Refleksi H-1 Bulan Menuju 2 Tahun
Semalam instagram storynya Apik, istrinya Masgun lewat di timelineku. Mbahas seru tentang refleksi tahun tahun awal pernikahan, berkaca dari vlognya Ayu Dewi dan Nia Ramadhani yang juga bahas tentang hal yang sama.
Sembari menyiapkan tulisan untuk misi terakhirku di Matrikulasi Ibu Profesional, aku juga merefleksikan 2 tahun pertama pernikahanku yang... banyak emot nangis ketawanya😂😂😂😭😭😭
Misi terakhir matrikulasi ini spesial, para ibu diminta menulis surat. Kalau sudah menikah, menulis untuk suami. Berhubung diriku adalah manusia yang lebih suka menulis dibanding berbicara, misi ini tentulah mudah. Sejak awal menikah hingga hari ini, terhitung sudah sangaat sering menulis surat/note/email/chat panjang untuk suami.
Para pejuang LDM pasti ngerti rasanya, kalo kita mau cerita banyak di ujung hari tapi suami disana lagi capek dan tidur duluan. Sedih ya😂 tapi ya apalah satu satunya cara kuungkapkan dengan chat panjang. Cerita kalo hari ini aku begini, ngerjain ini inu. Sekedar mengungkapkan perasaan dan menyalurkan jatah puluhan ribu kata yang perlu tempat pengeluaran.
Di ulang tahun pertama pernikahan, akupun merangkum tulisanku untuk suami dan curhatan perasaan ke dalam sebuah buku. Kadang dengan tulisan, maksudku bisa lebih tersampaikan. Maklum, tipe individu yang bahasa cintanya dengan tulisan.
Setelah tidak LDM lagi, aku tetap suka menulis untuk suami. Hadiah ulang tahun suami kemarin juga menyelipkan notes yang sudah berisi 28 hari tentang bojo (karena ulang tahunnya tanggal 28). Dan suami tetap sama, tidak pernah menulis balik untuk istrinya karna memang tidak bakat menulis ala ala gombal puitis wkwk.
Aku mulai menerima perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami, meski kadang tetap menyampaikan harapan untuk dikasih kejutan dengan tambahan sticky notes atau surat yang entah kapan. Tips biar tetep bahagia mah jangan berharap lebih dan rendahkan ekspektasi biar ga terlalu sakit ya mak *eh
Menerima dan menghargai bahasa cinta diantara kami yang berbeda. Aku yang puitis dan lebih suka dengan kejutan, hadiah dan tulisan. Suami yang lebih suka menunjukkan dengan gestur sentuhan dan langsung dengan tindakan. Kalau mau memahami lebih jauh, suamiku itu lebih romantis karna cintanya ditunjukkan secara realistis. Bukan ala drama korea.
Jadi kalau lagi ngambek, aku diam diam suka terharu dan bersyukur dalam hati karna pengorbanan suami. Ternyata sudah sejauh ini kami melewati tahun-tahun pertama pernikahan.
Kalau kata buku Lagom (hidup seimbang ala orang Swedia), be Kind itu penting untuk menjaga harmoni sebuah hubungan. Sederhana saja, seperti membuatkan kopi pagi hari, atau menyelipkan note personal di buku pasangan. Hal itu yang sering kulakukan. Sering iseng ngirim foto/desain ke email kerja suami. Hal sederhana biasanya justru yang mampu membuat kita tersenyum, ya kan :)
Untuk menuntaskan misi terakhir ini, kuselipkan lagi surat cinta untuk suami ke dalam tas kerja sebelum dia berangkat. Kadang yang seru itu nunggu respon pasangan ya kan hehe.
Alhamdulillah. Meski masih harus banyak belajar, sabar dan istighfar😂, juga sekaligus belajar banyakk bersyukur atas jodoh yang dipilihkanNya untuk kita. Dengan lebih dan kurangnya, insya Allah kita belajar saling menguatkan langkah menuju tujuan akhir semua manusia: syurgaNya.
Jadi beginilah refleksi Misi Terakhir sekaligus refleksi menuju dua tahun pernikahan. Diriku mendaftar Ibu Profesional atas dukungan suami, mudah-mudahan bisa menerapkan ilmu dan memberikan yang terbaik pula untuk suami, keluarga kecilku dan lingkungan sekitarku.
Terima kasih Widyaiswara, mak-mak sesama pejuang dan Institut Ibu Profesional!
Ditulis dalam perjalanan menuju Solo, 10 Juli 2020.














