Jangan sampai kita mati-matian memikirkan bagaimana “cara hidup”, namun lupa bagaimana “cara mati.”
Arika Saputra

seen from Canada
seen from Germany
seen from Yemen

seen from Bangladesh

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Australia
seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from Russia
seen from Yemen
seen from Senegal

seen from Paraguay
seen from Bangladesh

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Egypt
seen from United States
Jangan sampai kita mati-matian memikirkan bagaimana “cara hidup”, namun lupa bagaimana “cara mati.”
Arika Saputra
Kematian itu pasti dan setiap bernyawa pasti akan merasakannya, minimal sekali.
Kematian telah dipastikan olehNya waktunya, cuma mungkin caranya berbeda.
Menurutku, cara mati itu kita yang menentukan.
Ada yang memang mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya dengan terus mengupgrade keimanan dan amal saleh, hingga kemudian banyak kita temukan, lihat dan dengar, si pulan meninggal saat salat, saat beribadah khusuk di mekkah dan banyak amal kebaikan lainnya.
Ada juga yang tanpa persiapan apa pun, karena mungkin kehidupan itu ya dijalani aja, senikmatnya. Kemudian tak peduli dengan tubuh yang makin ringkih, sesudahnya belakangan malah lebih sering tergolek di bangsal bangsal rumah sakit hingga napas terakhir.
Tapi ada juga yang sudah pesimis dengan kehidupan kemudian dengan nekat mengakhiri semuanya di ujung tali, baygon dan hal buruk lainnya.