
seen from Türkiye
seen from Spain

seen from United Kingdom

seen from Russia

seen from United States
seen from Indonesia
seen from China
seen from Pakistan

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Netherlands

seen from Argentina

seen from Brazil
seen from Sweden
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Moldova
we complete each other. ;p
tomorrow is a mystery versus seize the day..(appeeuuu)
Holiday Season (Edisi Jogja)
Pingin pergi liburan udah lama, tapi tertunda terus dan baru terlaksana sekarang.. Si pacar mengambil cuti, dan saya (yang tidak ada cuti-cutian) pun menyelesaikan pekerjaan seberesnya sebelum caow. Tadinya mau dimulai hari Senin, tapi apa daya hari itu saya harus ngampus dulu ada usmas (halah). Jadinya kami berangkat hari Selasa pagi (20/11) naik kereta Argowilis Bandung-Jogja. Rencana awal mau ke Pulau Karimun Jawa. Dari Jogja kami akan pergi ke Semarang, lalu nyebrang naik kapal dari Semarang ke Karimun Jawa. Tapi rencana buyar, karena salah jadwal bo! Huhu. Salah sendiri juga sih, kami tidak browsing dulu, dan seorang teman yang tahu daerah Karimun Jawa susah sekali dihubungi, walau akhirnya saat last minute bisa nyambung juga. Ternyata kata dia, kapal dari Semarang ke Karimun Jawa-nya hanya tersedia pada hari Sabtu dan Senin (dan kembali lagi pada hari Minggu dan Selasa). Sedangkan saat itu hari Rabu, huhu. Ya udah..jadinya beralih ke Bali saja..heu.. Kami berangkat ke Bali hari Kamis siang, tapi sebelum cabut dari Jogja, tentunya jalan-jalan dulu. Standar lah, Malioboro, Rotowijayan, Candi Prambanan (after “gempa”), dan wisata kuliner, hehe. Sudah lama tidak ke Jogja, dan masih menyenangkan.. Termasuk pas naik andong malem-malem kukurilingan bayarnya Rp 45 ribu, adem tapi jadi berasa turis banget. Haha, norak. Padahal buat si pacar sendiri, Jogja adalah kota-nya..huhu..saya sempat juga melongok rumahnya di sana. Yang keinget, kelakuan tukang becaknya.. Sepanjang Malioboro, semua tukang becaknya getol banget menawarkan jasanya. “Tiga ribu aja Mbak, sudah keliling-keliling kota, dari Keraton, Alun-alun, tempat perak, sampai Dagadu. Yaahh..daripada kosong Mbak, saya belum narik,” begitu kata para tukang becak itu.. Dan entah mengapa mereka serempak hobi sekali menawarkan Dagadu (padahal nampak sudah so-last-year ya, wekekek). Mungkin para tukang becak itu mendapatkan komisi dari pihak Dagadu, kalau bisa membawa pembeli ke sana. Tentu saja pada akhirnya saya tidak membayar Rp 3 ribu, karena memang jauh sekali keliling-kelilingnya. Kasihan, tukang becaknya sudah tua, harus genjot sepanjang itu pula. Keluarlah uang Rp 20 ribu, tapi dengan sukarela kok, heuheuheu. Kemudian saya sadar, gaya-penawaran-pantang mundur-ramah-dan-memelas itu lumayan bagus jadi trik menggaet konsumen. ;D Yah namanya juga usaha..heu..
Holiday Season (Edisi Bali)
Dari Jogja, kami berangkat ke Bali. We’re so excited, sampai-sampai tidak keberatan menggunakan transportasi bis malam Jogja-Bali dengan durasi sekitar 17 jam bo! Huhu. Padahal kalau naik pesawat, walau lebih mahal, tapi hanya sekitar 45 menit. Sebenarnya itu ide si pacar, katanya, menikmati perjalanan. Tapi yang ada lumayan babak belur kelamaan di bis, hauhau, tapi nggak apa-apa kok kan sedang liburan, jadi tidak diburu waktu, hehe. Jadinya ngeliatin jalanan dan hutan jati aja dari Jogja, Solo, Madiun, Sragen, nyebrang kapal sampai Gilimanuk, lalu Denpasar.. Kamis pagi (22/11) sampai Denpasar, tepatnya Terminal Ubung. Sempat mandi dulu di toilet umum, hihi. Untung bersih. Baru deh mobil carter-an kami untuk jalan-jalan hari itu datang. Harga sewa mobil Rp 250 ribu selama 10 jam. Tempat pertama yang didatangi adalah pusat seni Ubud..yang banyak penjualnya nawarin jualan sambil bilang “Cheap price..cheap price..” (pelafalan “cip praiiyss” logat Bali, hehe). Lalu sang supir Pak Komang membawa kami ke tempat monyet-monyet di Uluwatu. Wew, bagus pemandangan laut dari tebing di Uluwatu! Perut keroncongan lagi, setelah dari Pasar Sukowati, sore-sore ke Jimbaran dan tentunya makan seafood di sana. Untuk hari itu, Jimbaran adalah tempat favorit.. Ada makanan, meja menghadap laut, sunset, dan pacar di sebelah..wihii..perfect..