi yang mau coba saya share disini adalah tentang Cacingan. Kebetulan kelompok PPM saya mendapat tugas kunjungan ke NGO yang telah bergelut memberantas cacingan sejak tahun 87 yaitu Yayasan Kusuma Buana (YKB) di daerah Tebet, walopun aslinya saya nggak ikut kunjungan dan cuma ngedit video hehe.
Beberapa hal penting yang harus kita ketahui tentang cacingan adalah:
1. Cacingan ada sejak dulu kala. Tahun 1986 YKB mensurvey salah satu sekolah dasar di Jakarta dan prevalensi anak-anak yang terkena cacingannya mencapai 82,6%. Pada kondisi yang sama, Jepang telah lebih dulu memberantas cacingan pada tahun 45 dan berhasil menurunkan prevalensi cacingan dari 60% menjadi kurang dari 0,02% dalam waktu 10 tahun. Sedangkan Indonesia butuh waktu 20 tahun karena perbedaan kedisiplinan masyarakat dan sanitasi lingkungan kita tidak sebaik Jepang
2. Ada perbedaan yang besar antara pemberantasan cacingan versi pemerintah dengan organisasi non-pemerintah. Karena cakupan masyarakat yang harus dijangkau terlalu luas dan banyak akhirnya pemerintah memakai sistem ‘blanket treatment’ yakni memberikan obat cacing kepada semua anak. Mau si anak-anaknya cacingan ato nggak, kasih aja. Cara yang mudah, cepat, tapi nggak bener. Padahal baiknya mencegah dan memberantas cacingan dengan selective treatment. Seperti yang dilakukan oleh YKB yaitu melakukan pemeriksaaan gejala juga sampel tinja/feses anak. Jadi hanya anak yang positif cacingan yang akan diobati dan diperiksa lagi setahun dua kali. Dengan blanket treatment, jelas tujuan tidak tercapai dan prevalensinya nggak jelas ada perubahan/penurunan atau tidak karena tidak dievaluasi dan pemerintah nggak tau mana yang cacingan mana yang nggak cacingan. Ya tho?
3. Yang paling fatal lagi, blanket treatment membuat stigma di masyarakat bahwa mencegah cacingan adalah dengan minum obat cacing. Padahal orang yang cacingan lalu minum obat cacing nggak berarti bahwa dia kebal terhadap cacing gelang dan bakal bersih dari cacing kalau makanan yang dimakan mengandung kontaminasi cacing atau nggak menerapkan perilaku hidup bersih. Jadi memberantas cacingan itu bukan cuma dengan obat cacing, tapi lebih penting lagi perilaku hidup bersih dan sehat.
Fun and fact: dalam sekali siklus hidupnya, 1 cacing gelang bisa menghasilkan 200.000 telur cacing. Jadi bisa dibayangkan tinja/feses yang dikeluarkan anak cacingan terutama yang bertinja sembarangan (seperti di got atau sungai) dan mengandung telur-telur cacing itu terbawa angin atau mengontaminasi lingkungan yang sanitasinya buruk. Dan coba bayangkan juga para penggiat pemberantasan cacingan yang harus memeriksa sampel tinja anak-anak di sekolah dengan jarak hanya 3-5 cm dari mikroskop :”)
“Bahkan fesesnya artis cantik sekalipun pasti tetap menjijikkan toh..” kata Pak Adi yang disambut tawa mahasiswa lalu kemudian mengangguk-angguk ada benarnya. Nah jadi yuk kita jaga adik-adik kita, sepupu, saudara, ponakan dari ancaman cacingan karena masa anak-anak adalah masanya berani kotor itu baik. Habis main kotor-kotoran langsung minta mereka untuk cuci tangan ya apalagi sebelum nyomot makanan. Karna telur cacing itu kecil dan tak terlihat hehe.
Semoga bermanfaat! :)
Depok, 17/3/17