(mulai menye'-menye' ;p).. The wind biting my face, I love it. Hari kedua, jalan-jalan lagi, dengan supir Pak Wayan.. Pagi-pagi saya nyobain sea walker di Pantai Sanur (Griya Santriyan). Jalan-jalan di bawah laut gitu, pakai helm segede gaban, melayang-layang, pegang ikan-ikan, harganya Rp 430 ribu, belum termasuk foto di dalam air seharga Rp 76 ribu/frame (nanti fotonya menyusul). Halah, sepertinya butuh kamera underwater nih. Terus ke Bedugul, tempatnya dingin mirip Lembang, tapi lebih sejuk, dan Danau Beratan-nya bagus sekali.. Halah, jadi girang. Lalu ke Tanah Lot, dan besoknya hari terakhir spent time di Kuta. Oh ya, selain Jogja, lagi-lagi Bali adalah tempatnya si pacar, heuheu, dari lahir sampai SMP dia di sini, dan kemarin sempat juga melongok daerah rumahnya.. Over all it was a fantastic holiday, kecuali pas kejadian di airport Ngurah Rai menuju Jakarta, Sabtu sore (24/11). Doh, hampir saja ketinggalan pesawat, dan nama kami pun diumumin pakai toa!! Huwihihi, kok nggak ngeh ya, malu-maluin aja. Huhu.
Selamat Hari Jadi
duo chabbbiii selamat hari jadi.. lagi.. :) semua doa baik mengiringi.. dua untuk kembali, tujuh untuk terbaikmu, dan tiga untuk bersama yang selalu ingin kuulangi
Krama
I prefer krama than keffiyeh. Huhu. Kemarin-kemarin sempat baca blog orang yang mem-posting tentang keffiyeh. Terus ada komentar begini dari pengunjungnya, “Jgn sampe pake keffiyeh ke tmpt2 yang emang ga baek, sprti bwat dugem lah, apa lah...lebih baek klo pake itu bwat hal2 positif seperti bwat ke mesjid untuk sholat berjamaah ataw bwat da'wah...”.
*halah. ;P *
Kalau di Palestina, keffiyeh dipakai warganya sebagai ungkapan ingin menunjukkan eksistensi tanah airnya. Biasanya ada tulisan “Jerussalem is Ours”, dsb. Orang-orang di luar Palestina, kalau nggak salah seperti komunitas punk di beberapa negara, juga banyak yang ikut memakai keffiyeh sebagai bentuk solidaritas mewacanakan isu-isu yang terjadi di Palestina (dengan slogan FREE Palestine). Makanya, ada yang menilai sungguh ironis kalau kain tradisional simbol nasionalisme perjuangan rakyat Palestina itu, sekarang sekadar jadi gagayaan ‘anak gaul’ keluar masuk mall. Huhu.
Well, saya nggak tertarik memakai keffiyeh, bukan karena alasan seperti di atas sih. I just don’t understand why keffiyeh become so happening. Tren kan memang suka muter-muter aja, balik lagi ke masa lalu dengan beberapa kombinasi, intinya maju-mundur. Tapi kalau tren keffiyeh ini nggak pernah terjadi sebelumnya. Dan, yang paling malas kalau sudah sangat me-massal (thanx to Nicole Richie, atau juga Nidji?, yang membawa virus ini, huhu). Dalam sehari saya bisa ngeliat beberapa biji anak SMA di Bandung (cowok-cewek) pada pakai keffiyeh di selempangin di atas baju seragamnya. Anak masa kini banget sih! Wew..
Eniwei...ini sebenarnya bukan mau ngebahas keffiyeh, tapi krama...huhu.
Krama adalah kain tradisional asal Kamboja, salah satu jenis souvenir yang paling populer dari sana. Kalau bahannya dari cotton harganya sekitar 8 $ US, kalau dari silk harganya sekitar 44 $ US.
Saya memang demen pakai slayer/pashmina, biasanya untuk ngelindungin dari panas-dingin sebagai pengganti jaket. Saya suka kain krama --seperti juga motif batik, dsb., soalnya saya memang suka sentuhan ethnic/traditional look gitu, halah, hyuuuu.
Di Kamboja, krama dikenal ber-multifungsi. Dari mulai untuk scarf, bandana, meng-cover wajah dari matahari-debu-angin, kain gendong anak, handuk mandi, lap bersih-bersih, buat dekorasi rumah, and many other purposes in the Khmer life.
Di Indonesia, waktu jaman pergerakan tahun 1998, mahasiswa, jurnalis, relawan, dll., katanya banyak yang kompak memakai kain krama untuk dilibet di lehernya pas di lapangan (entah ya, saya nggak berada di sana soalnya, heuheu). Si pacar saya juga bilang, katanya kain krama banyak dipakai para jurnalis/fotografer, sampai saat ini. Fungsinya macam-macam, kayak yang udah dijelasin di atas, dan sekalian gaya.
Di antara semua fungsi krama, ada fungsi personal dan spesifik bagi saya. For me, krama seperti apa ya..tumpuan rasa..When I haven’t seen him in a long time...I wear it then imagine he walk beside me...accompany me all my day...*anjis..curhat! huhu*
*thanx for the krama ya cang..